SHARE
Ilustrasi. Sumber: Tempo.co
Ilustrasi. Sumber: Tempo.co

Oleh Rizki Maulana

Tepat tanggal 21 April 2017, 138 tahun yang lalu sosok pejuang perempuan asal Jepara lahir. Dia adalah R.A Kartini, sosok yang menjunjung tinggi emansipasi wanita pada saat zaman kolonial dahulu. Kartini berjuang melawan pandangan bahwa wanita sekadar di rumah saja mengurusi pekerjaan rumah tangga dan dahulu wanita Indonesia memiliki status sosial yang jauh tertinggal dari wanita-wanita Eropa.

Kartini wafat selang empat hari melahirkan Soesalit Djojoadhiningrat anak pertamanya. Wafatnya Kartini tidak membuat perjuangannya putus sampai disitu saja. Sahabat Kartini seorang warga Belanda bernama Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht atau yang biasa kita kenal “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Emansipasi adalah sebuah proses pelepasan diri para wanita kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari kekangan hukum yang membuat para wanita tidak dapat berkembang dan maju.

Nasib Tim Nasional Sepakbola Wanita Indonesia

Sepakbola memang olahraga yang banyak dipuja di Indonesia, tetapi apakah pujaan tersebut ada pada tim sepakbola putri di Indonesia. Nama-nama seperti Rulin Aspalek, Ade Mustikiana, dan Dewi Maysaroh kalah terkenal jika dibandingkan dengan dua pemain asal Amerika Serikat Alex Morgan dan Hope Solo.

Sudah seharusnya mereka diberi perhatian yang sama seperti timnas sepakbola pria. Tim sepakbola wanita Indonesia hanya berada di urutan ke-126. Pemberitaan tentang sepakbola wanita Indonesia sangat jarang dimuncul di media, jika ada itupun hanya berita-berita seperti “Pemain Sepakbola Wanita Tercantik”. Sangat jauh dari kesan prestasi dan membanggakan.

Jika dibandingkan dengan sepakbola pria yang bisa dibahas mulai dari skill, prestasi, perannya di lapangan dan harga transfer yang fantastis.

Tim Sepakbola Wanita U-15 akan mengikuti Piala AFF 2017 di Laos 2017 bulan Mei nanti. Terakhir kali mereka mengikuti sebuah kejuaraan Internasional, mereka tidak dapat berbicara banyak dengan menelan tiga kekalahan beruntun. Kalah 10-1 dari tim Gajah Putih Thailand, 7-0 dari Austalia U-20 dan yang paling miris kalah 2-0 dari Laos.

Pelatih Tim Sepakbola Wanita U-15 Rully Nere mempunyai sebuah harapan tentang perkembangan sepakbola wanita di Indonesia. Dia berharap pada pengurus PSSI yang baru, karena kurangnya perhatian pengurus PSSI yang dahulu.

“Kepengurusan lama saya akui kurang ada perhatian. Saya harap hal itu tidak pernah terulang karena saya yakin Indonesia bisa menjadi negara besar lewat sepak bola putri,” ucapnya. Dikutip dari harnas.com

Setelah dua tahun vakum dari perhelatan Internasional, Tim sepakbola wanita Indonesia U-15 akan berada satu grup dengan Filipina, Singapura, Kamboja, dan Timor Leste di grup B.

Ade Welington selaku Sekjen PSSI berjanji akan membangun kembali sepakbola wanita Indonesia mulai dari usia muda.

“Yang jelas kami terus dukung sepak bola putri. Konsepnya hampir sama pada kelompok putra, kami bangun dari bawah hingga matang di tingkat senior,” Jelas Ade.

Empansipasi Wanita Terhadap Timnas Sepakbola Wanita

Masyarakat Indonesia masih ada yang mempunyai pemikiran ketika ada wanita yang bermain sepakbola akan dianggap sebagai hal yang aneh. Kalaupun ada mereka akan disebut sebagai wanita yang tomboy.

Kiper Timnas Putri Indonesia,Vera Lestari mengatakan kurangnya perhatian dari Pemerintah dan PSSI berdampak bagi perkembangan sepakbola wanita di Indonesia.

“Awalnya dari pemerintah sendiri tidak diperhatikan. Pengeksposan juga kurang. Dari PSSI juga tidak ada pembibitan dan regenerasi sepakbola wanita,” kata Vera dikutip dari Bola.net

Emansipasi wanita yang diperjuangkan oleh oleh R.A Kartini menekankan baik pria maupun wanita mempunyai hak yang sama.

Emansipasi wanita memang sudah banyak di dunia politik, ekonomi, dan pendidikan Indonesia, tetapi jika dilihat dari kacamata sepakbola wanita hal tersebut belum muncul. Hal tersebut terlihat dengan belum adanya kompetisi profesional secara resmi yang digelar oleh PSSI seperti yang dilakukan terhadap pria.

Semangat perjuangan dan jiwa Kartini itu juga mungkin bisa menjadi inspirasi para wanita yang berprofesi sebagai pesepakbola di Indonesia ini .Terlepas dari minimnya pembinaan usia dini, kompetisi wanita di indonesia, dan ekstrimnya lagi minimnya prestasi . Sudah saatnya tim nasional wanita Indonesia bangkit.

 

Tulisan ini telah dimuat di portal Kumparan.com pada Minggu, 23 April 2017.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY