SHARE

Oleh Asmi N.A. Himpunan Mahasiswa Jurnalistik

Pasanganmu (atau calon pasanganmu) mahasiswa jurnalistik? Pusing karena sering ditinggal liputan di siang hari dan ditinggal mengerjakan tugas di malam hari? Suuzon dia melakukan hal yang tidak kamu inginkan di luar sana?

Tunggu dulu. Mungkin kamu belum sepenuhnya memahami dia. Pasanganmu boleh saja sibuk oleh urusan tugas dan liputannya. Namun, kalau kamu benar-benar paham dan kenal seperti apa kehidupan perkuliahannya, kamu akan tersadar; punya pasangan mahasiswa jurnalistik memberimu banyak keuntungan.

pinocchio04-00798aAda enam keuntungan punya pasangan mahasiswa jurnalistik.

  1. Siaga

Punya pasangan anak jurnalistik punya satu keuntungan paling menonjol: siaga. Terbiasa bersiap diri memberitakan segala kejadian tak terduga–entah itu kebakaran, pencurian tengah malam, gempa bumi–membuat pasanganmu begitu siaga. Dia akan siap selalu membantumu kalau kamu sakit, kecelakaan, dan stress tingkat akut. Dia juga akan selalu setia memberimu kabar setiap hari, meskipun tidak setiap waktu. Terlebih lagi kalau pasanganmu itu sedang atau pernah magang di detik.com. ‘Ngabarin khalayak aja tiap detik bro, apalagi ‘ngabarin kamu?

  1. Sabar Menunggu

Anak jurnalistik biasa menghubungi narasumber via telepon seluler, tapi baru dibalas sehari kemudian. Jadi, kalau kamu punya pasangan anak jurnalistik dan kamu lagi ngambek pada pasanganmu, mungkin kamu akan menyetop keinginanmu menghubungi dia untuk sehari-dua hari. Tenang, dia pasti sabar menunggu kamu untuk menghubungi dia lagi. Sudah biasa.

  1. Empati dan Simpati

Jangan takut punya pasangan ‘nggak-peka’ kalau pasanganmu anak jurnalistik. Kuliah di jurnalistik membuat pasanganmu terbiasa menaruh simpati dan empati kepada orang lain, terlebih untuk mengangkat kaum tertindas. Dia mengenal istilah voice the voiceless, menyuarakan kaum yang tak punya suara. Maka, punya pasangan anak jurnalistik itu beruntung. Dia akan menjadi pendengar yang baik, penyedia solusi jika dibutuhkan, dan tidak akan tega menyakiti pasangannya.

  1. Jujur

Salah satu elemen jurnalistik adalah ‘pilar utama kepada kebenaran’ (Kovach dan Rosenstiel, 2001). Jurnalistik sangat menjunjung tinggi kebenaran, maka berpasangan dengan anak jurnalistik akan membuatmu belajar selalu jujur dan menghargai hubungan. Ingat slogan program TV Liputan 6? Aktual, tajam, terpercaya. Kalian akan saling menjunjung tinggi kepercayaan. Sekali kau membohongi pasanganmu, dia pasti akan sangat kecewa.

  1. Hemat

Terbiasa mengutamakan ongkos liputan daripada kesenangan membuat pasanganmu, anak jurnalistik, berhemat dalam kebutuhan sehari-hari. Kamu jangan bermimpi dibawa ke restoran mewan untuk kencan, mimpimu itu tidak cocok untuk kantongnya. Dia hanya akan membawamu ke tempat sederhana, tetapi tentu saja dengan cerita yang tak terlupakan. Nanti kalau kalian sudah menikah, kebiasaan hemat ini membawa banyak keuntungan. Percayalah.

  1. Kontrol Emosi

Terakhir, anak jurnalistik dididik untuk memisahkan diri dari kondisi psikologis narasumber. Ketika meliput korban gempa, anak jurnalistik sekuat mungkin untuk tidak siaran sembari bercucuran air mata demi siaran berita yang baik. Kebayang dong, betapa dia akan mengontrol emosi saat bersamamu. Dia tidak akan tega menunjukkan kesedihannya kalau kamu lagi sedih. Dia akan mengutamakan perasaanmu dibandingkan perasaannya. Jadi, jangan buat dia sakit hati, ya. Bayangkan akan sebagaimana susah hatinya mengontrol perasaan di tengah himpitan deadline!

Kalau kamu merasa pasanganmu memberimu beberapa atau semua keuntungan di atas, berarti kamu memang sudah mengenal dia. Kalau tidak, sepertinya kau perlu pendekatan tahap dua. Selamat mengapresiasi perasaan!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY