SHARE
Kelompok anak autis sedang mempersembahkan tiga buah lagu sambil memainkan alat musik jimbe dan piano (02/04/2016). Para orang tua dan penonton lainnya antusias memperhatikan aksi mereka.
Kelompok anak autis sedang mempersembahkan tiga buah lagu sambil memainkan alat musik jimbe dan piano (02/04/2016). Para orang tua dan penonton lainnya antusias memperhatikan aksi mereka.

Oleh Risky Aprilia, Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Dermaga Sastra merupakan komunitas sebagai wadah untuk mahasiswa Universitas Parahyangan yang menyukai sastra, seperti menulis puisi dan sajak-sajak. Komunitas ini lahir Januari 2016. Akan tetapi, Dermaga Sastra  cukup mempunyai kegiatan rutin yang diadakan tiap bulannya seperti kegiatan Malam Sajak.

“Karya sastra selalu berkembang dan mempunyai ragam keunikan. Dalam hal itu, Orang autis bisa menambah kontribusi dengan karya-karya puisinya ke dunia sastra,” kata Alya, penyelenggara Perayaan Autism Awareness Day 2016. Hal tersebutlah yang menjadi landasan anggota Dermaga Sastra memilih tema itu untuk Kopi Darat II.

Kegiatan tersebut diawali dengan persembahan dari Paul, salah satupenyandang autis yang membawakan satu buah lagu dengan pianonya. Dilanjut dengan sebuah persembahan dari anak-anak autis, yaitu Abraham, Ihsan, Anhan, Jefri, Ivan, Christoper, Gerry, Kevin dan Paul. Mereka mempersembahkan tiga buah lagu dimana bernama Abraham, Ihsan, Anhan, Jefri, Ivan, Christoper, Gerry, Kevin bermain jimpe sedangkan Paul bermain piano. Tentunya, persembahan ini dipimpin oleh Kang Adi, Komunitas Percik Insani.

Mereka memainkan alat-alat musiknya dengan baik tanpa seperti adanya suatu kekurangan dari diri mereka. Semua orang pun yang berada di ruangan tersebut terpanah dan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Orang tua mereka pun sangat bahagia dan langsung memeluk anaknya setelah memainkan musik.

Walaupun yang datang tidak sesuai dengan ekspektasi, Alya sudah merasa bahwa tujuan dari kegiatan ini tercapai. ”kegiatan ini tidak akan berjalan sukses dan lancar tanpa ada pihak-pihak yang mendukung, seperti Komunitas Percik Insani dan Unpar Radio Station,”Kata Alya.

Alya berharap semoga dari kegiatan ini bisa mengubah pola pikir orang-orang bahwa sastra bukan sesuatu yang tua. Sastra bisa menjadi sarana yang bisa menyosialisasikan hal-hal sosial. Selain itu, agar menarik perhatian kaum-kaum yang masih membutuhkan wadah untuk menyuarakan isi hati dan menyalurkan bakat mereka.

Kepedulian Dermaga Sastra terhadap kelompok anak autis tidak berhenti sampai kegiatan ini saja. Dermaga sastra akan meluncurkan buku yang berisi kumpulan puisi sastrawan bandung dan kumpulan puisi hasil karya dari kelompok anak autis. Hal tersebut karena anak-anak autis juga bisa menyuarakan isi hati mereka baik itu sedih maupun senang yang pernah mereka alami.

Disela-sela sesi diskusi, Rendra, salah satu anak autis membacakan puisi hasil karyanya sendiri. Ketika Ia membacanya, sebagaian orang di dalam ruang tersebut terkejut mendengar lirik tiap bait puisinya. Hal tersebut disebabkan karena Rendra membacakan puisinya yang hampir sama persis dengan tipe puisi karya alm WS Rendra.

Alya juga ingin berkolaborasi dengan Komunitas Percik Insani yang konsen terhadap anak atau orang yang berkebutuhan khusus untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya. Alya pun berharap agar orang-orang tidak menyalahgunakan arti atau makna dari kata “autis”.  Sebab, kata “autis” bukan suatu hal yang bisa menjadi bahan ejekan.

Berita ini terbit di rubrik Kampus Harian Umum Pikiran Rakyat pada Kamis, 7 April 2016

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY