SHARE

Judul      : Simulakra Sepakbola

Penulis   : Zen Rahmat Sugito

Penerbit : Indie Books Corner

Tebal     : 258 halaman

Cetakan : 2016

Harga    : 70.000

 

“Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka bisakah tayangan sepak bola kini dianggap lebih sporty daripada sepak bola itu sendiri?”

Membicarakan tulisan sepak bola, rasanya tidak adil jika tidak menyebut nama Zen Rahmat Sugito. Pria yang lebih dikenal dengan sebutan Zen RS ini merupakan salah satu orang yang memopulerkan penulisan sepak bola di era digital. Terlebih ketika beliyo mendirikan ‘pedepokan’ bernama Pandit Football.

Setelah ‘melahirkan’ buku pertama berjudul Traffic Blues: Saat Hujan Deras dan Jalanan Mulai Tergenang pada 2011 yang sekaligus menjadi ‘buku nikah’ dan dilanjutkan dengan novel berjudul Jalan Lain ke Tulehu: Sepakbola dan Ingatan yang Mengejar tiga tahun berselang, Zen datang lagi dengan mahakarya terbarunya berjudul Simulakra Sepakbola.

Simulakra Sepakbola merupakan kumpulan esai sepak bola karya Zen. Dalam buku ini, ia menyajikan kekhasannya dalam menulis, yakni lihai menceritakan pengalamannya secara langsung dengan sepak bola, membingkai sepak bola dari berbagai perspektif, hingga mencampur-baurkan sepak bola dengan sejarah.

Soal kelihaiannya menceritakan pengalaman secara langsung dengan sepak bola ia tunjukkan pada beberapa esai di bagian awal buku. Esai berjudul Sepatu Bola Pertama yang begitu nostalgik atau Kebahagiaan Sepakbola Agustusan yang menceritakan ritus peralihannya menjadi seorang pemuda desa, misalnya.

Kedua esai itu barangkali membuat para pembaca heran sekaligus iri, mengapa Zen RS yang telah berusia 30-an tahun begitu ingat momen-momen masa kecilnya? Ternyata, sejak kecil Zen telah terbiasa menulis sehingga ingatannya begitu terjaga. Bagi Zen, seperti dikutip dari majalah dJatinangor, kegiatan menulis penting dilakukan manusia sebagai upaya merawat ingatan. Terlebih bagi masyarakat Indonesia yang punya penyakit lupa sejarah, serta gemar memilih dan memilah memori yang ada.

Zen juga seolah tidak ingin melewatkan momen sekecil apapun. Ia merekam peristiwa kecil di bench pemain di tengah keriuhan dan kebahagiaan Bobotoh saat Persib meraih juara liga tahun 2014 di Jakabaring. Membaca esai ini, terutama bagi Bobotoh, bisa membangkitkan kembali memori sakral tentang peristiwa bersejarah 7 November 2014 di Jakabaring yang bikin merinding.

Zen, seperti yang sering dilihat dalam banyak tulisannya di Pandit Football, juga piawai mengupas tuntas sepak bola dari berbagai perspektif, seperti yang ia tunjukkan pada esai berjudul Simulakra Sepakbola yang sekaligus menjadi judul buku. Di sana, ia membicarakan sepak bola dewasa ini yang tidak lagi dinikmati secara utuh. Sebab kebanyakan orang lebih memilih menyaksikan sepak bola yang disodorkan layar kaca.

Terjadi simulasi, kata Zen. Simulasi, dalam hal ini kira-kira bermakna proses di mana gambaran atas suatu objek justru menggantikan realitas atau kedudukan objeknya. Sepak bola itu sendiri, rasanya sudah kalah nilainya dengan tayangan sepak bola yang disuguhkan layar kaca. Maka, ia pun memberi pertanyaan seperti yang terlihat pada kutipan di awal tulisan ini, “Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka bisakah tayangan sepak bola kini dianggap lebih sporty daripada sepak bola itu sendiri?” (Halaman 54).

Selain sebagai penulis sepak bola, Zen juga dikenal sebagai seorang sejarawan. Tak mengherankan apabila ia kemudian menceritakan sepak bola pada masa Hindia Belanda ketika dipimpin Cornelis de Jonge atau saat ia coba menyusun sedemikian rupa Kesebelasan Bapak Bangsa.

Zen menyusun Simulakra Sepakbola ke dalam beberapa bab. Dan, tiap bab dalam buku tersebut terdiri dari beberapa tulisan yang dibagi dengan porsi berbeda di tiap babnya, yaitu (1) Jejak, (2) Dunia Simulasi, (3) Koloni Bola, dan (4) Narasi Kaki-kaki.

Sejak kecil, Zen merupakan seorang pembaca yang getol. Itu tercermin pada mukadimah buku ini. “Ini hari ketiga ia membacanya. Dan akhir itu sudah makin dekat. Halaman penutup hanya tinggal menghitung detik. Ia membaca dengan keingintahuan yang tak sabar. Sekitar 10 menit kemudian, ketika kawan-kawan main bolanya belum kelar menyelesaikan sesi pemanasan, ia telah lebih dulu menamatkan bacaannya,” tulis Zen. Sampai sekarang pun, Zen tak pernah tinggal membaca.

Maka tak heran apabila analisis dalam tulisannya begitu tajam serta kaya akan referensi dan data. Ia banyak sekali menyebut tokoh-tokoh tertentu, para penulis, buku-buku, hingga bacaan-bacaan lain non-sepakbola yang tidak akrab di telinga pembaca. Hal ini bisa dilihat sebagai ajakan agar para pembaca turut membaca dan mencari tahu, seperti apa itu rite de passage atau siapa itu Jorge Luis Borges, George Orwell, dan Sartre.

Pada kalimat yang saya kutip itu pula, terdapat makna yang tersirat, yakni pada “kawan-kawan main bolanya belum kelar menyelesaikan pemanasan” dan “lebih dulu menamatkan bacaannya”. Makna yang tersirat itu adalah bahwa Zen hendak beranjak mengupas sepak bola dengan kepustakaan yang begitu digemarinya. Memang begitulah Zen RS. Ada kecintaan terhadap sepak bola sekaligus kegandrungan terhadap pustaka.

Simulakra Sepakbola merupakan salah satu bentuk kepedulian Zen dalam mengembangkan genre penulisan sepakbola di Indonesia. Di dalamnya terkandung semangat untuk mengubah perspektif orang-orang terhadap sepakbola dan penulisan sepak bola itu sendiri. Zen seolah ingin menunjukkan bahwa sepak bola tak lagi menjadi sebuhul pertandingan sebelas orang melawan sebelas orang, bahwa sepak bola tidak hanya membahas profil serta taktik dan analisis semata. Lebih dari itu, sepak bola dapat dibahas secara serius, seperti halnya aspek-aspek lain. Sebab semuanya juga lahir dari olah pikir dan kreasi manusia.

“Sepakbola demikian diminati dan digilai, tapi agaknya tidak pernah dianggap serius. Purbasangka terhadap aktivitas fisik sebagai hal yang kotor, yang terperam dalam-dalam di khazanah intelektual, memberi andil yang tidak sedikit untuk situasi ini. Tekel-tekel keras atau adu badan agaknya dianggap tidak sepenting aktivitas berpikir dan dunia ide-ide. Sepakbola dan/atau olahraga dicurigai tak punya sumbangsih apa-apa dalam pertumbuhan suatu kebudayaan dan peradaban. Tidak seperti agama, teknologi, film, sastra, atau seni, misalnya,” tulis Zen di halaman 96 bukunya.

(Angga Septiawan P.)

Artikel ini terbit di rubrik Pabukon Harian Umum Pikiran Rakyat pada Kamis, 24 November 2016.

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY