SHARE

“Bangun pemudi pemuda Indonesia, tangan bajumu singsingkan untuk negara. Masa yang akan datang kewajibanmu lah, menjadi tanggunganmu terhadap nusa”.

Lirik lagu berjudul “Bangun Pemudi Pemuda” karya A. Simanjuntak, seorang pencipta lagu nasional Indonesia, mengingatkan kembali kewajiban kita sebagai bangsa Indonesia untuk menjaga negara kita, baik itu tanahnya, airnya, bangsanya, dan bahasanya. Kini, seiring perkembangan zaman dan arus globalisasi yang semakin kuat, banyak kekayaan negara kita yang mulai menghilang dan digantikan dengan kekayaan luar yang bukan milik kita. Lihatlah bahasa nasional kita, bahasa Indonesia, banyak yang menggunakannya tidak secara murni lagi. Kini banyak yang menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa asing, yang biasa disebut “bahasa gado-gado”, tanpa rasa bersalah.

Bahasa Indonesia yang telah berumur 86 tahun, sejak diikrarkan oleh pemuda dalam Sumpah Pemuda pada 1928 ini, memang telah mengalami banyak perkembangan. Baik itu perkembangan dalam kaidah penulisannya hingga kosakata yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Hingga kini, yang sering kita dengar adalah bahasa Indonesia yang sedikit-sedikit dicampur dengan bahasa asing.

Penggunaan bahasa bukan saja saat kita berbicara. Bahasa juga digunakan untuk menamakan sebuah instansi, jalan, rumah makan, benda, judul buku, dan sebagainya. Dalam judul buku sendiri, lihatlah di toko-toko buku ternama di Indonesia ini, banyak kita jumpai buku cerita (novel) yang mulai menanggalkan bahasa Indonesia dalam penulisan judulnya. Penulis buku cerita itu seakan lebih percaya diri menggunakan bahasa-bahasa asing alih-alih bahasa nasionalnya. Selain penulis, tentu pembacanya juga merasa lebih bergengsi jika membaca buku cerita dengan judul berbahasa asing.

Salah satu mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran yang gemar membaca, Syafira Yolanda (20), mengoleksi beberapa buku cerita. Dari beberapa buku cerita itu, dapat dilihat hampir setengah di antaranya menggunakan bahasa asing di dalam judulnya. Setelah dilihat lebih teliti lagi, ternyata penulisnya adalah orang Indonesia dan cerita di dalam buku itu juga menggunakan bahasa Indonesia.

Buku-buku cerita yang dimiliki oleh Syafira juga ada yang merupakan buku terjemahan. Buku yang aslinya ditulis oleh penulis asal Amerika menggunakan bahasa Inggris, namun diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di sini jelas maksud dari penerjemahan ini adalah agar pembaca Indonesia dapat pula membaca dan menikmati buku tersebut.

Pentingnya Bahasa Indonesia

Seperti para penikmat buku cerita pada umumnya, Syafira termasuk ke dalam orang-orang yang tidak terlalu mementingkan bahasa apa yang digunakan di dalam judul suatu karya. Menurut Syafira, sebenarnya isi dari buku itulah yang lebih penting daripada bahasa yang digunakan di judul. Tetapi, memang tidak bisa dipungkiri bahwa buku dengan judul bahasa asing itu lebih menarik daripada buku dengan judul berbahasa Indonesia.

“Sebenarnya enggak ada kriteria judul buku yang bagaimana yang aku baca, yah. Asalkan bahasanya enak dibaca, ya udah dibaca aja. Cuman, memang sih yang berbahasa Inggris, lebih keren gitu ketimbang yang bahasa Indonesia. Misalnya Lovasket, Refrain, gitu,” ujar Syafira, ketika ditemui di pondokannya.

Hampir senada dengan Syafira, mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang mengaku tertarik membaca karya sastra, Putri Theresia, (20), menyatakan bahwa ia tidak bisa memilih antara karya-karya yang menggunakan bahasa Indonesia secara keseluruhan ataupun “bahasa gado-gado” karena sebenarnya banyak aspek yang harus diperhatikan. Aspek-aspek itu bisa berupa pemaknaan penokohannya dan mungkin si penulis ingin menggambarkan realitas yang terjadi sekarang ini, bahwa bahasa asing khususnya bahasa Inggris memang banyak diselipkan dalam percakapan di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia.

Perkembangan waktu memang banyak mengubah keadaan, situasi, dan kondisi. Kini, menurut Syafira, penggunaan bahasa asing dinilai lebih mewah daripada bahasa Indonesia. Alasannya sama, yaitu bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, merupakan bahasa dunia yang harus dimengerti oleh semua orang di dunia ini, termasuk kita (orang Indonesia).

“Mau gimana lagi, kan. Semua orang sekarang sudah menggunakan bahasa Inggris, masa kita masih mau stuck menggunakan bahasa Indonesia saja?” ujar Syafira sambil merapihkan koleksi bukunya.

Sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris perlu dipahami. Namun, memang kita sebagai manusia tidak bisa terlepas dari apa yang disebut oleh Dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Nitrasattri Handayani, M.Hum., sebagai alih kode atau campur kode. Alih kode, kata Nitrasattri, merupakan gejala yang akan dialami oleh orang-orang yang dapat menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya sehingga saat ia berbicara ataupun menulis, terkadang ia mencampurkan kedua bahasa itu, dan itu wajar terjadi pada diri manusia. Hal itulah yang disebut Nitrasattri sebagai variasi bahasa.

Kemajuan atau Kemunduran?

            Realitas yang terjadi di dalam bahasa kita sekarang ini, bisa dipandang sebagai kemajuan ataupun kemunduran. Dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M.Hum, mengatakan bahwa banyaknya penggunaan bahasa asing di dalam judul suatu karya sastra bukanlah suatu kemunduran. Menurut Lina, yang ditemui di ruangannya di Gedung Pascasarjana FIB Unpad, Selasa, 9 September 2014, itu malah bisa disebut sebagai kemajuan dalam berbahasa.

“Lihat saja buku-buku yang ditulis oleh anak-anak yang diterbitkan Mizan, dari 150 novel Kecil-kecil Punya Karya (KKPK) yang ditelitinya, terdapat lebih dari 80% judul novelnya menggunakan bahasa Inggris,” ujar Lina.

            Penggunaan “bahasa gado-gado” itu, baik Nitrasattri dan Lina menyatakan bahwa itu tidak akan menghilangkan bahasa Indonesia itu sendiri. Bahasa Indonesia, menurut Nitrasattri, akan selalu terjaga selama masih ada penuturnya. Bahasa-bahasa yang punah itu adalah karena kekurangan penutur, dan ketika penuturnya habis, maka habis pulalah bahasa itu.

            “Bahasa gado-gado”, menurut Nitrasattri, bisa menjadikan bahasa Indonesia semakin kaya karena lama-kelamaan tentu kosakata asing yang sering digunakan itu akan diserap oleh bahasa Indonesia. Walaupun ada kosakata yang nantinya terlupakan, memang begitulah terjadi adanya, dan hal itu disebut dengan “seleksi alam”.

            “Kata-kata itu nantinya seiring berjalannya waktu, akan masuk ke dalam kosakata bahasa Indonesia. Itu memperkaya kosakata bahasa kita,” jelas Nitrasattri saat ditemui di ruangannya di ruang jurusan Sastra Indonesia FIB UI, Kamis, 18 September 2014.

            Sekarang kembali kepada diri kita sendiri. Apakah kita tetap akan menggunakan bahasa Indonesia, atau mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing, ataukah lebih memilih bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Hal itu memang dibebaskan kepada masing-masing pribadi. Namun, coba kembali kita renungkan makna lagu “Bangun Pemudi Pemuda”, bahwa masa depan adalah kewajiban dan tanggungan kita semua.

Dwi Nicken Tari

Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Fikom Unpad

Dimuat di Rubrik Opini, Harian Analisa Halaman 24 dan Halaman 30, Edisi Sabtu, 1 November 2014.

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY