SHARE

Oleh Ni Kadek Diana Pramesti

“Ada yang bawa pena lebih nggak?” tanya saya pada beberapa orang di hadapan saya.  “Beuh, pena bahasanya,” celetuk salah seorang teman.  “Aih, bilang pulpen aja pena, kamu ilmiah sekali,” salah seorang teman lainnya menjawab.

Itulah reaksi  teman-teman saya ketika sesekali saya menggunakan padanan kata dalam bahasa Indonesia yang jarang digunakan. Padahal, mungkin masalahnya hanya jarang digunakan. Suatu kata menjadi asing terdengar, sehingga dengan mudah kita dicap aneh karena bahasa yang kita gunakan tidak sama dengan kebanyakan orang. Kadang-kadang, reaksi seperti itu membuat sebagian orang merasa tidak gaul dan merasa sendiri atau terpisah dari kelompok. Tapi memang seperti itulah yang terjadi.

Ketika orang-orang di lingkungan kita terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang di­gado-gadokan dengan bahasa Inggris, lalu kita menggunakan padanan kata dari bahasa Indonesia asli, di sanalah biasanya kita dinilai aneh. Beberapa orang merasa tidak terganggu dikatakan aneh dan tetap percaya diri menggunakan padanan kata bahasa Indonesia yang jarang digunakan dalam kesehariannya. Beberapa lagi mungkin akan segera berhenti dan kembali menggunakan bahasa nginggris yang biasa digunakan oleh orang-orang kebanyakan, hanya agar bisa diterima sebagai orang yang “normal” di lingkungannya. Padahal sebenarnya kita tidak melakukan hal yang salah.

Orang yang kemudian berhenti itulah yang menjadi orang yang harus dipertahankan. Coba bayangkan, orang-orang yang melestarikan padanan kata bahasa Indonesia hanya segelintir, ditambah ada beberapa orang yang sudah pernah mencoba lalu berhenti hanya karena merasa sendiri. Kondisi ini membuat saya tergelitik untuk bertanya, sebenarnya apa yang salah dengan menggunakan bahasa milik bangsa sendiri? Jawabannya, kebanggaan itu belum tertanam dalam diri kita.

Terbiasa Membenarkan yang Lazim

Selama ini yang terjadi adalah orang-orang menganggap bahasa yang sering digunakan adalah bahasa yang benar karena bahasa tersebut lazim digunakan oleh kebanyakan orang. Muncullah banyak bahasa pergaulan yang penggunaannya dicampur-campur dengan bahasa Inggris. Selain itu ada juga bahasa prokem (pergaulan) yang sulit dimengerti seperti  kuy (yuk), perez (sejenis orang yang senang memuji dan berkata-kata manis), cabs (pergi), dan banyak lagi. Sulit dimengerti karena tidak tahu dari mana asal muasal kata itu. Nyatanya, kata-kata inilah yang populer dalam bahasa pergaulan anak muda zaman sekarang. Tidak salah memang, siapapun  boleh menggunakan bahasa apapun asal lawan bicara mengerti apa yang dimaksudkan. Jika konteksnya adalah bahasa sebagai alat komunikasi, tentu hal ini sah-sah saja dilakukan. Namun dalam hal ini, kita berbicara bahasa sebagai budaya dan sudah seharusnya dilestarikan penggunaannya oleh generasi  muda saat ini.

Jika saja bahasa prokem yang nginggris dan gaul saja bisa dengan mudah populer, harusnya kita juga bisa membuat penggunaan padanan kata bahasa Indonesia menjadi tren di kalangan anak muda. Jika sebelumnya kita terbiasa dengan ungkapan membenarkan yang lazim, kini kita ubah ungkapan ini menjadi melazimkan yang benar. Salah satu alasan mengapa padanan kata bahasa Inggris digunakan untuk menggantikan beberapa padanan kata bahasa Indonesia adalah karena kata tersebut tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Inilah kemudian yang menjadi salah satu pemicu penggunaan bahasa yang campur-campur. Kebiasaan ini menyebabkan kita menggunakan padanan kata bahasa Inggris bahkan jelas-jelas kata tersebut terdapat padanannya dalam bahasa Indonesia. Untuk bisa melestarikan bahasa Indonesia, hal pertama yang harus dilakukan adalah meninggalkan kebiasaan ini.

Dalam buku karya J.S. Badudu yang berjudul Kamus: Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Badudu menulis dalam pengantarnya bahwa terdapat 8.615 lema bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Jumlah padanan kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Edisi Keempat) memuat 90.049 lema dan sublema serta 2.034 peribahasa. Jumlah ini jika saja digunakan dengan efektif dan benar dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tidak akan kekurangan padanan kata sampai-sampai harus menggantinya dengan padanan kata bahasa Inggris.

Langkah yang harus dilakukan adalah memopulerkan padanan kata bahasa Indonesia. Mulai sekarang janganlah malas mencari padanan kata bahasa Indonesia. Jika sudah terlanjur menggunakan bahasa asing, kita bisa melihat padanannya dalam bahasa Indonesia dan mulai menggantinya. Jika beberapa dari kita masih berkilah bahwa sumber informasi mengenai padanan kata dalam bahasa Indonesia masih sedikit, sepertinya kita memang harus menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa bangsa sendiri, sehingga tidak lagi membuat alasan.

Sebagian Sudah Berupaya

Beberapa pihak rupanya tidak diam dengan kondisi ini. Pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melestarikan bahasa Indonesia melalui majalah Pendidikan dan Kebudayaan, Media Komunikasi dan Inspirasi yang terbit sebanyak dua belas kali dalam setahun. Di dalam majalah ini terdapat rubrik khusus yang membahas padanan kata asing yang sebenarnya ada dalam bahasa Indonesia. Rubrik-rubrik itu di antaranya “Senarai Kata Serapan” atau “Senarai Padanan”. Kadang-kadang ada pula halaman yang khusus membahas arti kata-kata. Menurut saya, ini adalah langkah kecil yang patut diapresiasi dan bisa dijadikan sumber bacaan yang membuat padanan kata bahasa Indonesia kita bertambah. Sayangnya, majalah ini penyebarannya masih dalam lingkup internal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dikelola oleh Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat.

Kompas juga telah memulai inisiatif untuk memperkaya padanan kata bahasa Indonesia pembacanya dengan menyisipkan rubrik “Bahasa” pada hari-hari tertentu. Biasanya, ditulis oleh pengamat, praktisi, atau akademisi. Padanan kata yang dibahas memang tidak banyak, tapi penulis biasanya menjelaskan, mengoreksi padanan kata yang selama ini penggunaannya salah, atau mengenalkan padanan baru. Sayangnya, rubrik di pojok halaman ini masih belum konsisten keberadaannya.

Beberapa anak muda dan atau mahasiswa pun tidak tinggal diam, kendatipun jumlahnya segelintir saja. Mereka berhasil mencetuskan ruang-ruang khusus di media sosial yang membahas bahasa, khususnya padanan kata bahasa Indonesia yang jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa ruang tersebut di antaranya: “Serbahasa”, “Makna Sekata”, “Pecinta Linguistik”, dan “Bahasa Indonesia Kita”. Keempat ruang ini bisa dijumpai di media sosial Instagram yang saat ini digunakan oleh banyak anak muda. Hal ini semakin mendekatkan dan memudahkan kita dalam menambah padanan kata bahasa Indonesia kita. Memang pengunjung ruang-ruang khusus pelestari padanan kata Indonesia ini masih sedikit. Sebaiknya ditingkatkan daya tariknya dengan menggunakan desain atau media yang menarik sehingga anak muda lebih tertarik untuk mengaksesnya.

Terakhir, tinggal kita yang bergerak. Kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia itu lahirnya dari dalam hati. Bahasa Indonesia itu lebih dari bahasa pergaulan, Ia adalah budaya dan cerminan kepribadian bangsa ini. Suatu hari, rasa bangga itu mulai pudar, nyalakan kembali pendarnya dengan mengingat bahwa tepat 88 tahun yang lalu, pemuda pendiri bangsa ini berikrar ingin memersatukan bangsa ini, salah satunya melalui bahasa Indonesia: menjunjung Bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Artikel ini terbit di rubrik Kampus Harian Umum Pikiran Rakyat pada Kamis, 27 Oktober 2016

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY