SHARE

Oleh Mahardhiko F.M.

ilustrasi
Salah satu gambar yang tersebar di dunia maya jelang tahun baru 2016. Seolah perayaan tahun baru menjadi sebuah hal yang bertentangan dengan agama.

31 Desember tahun 2015 berbeda dengan malam tahun baru yang pernah saya lalui. Karena jalanan sepi? Bukan. Tidak ada petasan dan kembang api? Bukan. Tukang terompet tidak ada yang berjualan? Coba lagi. Home Alone tidak tayang di RCTI tahun ini? Bukan juga.

Saya dan keluarga sendiri merayakannya sesuai kebiasaan kami, barbeque dan mengenyangkan diri hingga dini hari, enam liter soda setia menemani, keripik sebagai penghibur selama menunggu matangnya seluruh protein hewani. Diakhiri dengan bangun kembali esok pagi dengan suasana di depan kamar mandi banyak yang mengantri.

Lantas apa yang berbeda? Kegundahan hati ini tidak lepas dari yang namanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Lebih spesifik, ini adalah cara orang berkomunikasi jarak jauh dewasa ini. Lebih spesifik lagi, yang dimaksud di sini adalah timeline sebuah media sosial yang kini tengah digandrungi. Gara-garanya saya jadi takut susah dikebumikan karena bakar cumi-cumi menjelang 1 Januari kalau menurut karakter judul sebuah sinetron yang pernah booming di Indonesia.

Apa karena 1 Januari tidak masuk dalam Hari Raya Keagamaan? Apa banyak orang yang melebih-lebihkan? Apa karena perubahan zaman? Mungkinkah orang-orang kehilangan hasrat untuk bersenag-senang?  Atau karena Jokowi sering blusukan? Maaf, yang terakhir ngawur.

Keadaan batin ini menjadi tidak tenang karena quotes yang akun-akun ‘bijak’ itu tuliskan. Lalu, kawan-kawan seperti tersadar dan langsung menjadi ‘aku yang baru’ sebelum tengah malam. Ya, teman-teman banyak yang membagikan hal-hal negatif tentang pesta tahun baru. Meniru kaum sebut saja wahyudi, jadi meninggalkan ibadah, dosa, tidak sesuai syariat, murtad dan lain sebagainya. Seolah melarang orang makan durian karena ada durinya. Hello, kita makan buahnya, bukan kulitnya, bos.

Perayaan pergantian tahun memang identik dengan pesta pora. Namun, kenyataannya di beberapa daerah ada yang melakukan doa bersama. Negatifkah? Atuhlah, piraku ngadoa wae teu meunang.

Semua jatuh pada pilihan masing-masing orang. Cara merayakan tahun baru hanya bagian kecil dari perdebatan para insan. Masyarakat sekarang seperti dilarang bersenang-senang. Semuanya adalah tentang kewajiban.

Sekali lagi, itu adalah pilihan. Bila ingin mengingatkan, silahkan. Ingin melarang? Tunggu dulu, apakah melanggar fatwa dan Undang-Undang? Silahkan kalau sudah mengganggu ketertiban dan keamanan.

Senang-senang itu kebutuhan. Sangat pas bila ada sesuatu yang dirayakan. Bagaimana merayakannya silahkan tentukan selama tidak di luar batas kewajaran. Ingin memberi saran, pasti didengarkan. Sampaikan dengan lisan yang sopan. Langsung men-judge lalu melarang? Bisa-bisa memicu tawuran. Biarlah orang memaknai momen ini seperti apa, selaku umat beragama pun pasti tahu apa yang boleh dan apa yang tidak.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY