SHARE
Festival Buku Anak
“Paman Larry” begitu ekspresif mendongeng di hadapan anak-anak pada gelaran festival buku anak “Baca Buku Buka Dunia” di Taman Cinta Kampus ITB Bandung, Minggu (23/4). Foto oleh: Nisa Maria Ulfa.

Oleh Nisa Maria Ulfa

Masih ingatkah kalian dengan tokoh-tokoh dalam buku bacaan sewaktu kecil? Kancil yang cerdik, Malin Kundang yang durhaka, atau tokoh Gatotkaca yang gagah. Tak heran, jika tokoh-tokoh tersbut masih ada dalam ingatan. Sebab, menurut ahli desain dan ilustrasi buku anak, Riama Maslan Sihombing, ketika anak membaca buku akan ada nilai-nilai yang ia bawa hingga ia dewasa. Begitupun dengan tokoh-tokoh fiksi yang terdapat dalam buku bacaan semasa kecil, akan terus diingatnya. Dengan begitu, Riama menegaskan, jangan main-main ketika membuat buku anak.

Upaya meningkatkan minat baca di masyarakat terus digiatkan oleh komunitas yang memiliki perhatian khusus pada budaya literasi. Pada Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April ini, Pustakalana sebagai perpustakaan anak berbasis komunitas menggelar festival buku anak bertajuk “Baca Buku Buka Dunia” di Taman Cinta Kampus ITB Bandung. Meski banyak kegiatan yang diperuntukan untuk anak, pada festival ini terdapat pula diskusi publik untuk dewasa mengenai literasi visual pada anak melalui buku bacaan.

Setengah dari pengetahuan anak-anak didapatkan melalui visual. Visual pada anak akan membangun makna tersendiri dalam benaknya. Dengan literasi visual, dapat melatih pemahaman anak untuk mengetahui hal-hal baru. Nantinya, apa yang anak lihat akan ia sampaikan secara verbal.

Buku bacaan yang memiliki visual yang baik dapat meningkatkan minat membaca pada anak. Melalui visualisasi tokoh-tokoh yang disukai anak, pelajaran yang hendak ditanamkan pada anak akan mudah disampaikan. Tokoh-tokoh yang kini banyak disukai anak adalah tokoh binatang. Uniknya, dunia anak yang begitu sederhana tidak akan memprotes mengenai keberadaan binatang yang dapat berbicara atau ceritanya yang tidak realistis. Mereka justru gembira mendengarkan kisah-kisah binatang.

“Tokoh binatang pada buku bacaan anak sebetulnya menceritakan kehidupan kita yang begitu kompleks, menceritakan tentang karakter, menceritakan tentang perjuangan, juga menceritakan tentang proses dalam hidup kita, ” ungkap Riama.

Riama memberi contoh buku yang berkisahkan tentang seekor katak yang hendak menjadi lembu. Kisahnya divisualisasikan dengan sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Melalui cerita ini, memberi pemahaman pada anak jika ia harus mengetahui sampai di mana kemampuannya. Anak juga akan lebih mudah memahami konteks cerita jika cerita-cerita yang dipaparkan mengenai peristiwa yang terjadi sehari-hari dan dekat dengan mereka, seperti tentang lingkungan.

Menurut penulis buku anak, Angi St. Anggari, literasi visual ini menjadi penting karena gambar ada di sekitar anak. Melalui visual juga akan memudahkan anak memahami teks bacaan. Angi mencontohkan, ketika ada teks yang menjelaskan sebuah sepatu, anak-anak akan lebih mudah memahami konsep sepatu itu jika teks tersebut disertai ilustrasi sepatu. Visual ini akan berguna untuk anak yang baru belajar membaca. Hal ini dapat memperkaya kosakata mereka, juga meningkatkan kemampuan mereka untuk memprediksi.

Usia dini pada anak yaitu, 0-5 tahun merupakan golden ages (masa keemasan) bagi perkembangan kecerdasan anak. Dengan begitu, penting untuk memberikan rangsangan pada anak usia dini. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam merangsang kecerdasan anak di masa keemasannya. Memperkaya literasinya dengan konten visual salah satunya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY