SHARE

 

Judul       : Gie dan Surat-surat yang Tersembunyi

Penulis    : TEMPO

Cetakan  : 2016

Penerbit  : KPG

Halaman : 107 halaman

Berat      : 300 gram

Harga     : 50.000

“Saya sadar betapa sulitnya untuk menanamkan kembali rasa hormat manusia-manusia Indonesia yang dibesarkan dalam suasana “mass murder” ini terhadap hidup. Bagi saya, kehidupan adalah sesuatu yang agung dan mulia.” Itulah sepenggal tulisan dalam sepucuk surat Soe Hok Gie kepada Boediono pada 26 November 1967.

Soe Hok Gie menjadi legenda dan dikagumi banyak orang sebagai seorang tokoh gerakan mahasiswa pada 1966. Ia sangat kritis terhadap pemerintahan Soekarno, bahkan sedari remaja. Ia pun menyimpulkan, “Generasiku ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau, yaitu koruptor-koruptor tua seperti Iskak, Djodi, Dadjar, dan Ibnu Sutowo.” Namun, sikap kritisnya itu kemudian menimbulkan tanya saat kekuasaan Presiden Soekarno tumbang. Ia memilih jalan yang berbeda dengan rekan-rekan seperjuangannya dulu dalam menggulingkan pemerintahan dan memilih menjadi dosen. Pertanyaan lainnya yang muncul ialah mengapa ia menggugat pembantaian anggota PKI yang mana sebelumnya ia tuntut untuk dibubarkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab setelah membaca buku Gie dan Surat-surat yang Tersembunyi. Buku yang baru terbit Desember 2016 ini merupakan hasil liputan khusus tim majalah mingguan Tempo pada 16 Oktober 2016. Melalui buku ini, berbagai surat-surat yang menggambarkan pemikiran Soe Hok Gie yang selama ini disimpang terungkap. Semua surat berbentuk lembaran kuarto ketikan yang memang belum pernah dikhawatirkan karena larangan Arief Budiman, kakak Soe Hoek Gie. Ia mengkhawatirkan nantinya akan timbul permasalah bagi teman-teman Gie yang masih hidup. Surat-surat itu mencerminkan pemikirannya terhadap situasi sosial-politik, hubungannya dengan teman seperjuangannya dulu yang kini berebut jabatan, hingga surat manisnya kepada para ‘janda gunung’-nya.

Catatan harian Gie, seorang tokoh pergerakan mahasiswa yang kritis, idealis, dan pemberontak serta memesona tersebut sebelumnya sudah dibukukan dalam Catatan Seorang Demonstran (1983). Ia menjadi terkenal dengan beragam ide briliannya dalam mengkritisi pemerintahan. Tak hanya itu, sosoknya kian populer setelah beragam tulisannya hadir di banyak media, seperti Sinar Harapan dan Kompas. Bahkan ia sempat melakukan pidato di Radio UI, tempatnya berkuliah jurusan Sejarah di Fakultas Sastra.

Gie bukanlah tokoh partai di masanya. Ia juga bukan pemimpin organisasi yang selalu berdemonstrasi mengkritik pemerintahan Bung Karno hingga lengser dan digantikan dengan Soeharto. Namun, sosoknya berada di balik layar segala aksi tersebut. Pemikirannya yang kritis diimbangi pula oleh kreatifitas di dirinya. Beragam cara ia lakukan untuk berontak, seperti merancang long march, pemasangan poster berisi Tritura di kereta, dll. Semua itu tertulis dalam kertas-kertas yang dulu Soe Hok Gie telah buat rangkapannya menggunakan kertas karbon di sebuah map hijau.

Salah satu surat yang menarik dari Gie adalah seputar kegelisahannya melihat tragedi pembantaian organisasi PKI pada 1965-1968. Surat yang tertuju untuk Herbert Feith inilah salah satu dokumen yang paling disimpang Arief Budiman. Rasa simpati Gie kepada para simpatisan PKI membawanya pada tulisan opini dengan nama samaran “Dewa”.

Bakat menulis Gie ternyata tak jauh-jauh berasal dari ayahnya. Sedari kecil kebiasaannya sudah membaca koran dan acap kali berdiskusi dengan ayahnya tentang kondisi sosial-politik bangsa. Pemikiran dan bakatnya terus terasah hingga duduk di perkuliahan. Kedekatannya dengan wartawan di media juga yang kemungkinan membawanya berkesempatan menimba ilmu di Amerika Serikat.

Terbit pada Desember 2016, buku ini hadir mengawali jilid perdana seri “Pemuda dan Gerakan Sosial” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo. Walaupun berangkat dari sebuah liputan khusus dan melalui penyusunan kembali, buku ini tak lupu dari beberapa kekurangan.

Kekurangan yang saya rasa terdapat dalam buku ini adalah dari segi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Dalam beberapa penggunaan tanda baca masih ada yang salah. Selain itu, acap kali bahasan dalam suatu bagian buku diulang kembali di bagian lainnya. Tidak ada selipan biodata lengkap Gie pun saya rasa menjadi kekurangan buku ini yang seharusnya dapat dilengkapi tim penyusun.

Walaupun demikian, buku ini saya rasa lebih banyak kelebihan dan manfaatnya bagi khalayak. Mulai dari bahasannya yang berisi surat-surat tersembunyi Gie dengan beragam kebaruannya saat dipublikasikan Tempo dan bukti-bukti berupa foto yang disisipkan dalam halaman demi halaman buku. Gaya bahasa yang digunakan penulis pun sederhana dan jelas. Berkat itulah pembahasan terkait sejarah terasa lebih ringan dan mudah dipahami pembaca. Judul tiap babnya pun menarik dan provokatif. Begitu menggugah untuk terus membaca buku ini. Buku ini candu dengan penyampaian sederhana dan menariknya tentang Gie beserta sejarah yang mengikutinya.

Terkait perwajahan dan fisik buku, saya rasa tidak ada masalah yang perlu dikomentari. Desain sampul wajahnya sederhana dan fokus kepada Gie. Pemilihan warna serta jenis huruf di sampulnya juga menarik. Begitu pula dengan ukuran dan ukuran huruf di dalam bukunya. Peletakkan foto di halaman-halamannya saya rasa sudah tepat. Begitu pula dengan adanya foto penuh sebelum memulai bab baru. Kutipan menarik yang dihadirkan di awal babnya pun memberi kesan tersendiri dan memiliki nilai lebih dari buku ini.

Buku ini diakhiri dengan sebuah kolom yang ditulis oleh Budiman Sudjatmiko. Tulisan yang berjudul “Sosialis yang Kesepian” itu melengkapi buku golongan sejarah ini. Tak hanya itu, buku ini dilengkapi pula oleh sebuah poster infografis yang menggambarkan perjalanan pergerakan Gie semasa hidupnya.

Buku ini menarik dan patut dibaca, khususnya bagi mahasiswa. Isinya seputar pemikiran-pemikiran Gie semasa hidupnya secara tidak langsung dapat membangkitkan jiwa kritisme di kalangan mahasiswa. Gie, sosok yang berani dan tegas itulah yang mungkin belakangan ini mulai hilang di kalangan anak muda. Penulis mampu menghadirkan sosok Gie menjelang hari kelahirannya sebagai pemicu semangat mahasiswa untuk lebih kritis dan berani. Buku ini tak hanya menyuguhkan pemikiran dan jalan cinta sang demonstran, tapi menyuguhkan sebuah kerinduan sosok mahasiswa yang kritis dan berani.

(Dewi Rachmanita Syiam)

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY