SHARE
Shuttle gratis khusus mahasiswa siap berangkat menuju Universitas Padjadjaran (Unpad) Dipati Ukur, Bandung, Kamis (6/4). Shuttle ini merupakan fasilitas dari Unpad yang diluncurkan Selasa (4/4) lalu. (Gisella Gianina)
Shuttle gratis khusus mahasiswa siap berangkat menuju Universitas Padjadjaran (Unpad) Dipati Ukur, Bandung, Kamis (6/4). Shuttle ini merupakan fasilitas dari Unpad yang diluncurkan pada Selasa (4/4) lalu. Foto oleh: Gisella Gianina. 

Oleh Gisella Gianina

Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) diberi kejutan menyenangkan lewat Official Account (OA) LINE Keluarga Mahasiswa (Kema) Unpad di awal April ini. Kabar telah disediakannya shuttle gratis Jatinangor-Dipati Ukur bagi mahasiswa Unpad di media sosial tersebut menuai ratusan komentar yang menyuarakan pujian, pertanyaan, hingga rasa khawatir.

Sekitar pukul 12 siang itu, sejumlah bus DAMRI sudah bertengger manis di dekat Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran, Kamis (6/4). Satu di antaranya adalah bus khusus mahasiswa yang akan berangkat pukul 1 siang. Pintu bus itu terbuka lebar, tapi jok mobil masih sepi tak berpenghuni kala itu. Bukan hal aneh, mengingat waktu keberangkatan masih satu jam lagi. Tak lama, seorang lelaki berseragam menginjakkan kaki ke dalam bus. Namanya Deden Supriyadi. Ia bertugas mengantar para mahasiswa Unpad Jatinangor menuju Dipati Ukur, begitu pun sebaliknya, dari Senin sampai Jumat tanpa pungutan biaya.

Setiap Senin dan Selasa, Deden berangkat mengantar mahasiswa Unpad Jatinangor ke Dipati Ukur pukul 6 pagi. Sementara untuk Rabu hingga Jumat, Deden meluncur dari Jatinangor ke Dipati Ukur saat matahari sedang terik-teriknya, pukul 1 siang. Sembari menunggu waktu keberangkatan menuju Jatinangor yang dilakukan pada pukul 4 sore, biasanya Deden mengisi waktu itu dengan mengobrol atau sekadar makan dengan rekan-rekannya.

Menurut Deden, sejak diluncurkannya shuttle gratis pada Selasa lalu, belum banyak mahasiswa yang menggunakan fasilitas ini. Pada Rabu kemarin, bus dari Jatinangor keberangkatan pukul 1 siang hanya membawa 21 orang, sedangkan bus dari Dipati Ukur keberangkatan pukul 4 sore hanya membawa 35 penumpang. Padahal, shuttle mahasiswa ini telah dimodifikasi hingga memiliki 55 jok penumpang, berbeda dengan bus DAMRI biasa yang hanya memiliki sekitar 30 jok penumpang. “Supaya tidak ada yang berdiri,” kata Deden.

Dedikasi tinggi ditunjukkan sang sopir dan Perum DAMRI dalam melayani mahasiswa-mahasiswa Unpad. Dalam fasilitas ini, telah disediakan sopir dan kendaraan yang dikhususkan untuk pelayanan shuttle mahasiswa, sehingga sopir tidak ditugaskan untuk “narik” penumpang seperti biasanya. Deden bercerita, ia sempat dimarahi atasan saat hendak “narik” dengan DAMRI jalur lain selagi menunggu keberangkatan shuttle mahasiswa selanjutnya. “Takutnya ada masalah di jalan, mahasiswa butuh mendadak, mobil tidak ada. Kan gantinya sulit,” ucap Deden.

Mahasiswa Turut Terlibat

Cikal bakal shuttle bus Unpad Jatinangor-Dipati Ukur rupanya diawali adanya kendala jarak antara Kampus Unpad Jatinangor dan Kampus Unpad Dipati Ukur. Kebutuhan mahasiswa yang cukup tinggi untuk mobilisasi antar cabang terjawab melalui kerja sama antara Universitas Padjadjaran dan Perusahaan Umum (Perum) Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) Kota Bandung dengan hadirnya fasilitas shuttle gratis Unpad arah Jatinangor-Dipati Ukur, begitu pun sebaliknya. Untuk mengakses fasilitas gratis tersebut, mahasiswa harus menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) pada sopir.

Shuttle Unpad yang melewati Tol Cileunyi-Pasteur ini, setiap hari berangkat dari Dipati Ukur-Jatinangor pukul 6 pagi dan pukul 4 sore. Sementara itu, untuk keberangkatan dari Jatinangor-Dipati Ukur, sedikti berbeda. Setiap Senin dan Selasa keberangkatan awal dilakukan pukul  6 pagi, sedangkan Rabu hingga Jumat keberangkatan awal dilakukan pada pukul 1 siang . Untuk keberangkatan sore, bus Jatinangor-Dipati Ukur dilakukan pukul 5 sore. Mahasiswa yang berangkat dari Dipati Ukur dapat menunggu di depan kampus DU, sementara mahasiswa yang berangkat dari Jatinangor dapat menunggu di rektorat, fakultas masing-masing, atau shelter DAMRI di depan Kampus Unpad Jatinangor.

Shuttle Unpad yang ditujukan untuk mahasiswa ternyata benar-benar melibatkan mahasiswa dalam prosesnya. Rute yang dilewati  hingga waktu keberangkatan diputuskan dari hasil Mega Survey Shuttle Unpad yang dilakukan Kema Unpad, pada tanggal 13-18 Maret lalu. Namun, Irwan Ary Dharmawan, Direktur Sarana Prasarana Unpad menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak selamanya berlaku.

“Kita akan evaluasi jam-jam tersebut. Kita lihat satu bulan kita jalan, kita evaluasi. Apakah memang tingkat okupansinya di atas 80%,” kata Irwan perihal waktu keberangkatan shuttle saat wawancara dengan Radio Unpad dan Sibiru, Kamis (6/4). Bila tingkat okupansinya rendah, maka waktu keberangkatan dapat diubah. Begitu juga dengan rute yang dilewati.

Zulkifli Ahmad selaku Kepala Bidang Dinamisasi Kampus dan Kebijakan Publik  (DKKP)  Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM Kema) Unpad turut menghimbau mahasiswa untuk mengevaluasi pelayanan shuttle Unpad melalui contact person yang sudah dicantumkan di akun LINE Kema Unpad atau via surel shuttleunpad@gmail.com. Menurutnya, dengan evaluasi terus-menerus shuttle Unpad dapat menjadi semakin layak hingga menjadi fasilitas tetap untuk mahasiswa.

“Kami dari tim sih harapannya ini jangka panjang. Jadi bukan hanya kepengurusan kali ini saja tapi memang nanti bisa sampai kepengurusan selanjut-selanjutnya,” kata Zulkifli.

Berpotensi Konflik

Kabar tentang shuttle gratis di Unpad disambut dengan gembira oleh para mahasiswa Unpad. Salah satunya Rani Surya Resiana, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Jatinangor, Sumedang. Gadis yang akrab dipanggil Keteng ini seringkali harus bolak-balik Jatinangor-Dipati Ukur karena keadaan fakultasnya yang terpisah di dua tempat.

“(Shuttle) sangat membantu. Aku sangat memanfaatkan itu. Shuttle tidak gratis saja bermanfaat, apalagi gratis,” ucap Keteng.

Selain respon positif seperti Keteng, ada juga respon dari mahasiswa yang khawatir akan potensi timbulnya konflik antara shuttle Unpad dan angkutan umum di sekitar area Jatinangor dan Dipati Ukur. Beberapa komentar bernada cemas dapat ditemukan di bawah postingan OA LINE Kema Unpad tentang fasilitas baru ini. Menanggapi kekhawatiran tersebut, Zulkifli kembali menekankan pentingnya evaluasi dari mahasiswa untuk shuttle Unpad. “Ada gesekan-gesekan dengan pihak angkutan umum, misalnya, itu nanti silakan saja dilaporkan ke CP yang ada di Kema Unpad,” tutur Zulkifli.

Di lain pihak, Irwan mengaku bahwa sejauh ini belum ada langkah-langkah antisipasi dari kampus untuk konflik yang mungkin timbul. “Itu (konflik) terjadi waktu bus untuk karyawan dan dosen itu ada. Khususnya untuk ojek,” cerita Irwan. Meski demikian, Irwan tidak khawatir akan munculnya konflik dengan angkutan umum, karena menurutnya hanya DAMRI lah angkutan umum yang memfasilitasi rute Jatinangor-Dipati Ukur.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY