SHARE
http://wisang-hafizh.blogspot.co.id/
http://wisang-hafizh.blogspot.co.id/

Oleh Muttaqoh K. Nisa

“Kemudian burung-burung itu memakaikan gaun yang jauh lebih indah dari sebelumnya, ditambah dengan sepatu yang terbuat dari emas. Dengan gaun itu, cinderella pergi ke festival dan disambut dengan tatapan heran dari semua orang. Pangeran pun mengajaknya berdansa.

Saat sore tiba, Cinderella memutuskan untuk pulang. Pangeran mengejarnya, namun Cinderella berlari amat cepat. Walau tak dapat menyusulnya, pangeran menemukan sebuah sepatu emas yang tertinggal di tangga.”

Kutipan di atas adalah sepenggal cerita dari dongeng berjudul Cinderella yang diadaptasi dari dongeng bahasa Jerman berjudul Aschenputtel. Dongeng tersebut dibuat oleh Jacob Grimm dan Winhelm Grimm yang lebih dikenal sebagai Grimm bersaudara atau Grimm Brothers.

Saat ini, telah terdapat banyak versi dari cerita Cinderella. Namun, inti dari ceritanya tetap sama. Seorang gadis yang tinggal bersama ibu tiri dan dua saudara tiri berupaya untuk pergi ke pesta dansa di istana.

Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, gadis tersebut berhasil pergi ke istana. Ia berdansa dengan pangeran dengan amat bahagia. Namun, suatu hal membuatnya harus segera pulang. Karena berlari dengan terburu-buru untuk pulang, Cinderella pun tidak sengaja meninggalkan sepatunya.

Keesokan harinya, pangeran memberikan pengumuman bahwa ia akan menikahi pemilik sepatu tersebut. Singkat cerita, pangeran bertemu kembali dengan Cinderella dan mereka pun hidup bahagia selamanya.

Modifikasi Dongeng

Menurut KBBI, dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Bertahun-tahun yang lalu, mendongeng masih menjadi “ritual” yang dilakukan oleh para orangtua untuk membuat anak mereka tertidur. Dengan buku dongeng bergambar, mereka mengisahkan cerita-cerita yang kemudian dapat mengembangkan imajinasi si kecil.

Tradisi tersebut kini menjadi tradisi yang terasa amat klasik dan klise. Kegiatan mendongeng secara klasik itu dilestarikan lewat pencitraan di berbagai film anak. Kenyataannya saat ini, kegiatan tersebut mungkin sudah jarang ditemui.

Bagaimana tidak? Perkembangan teknologi yang amat pesat membuat anak justru kadang lebih senang memainkan permainan di gawainya, atau menonton beberapa video di internet sebelum tidur. Para orangtua pun tidak kalah sibuk. Konten-konten di gawai berinternet terasa terlalu menggiurkan. Hingga akhirnya, waktu untuk mendongeng sirna sepenuhnya.

Mengikuti perkembangan zaman, kini dongeng dihadirkan dalam bentuk film yang menarik. Yah, pengemasan ini dapat menjadi salah satu cara untuk melestarikan dongeng di kalangan anak-anak. Sebut saja Cinderella, Pinokio, Aladdin, dan ratusan bahkan mungkin ribuan dongeng lainnya. Dongeng-dongeng tersebut kemudian dimodifikasi dan dimodernisasi agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Dengan bentuknya yang menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, kini dongeng tidak hanya menjadi milik anak-anak saja. Para remaja, bahkan orang-orang dewasa pun terpikat dengan pengemasan ulang dongeng yang mengesankan. Seolah membuat mereka berkaca pada masa lalu. Bernostalgia. Kemudian sesekali membandingkan kisah saat ini dengan kisah yang mereka ketahui pada zaman dulu. Ah, menyenangkan.

Terlepas dari apapun bentuknya, semua dongeng memiliki nilai moral tersendiri. Dengan ceritanya yang atraktif dan imajinatif, dongeng mampu menyampaikan pesan-pesan kehidupan dengan cara yang sederhana. Walaupun, yah, sering muncul quotes “Hidup ini tidak seindah dongeng”.

Bagaimana tidak, nyaris semua dongeng yang ada saat ini selalu berakhir dengan kalimat “Dan mereka pun hidup bahagia selama-lamanya”. Happily ever after. Semua yang baik pasti akan mendapatkan hidup yang indah. Semua yang jahat pasti akan mendapatkan akhir yang buruk.

Ya, itulah efek modernisasi dan modifikasi dongeng yang terjadi saat ini. Demi menjaring dan menjangkau semua kalangan, dongeng-dongeng dibuat menjadi lebih “lembut”. Dongeng-dongeng yang ada saat ini, memiliki struktur penokohan yang amat kentara: antagonis versus protagonis. Sekali lagi, yang baik selalu menang. Protagonis selalu meraih kehidupan yang menyenangkan.

Cerita Mengerikan

Siapa sangka, ternyata kehidupan indah dongeng memiliki masa lalu yang kelam. Sebut saja cerita Cinderella yang menjadi pembuka artikel ini. Kisah Cinderella yang selama ini kita tahu merupakan kisah yang telah dimodifikasi. Dihaluskan.

Dalam kisah saat ini kedua saudara tiri Cinderella memaksakan diri untuk memakai sepatu kaca milik Cinderella, namun mereka menyerah karena tidak cukup, bukan? Oh, kenyataannya tidak! Ibu mereka meminta dua bersaudara tersebut untuk memotong kaki mereka agar dapat mengenakan sepatu milik Cinderella. Hal tersebut membuat darah mengalir dan membuat kebohongan mereka terkuak.

Lalu, bukankah Cinderella diceritakan sebagai gadis baik hati yang pemaaf? Ternyata, tidak juga! Dalam cerita aslinya, Cinderella membiarkan para merpati mematuk mata ibu tiri serta kedua saudara tirinya. Tidak hanya itu, ia juga menghukum ketiganya yang telah mengalami kebutaan, hingga akhir hayat mereka.

Tak hanya Cinderella, dongeng-dongeng yang lain pun telah mengalami modifikasi sedemikian rupa agar sesuai dengan perikemanusiaan saat ini. Mungkin pada zaman dulu, cerita sadis adalah cara yang ampuh untuk memperingatkan anak-anak. Seiring berjalannya waktu, cara penyampaian pesan pun terus berubah.

Satu hal yang pasti tidak akan berubah adalah pesan itu sendiri. Pesan kehidupan yang disampaikan lewat imajinasi ini, baik secara halus maupun kasar, selalu sama. “Kejahatan tidak akan pernah berbuah kebahagiaan.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY