SHARE
Foto dilansir dari kaltim.tribunnews.com
Sumber: kaltim.tribunnews.com

Oleh Rifqi Cantona

Kala itu, Indonesia menjadi pusat perhatian dunia, khususnya Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Aksi teror yang mengharu biru di Gedung Sarinah, Jalan Thamrin menjadi sajian pembuka tahun baru 2016 yang menjanjikan rasa persatuan bagi seluruh lapisan rakyat Indonesia.

Bukan rasa takut yang diperlihatkan Indonesia kepada dunia. Jejaring sosial Twitter merekam cuitan-cuitan sebagai bentuk perlawanan rakyat Indonesia terhadap aksi teror yang dilakukan secara terang-terangan ini. Tagar #KamiTidakTakut yang digunakan lebih dari seratus ribu kali menjadi bukti bahwa rakyat Indonesia siap bersatu dan tidak gentar melawan segelintir aktor dibalik teror. Bahkan, tagar ini sempat menjadi trending topic dunia dan mampu menggerakkan beberapa figur publik hingga klub sepak bola dunia untuk ikut mengungkapkan rasa simpatinya. Tak berhenti sampai di situ, selang beberapa hari kemudian muncul tagar #PolisiGanteng yang berhasil melumpuhkan aksi teror, seolah membuktikan Indonesia masih bisa menemukan guyonan walaupun diterkam aksi mencekam.

“Awal yang bagus bagi Indonesia,” pikirku saat itu.

Hari demi hari berlalu. Pun dengan bulan yang terus kekal melaju. Yang di dalamnya, selain kisah bahagia pasti menyisakan cerita sendu, haru, bahkan pilu. Nampaknya Indonesia harus melewati fase tersebut di penghujung tahun. Mungkin ini bukti bahwa Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu.

Intoleransi

Sempat diawali dengan rasa persatuan rakyat Indonesia yang tinggi demi memberantas aksi teroris. Namun, Indonesia menutup lembaran cerita 2016 dengan kasus intoleransi. Dilansir dari kompas.com, Setara Institute mencatat sebanyak 184 kasus terkait pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan terjadi pada 2016. Direktur Peneliti Setara Institute Ismail Hasani, mengatakan bentuk diskriminasi yang terjadi adalah pembongkaran tempat ibadah, pelarangan mendirikan rumah ibadah, pelarangan ibadah, pengusiran hingga stigmatisasi.

Masih dilansir dari kompas.com, Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos, menilai bahwa radikalisme di Indonesia kian menguat sepanjang 2016. Lebih lanjut lagi, Bonar mengatakan alasan mengapa radikalisme semakin menguat karena negara belum mampu bertanggung jawab untuk memenuhi, melindungi, dan menghotmati kemajemukan agama dan kepercayaan di Tanah Air. Terlebih, menurut Bonar, negara justru melakukan pembiaran terhadap berkembangnya ideologi ekstrem dalam berbagai medium. Pemikiran seperti itulah yang membuat radikalisme semakin menguat.

Sebagian dari kita mungkin masih ingat kasus yang terjadi di Bantul, Jawa Tengah pada 7 Juni lalu. Komplek Gua Maria, yang sejak 1969 digunakan sebagai tempat peribadatan umat Katolik dirusak oleh sebagian oknum yang hingga saat ini masih berkeliaran di luar sana. Atau yang terjadi di Desa Purworejo, Kendal, Jawa Tengah pada Mei 2016. Masjid yang digunakan sebagai tempat ibadah jemaah Ahmadiyah dirusak kelompok orang tak dikenal pada 23 Mei silam.

Tentu yang masih segar dalam memori kita adalah kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok. Ahok saat ini sedang diadili atas tindakannya yang dinilai melecehkan sebuah ayat yang tertera dalam Al-Quran. Atas kasus ini, timbullah aksi damai 4 November dan 2 Desember lalu. Pun dengan kejadian yang menimpa sejumlah orang yang merupakan bagian dari Paduan Suara Mahasiswa Universitas Padjadjaran. Ketika mereka sedang menggalang dana dengan cara melantunkan nyanyian khas menjelang Hari Natal di sebuah mal ternama di Kota Bandung, datang seseorang yang berusaha untuk menghentikan kegiatan ini. Beruntung kejadian ini segera ditindaklanjuti dengan cara kekeluargaan oleh pihak-pihak terkait sehingga masalahnya tidak berlarut. Atau, kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal 2016 yang dihentikan secara paksa oleh sekelompok oknum yang mengatasnamakan dirinya sebuah lembaga masyarakat. Walikota Bandung Ridwan Kamil pun mengambil tindakan cepat guna menyelesaikan kasus ini. Setelah melalui pertemuan dengan pihak-pihak terkait, terciptalah sebuah perjanjian dan terbentuk Satgas Toleransi Umat Beragama di Bandung. Dan masih terdapat kurang lebih 180 kasus lain yang tercatat Setara Institute yang jika dipaparkan mungkin akan menjadi sebuah skripsi utuh.

Harapan 2017

Kunaon nagara urang teh kieu-kieu teuing?” pikirku ketika menjelang pergantian akhir tahun.

Apa yang sedang terjadi di negaraku? Kenapa perpecahan ini bisa terjadi? Padahal, di awal tahun kita sangat bersatu padu memberantas aksi terorisme. Padahal, kita sama-sama tahu kalau sila ketiga yang berbunyi, “Persatuan Indonesia” adalah cita-cita yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa kita. Bukankah kita sama-sama tahu semboyan negara kita, yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang diterjemahkan memiliki arti walau beragam tetapi tetap satu? Atau semboyan tersebut sekarang telah berganti menjadi Bhinneka Tinggal Duka? Atau bahkan, pemerintah Indonesia perlu menjalin kerja sama dengan The World State, sebuah tempat dalam novel Brave New World karya Aldous Huxley, dan mengimpor soma agar rakyat Indonesia melupakan kejadian menyedihkan, menghilangkan rasa sakit, dan selalu mendapatkan kebahagiaan?

Indonesia mengalami masa dinamis pada 2016. Besar harapan saya agar kasus intoleransi di negara kita dapat terhapus di tahun berikutnya sehingga tercipta bangsa Indonesia yang kembali bersatu, tanpa mempermasalahkan perbedaan yang ada.

You may say, I’m a dreamer. But I’m not the only one,”

Impian saya ini ternyata serupa dengan harapan yang diutarakan presiden ke-6 Republik Indonesia di akun jejaring sosial Twitter pribadinya. Jadi, saya akan meminjam beberapa cuitan Susilo Bambang Yudhoyono, tentunya yang satu pemikiran, untuk menggambarkan keresahan serta merangkum harapan saya untuk Indonesia di tahun berikutnya.

“Tahun 2016 amat dinamis dan penuh tantangan, baik bagi dunia maupun Indonesia. Mari kita petik pelajarannya agar tahun 2017 lebih baik. Tahun ini Indonesia diuji, dari sosial politik dan demokrasi, ke ekonomi dan kesejahteraan, hingga kerukuan dan harmoni sosial. Negara dan pemerintah diuji, penegak hukum diuji, media massa dan media sosial diuji, pemuka agama diuji, rakyat diuji dan presiden pun diuji. Mari kita didik diri kita untuk senantiasa benar dan dapat dipercaya dalam ucapan dan tindakan, sehingga terbebas dari dosa, fitnah, dan kebohongan. Mari senantiasa berpikir dan bertindak cerdas dan sampaikan sesuatu dengan jujur, tepat, dan benar agar persoalan selesai dan tidak makin buruk.”

Analoginya seperti ini, tiap individu masyarakat Indonesia diibaratkan seperti sebatang lidi. Sebatang lidi mampu untuk membersihkan debu dan kotoran, namun akan mamakan waktu dan sifatnya yang rentan rapuh. Untuk mengefektifkan pekerjaan, tentu perlu menghimpun setiap batang lidi agar menjadi sebuah sapu lidi yang kokoh sehingga debu berserakan dapat dibersihkan. Dengan mempersatukan semuanya, bahkan kotoran yang membandel pun dapat dihilangkan. Pertanyaannya, apakah masyarakat Indonesia harus selalu diuji dengan suatu masalah besar agar dapat kembali bersatu?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY