SHARE
ebbiOleh Febriana Tambunan, Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad
“supaya memiliki kebangaan pada universitas, jadi bukan hanya bangga pada jurusan atau fakultas saja,”

Kurang lebih itu yang terngiang paling kencang dalam ingatan saya ketika menghadiri sebuah forum organisasi mahasiswa se fakultas pada April lalu. Betul, sepotong kalimat itu masih satu irama dengan rencana kampus membuat kelas belajar bersama bagi para mahasiswa baru alias TPB (red: Tahapan Persiapan Bersama). Saya tidak ingin mencari tahu istilah yang benar, tapi kita semua sama-sama tahu topik ini. Topik yang kemarin begitu hangat, sehangat pelukanmu.

Pada forum itu, salah seorang mahasiswa berjabatan Ketua BEM Fikom Unpad (red: Badan Eksekutif mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran) menjelaskan tujuan dibuatnya si TPB ini sesuai dengan informasi yang ia dapatkan dari pihak rektorat. Ternyata,  tujuannya adalah untuk membuat mahasiswa Unpad lebih cinta pada kampus.

Harapannya tidak muluk-muluk. Kalaulah mahasiswa Unpad bertemu orang asing di antah berantah dan saling berkenalan, kemudian ketika tiba pada pertanyaan tentang asal-usul kampus, si mahasiswa Unpad menyebutkan nama kampus lebih dulu daripada nama jurusan atau fakulta, niscaya TPB ini berhasil sudah.

Topik itu sudah tak lagi hangat karena engkau tak lagi disini. Maksud saya, animo membahas topik itu mereda setelah pihak rektorat memberikan pengumuman resmi diadakannya kelas TPB tersebut meski begitu banyak lembaga yang tidak setuju. Hampir semua orang lesu dan bingung, apalagi organisasi kampus yang benar-benar terancam kelangsungan hidupnya karena peraturan TPB. Sebut saja demo mahasiswa Hukum (Unpad) yang menyambangi desa karena takingin juniornya tinggal jauh di Jatinangor karena TPB.

Baiklah, sekarang saya ingin kembalikan pembahasan ini pada keinginan luhur para pemikir kampus yang memimpikan kampus penuh kebanggaan seperti cinta di musim cherry. Jika logika berpikir saya masih benar setelah terlalu banyak membahas harga saham dan skema investasi, saya ingin mengeritik lagi keinginan itu untuk kesekian kalinya.

Minggu ini, kampus memberikan pengumuman jadwal tahun ajaran baru. Di brosur lama yang Kema Unpad sebarkan, lengkap sudah jadwal penting termasuk tanggal masuk kuliah yang jatuh pada 5 September 2016. Tapi minggu ini pula saya mendapat informasi terbaru bahwa kampus mempercepat tanggal mulai perkuliahan menjadi tanggal 29 Agustus 2016. Bagi saya dan khususnya ribuan mahasiswa magang lainnya, kebijakan ini sangat buru-buru.

Memang ada banyak kebijakan Unpad yang selalu tidak matang, terburu-buru, memaksa , dan menyiksa mahasiswa pada semester kemarin. Sepertinya kebijakan yang takmatang lainnya akan datang pelan-pelan tapi tiba-tiba, seperti jadwal baru perkuliahan ini. Sebagai mahasiswa yang baru resmi menjadi mahasiswa tingkat akhir, tentu saja hal ini memuakan.

Bayangkan, saya dan mungkin teman-te
man magang lainnya yang telah memperkirakan waktu magang selesai sebelum masuk kuliah harus rela kehilangan jatah masuk kelas. Saya dan mungkin teman-teman magang atau bisa jadi yang masih berlibur harus buru-buru menemui dosen wali untuk tanda tangan KRS (red: Kartu Rencana Studi) yang sudah diisi secara online. Meski berbeda konteks, pengisian KRS online yang setelahnya masih harus menemui dosen wali saya anggap membuang banyak waktu dan kertas. Sungguh sangat tidak efektif.

Kembali pada topik sebelumnya, para mahasiswa buru-buru mengisi KRS dan menemui dosen wali. Belum lagi dengan server portal mahasiswa yang belum menyediakan keseluruhan pilihan mata kuliah di KRS. Kalau sudah begini, tenaga tambahan juga keluar untuk melakukan PKRS (red: Perubahan Kartu Rencana Studi).

Belum lagi dengan dampak domino kepada pekerjaan di kantor atau di tempat magang yang jadi ikut buru-buru dikerjakan. Saya beri contoh nyata. Media tempat saya dan beberapa teman jurnalistik magang sekarang mempertanyakan jadwal kampus yang kok bisa tidak jelas. Magang di sebuah instansi pertanggungjawabannya kontrak dan komitmen. Kalau saya tidak menyelesaikan magang sesuai kontrak, nama Unpad juga jadi tidak indah. Sebaliknya, kalau tetap berkomitmen menyelesaikan magang untuk juga menjaga nama Unpad, saya kehilangan absen dan materi perkuliahan padahal sudah bayar 6 juta. Rasanya kebijakan Unpad yang mempercepat waktu kuliah dengan tiba-tiba seperti ini mengkhianati perjuangan saya.

Intinya beginilah, masalah perubahan jadwal yang mendadak ini mungkin hanya contoh kecil dari tantangan mencintai Unpad. Perubahan jadwal cukup sederhana untuk menggambarkan inkonsistensi kampus dan menunjukkan kesiapan kampus dalam menyelenggarakan tahun ajaran. Kampus semestinya tahu, libur dan jadwal masuk dipersiapkan dengan matang supaya sesuai pula dengan kegiatan mahasiswa lain yang sebenarnya tidak hanya berlibur. Magang kan pencerminan cinta Unpad, tapi kenapa pengaturan waktu saja masih jelek begini.

Sederhananya, bagaimana kita mencintai kampus ini jika kebijakannya dan peraturannya masih saja tidak terkoordinasi dengan baik. Jika lebih banyak suara gerutu yang keluar dari mahasiswa tiap kali kampus mengeluarkan paket kebijakan atau infomasi baru, maka Unpad mesti rendah hati intropeksi diri. Jika lebih banyak kritik mahasiswa yang bertebaran di media sosial tiap kali kampus melemparkan sepotong isu ke mahasiswa, semestinya Unpad jangan berharap besar dicintai dengan dalam oleh seluruh mahasiswanya.

Mohon maaf jika opini bagi Anda masih dangkal dan terkesan menumpahkan kemarahan. Saya tidak punya waktu untuk riset semua kebijakan menyusahkan Unpad. Tapi perubahan jadwal ini penting untuk menjadi gambaran ada banyak aksi kampus yang perlu diperbaiki.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY