SHARE
Sumber: http://manado.tribunnews.com
Sumber: http://manado.tribunnews.com

Oleh Rosydinda Deselia

Malam ini, aku bertemu seorang laki-laki. Ia menghubungiku dengan sangat sopan walau tetap bertujuan tidak sopan. Ia bilang ingin bertemu denganku di salah satu kafe terkenal di kota ini. Aneh memang sebab tak langsung di kamar hotel. Ia akan membayarku dengan besar untuk menemaninya makan malam sesaat. Aku menerimanya dengan senang hati ditambah dengan satu syarat bahwa semua pengeluaranku di kafe ini menjadi pengeluarannya dan aku tidak mau beraksi di tempat yang murah-murah. Aku mau di tempat yang mewah. Tanpa pikir panjang, pesanku dibalas dengan cepat olehnya.

“Oke. Sampai ketemu, mbak.”

Menerima pesan itu membuatku tertawa tak henti. Baru kali ini aku dipanggil mbak oleh pelanggan. Biasanya mereka seenaknya memanggilku. Si seksi, si pemilik payudara besar, si manis, si cantik, si putih, dan si lainnya yang sebenarnya membuatku tak nyaman. Sebenarnya, aku agak ragu untuk menerima ajakannya. Aku merasa ada keanehan dari lelaki ini. Pasti dia ada maksud lain dan bukan hanya ingin menggunakanku sebagai boneka pemuas hasratnya. Tapi, di sisi lain, aku penasaran dengan lelaki yang sopan ini. Mungkin, aku akan mendapatkan hal yang berbeda darinya? Mungkin saja.

Pukul 21.00, aku bertemu dengannya di kafe tersebut. Aku sengaja memakai pakaian yang paling biasa dengan riasan yang sangat alami. Aku ingin mengetesnya saja. Tapi, selama hampir dua jam kami mengobrol, tak ada satu pun komentarnya mengenai penampilanku. Ia sibuk bercerita tentang hidupnya, keluarganya, dan pekerjaannya, pun aku juga sibuk bercerita tentang hidupku.

“Rumahmu di mana?” tanyanya di tengah tawaku yang belum usai sejak ia bercerita tentang pengalaman buruknya di kafe ini.

Aku terdiam dan berpikir sejenak. Di manalah harus kusebutkan rumahku. Sejak kecil aku tinggal bersama mami di rumah dengan satu lantai dansa, bar, dan beberapa kamar. Dan aku tahu betul itu bukan rumahku. Aku tahu betul mami bukan ibu kandungku. Ia tak pernah mendidikku untuk menjadi wanita sesungguhnya yang kerap kulihat di televisi. Mami malah mendidikku untuk menjadi kesenangan lelaki seperti Mami mengajarkan anak perempuan lainnya di rumah itu.

“Kok diam?” tanyanya. Aku menoleh padanya masih sambil berpikir sejenak.

“Aku tak punya rumah,” kataku.

Dia memasang wajah terkejut. Tapi, kemudian ia kembali santai. “Kalau begitu, tinggallah bersamaku. Rumahku terlalu luas untuk dihuni satu orang saja.”

Aku menatapnya yang menatapku lebih dalam. Ada apa dengan orang ini? Awalnya, mengajakku untuk ke kafe, kemudian ia menyetujui semua keinginanku, kini ia mengasianiku dengan mengajakku utuk tinggal bersamanya? Entah apa yang dipikirkannya, tapi apakah laki-laki selalu seperti ini?

Pernah aku diiming-imingi untuk menjadi istri simpanan, ya lelaki itu juga mengasiani nasibku yang tidak punya pilihan ini. Yang mau tidak mau harus tinggal di tempat menjijikkan ini dan kemudian besar menjadi salah satu bagian dari hal yang jijik ini. Tapi, memangnya tinggal bersama lelaki itu sebagai istri simpanan bukan hal yang menjijikkan? Bahkan aku sudah ingin muntah membayangkannya.

Pernah juga ada lelaki muda berseragam yang berkali-kali datang ke rumah Mami hanya untuk menemuiku yang bilang padaku bahwa ia memakai uang sekolahnya hanya untuk bisa sejam dua jam bersamaku. Sudah lama aku tak menemui bocah SMA itu. Mungkin sudah sekitar 5 tahun. Belakangan ku dengar ia dipindahkan keluarganya untuk bersekolah di Amerika.

Sebenarnya, aku tidak hanya mendengar. Ia menemuiku di rumah Mami. Ia tak membawa uang sepeserpun, tapi ia memohon pada Mami untuk hanya sekedar bertemu denganku, tidak untuk saling bertransaksi, melainkan hanya untuk mengobrol.

Mami memanggilku yang sedang berias di kamar pribadiku. Aku menolak untuk bertemu bocah itu. Enak saja, tak bawa uang ingin bertemu, aku juga punya harga diri kali. Tapi, Mami memaksa. Katanya, biar Mami yang membayarku sebagai gantinya. Entah salah atau tidak, sepertinya Mami yang jatuh cinta pada bocah ingusan itu. Ia begitu kasian pada lelaki itu dan mau mengeluarkan uang untuk membuat lelaki itu bahagia. Bukankah Mami adalah orang yang sangat pelit dan perhitungan masalah uang?

Aku tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Aku menemui bocah itu. Ia memelukku, tapi aku mendorongnya.

“Kalau tidak punya uang, tak usah pegang-pegang, apa lagi memelukku.” Kataku dengan kesal padanya.

“Maaf. Maafkan aku. Aku… ke sini hanya ingin berpamitan. Malam ini, aku akan berangkat ke Amerika. Semua kelakukanku sudah diketahui keluarga. Oleh karena itu, mereka memaksa untuk membawaku ke Amerika.”

“Lalu, apa hubungannya denganku?”

“Aku ingin memberikan ini padamu sebagai tanda perpisahan. Kamu cinta pertamaku. Entah apa aku bisa mencintai wanita lain lagi selain dirimu. Ini ambillah.”

Ia menyerahkan sebuah liontin yang berbentuk tanda hati atau biasa disebut bentuk love. Aku menerimanya dengan jutek. Peduli setan, bocah ini mau pergi atau ke mana. Toh dia juga tak berpengaruh apa-apa bagiku. Permainannya jelek. Burungnya kecil. Sudah kecil cepat lagi mengeluarkan cairannya. Tubuhnya kurus, tidak ada otot. Tak asik bermain dengannya.

“Aku menyimpan juga satu. Aku harap ini bisa membuat kita tetap saling mengingat.” Katanya sambil tersenyum dan menunjukkan satu buah liontin yang mirip dengan yang ia berikan padaku.

Aku hanya mengangguk-angguk, tanpa tersenyum, memasang raut wajah sedih, atau terlihat tertarik dengan liontin yang ia berikan. Aku hanya diam mendengar bocah ini berbicara seperti guru yang mendengarkan muridnya yang paling bodoh menjelaskan pelajaran.

“Baiklah, kalau begitu aku pamit, ya. Sampai ketemu.” Aku mengangguk lagi. Ia pun berlalu meninggalkanku di teras rumah Mami. Tak berapa lama, Mami datang.

“Bocah itu benar-benar jatuh cinta padamu.” Bisik Mami tepat di telingaku yang mengagetkanku.

“Ah, Mami! Bikin kaget saja.” Dumelku.

“Kamu dikasih apa tuh sama dia?”

Aku mengangkat liontin yang diberikan bocah tadi, “Oh ini? Nih buat Mami saja. Liontin 5000-an.” Aku berlalu masuk ke dalam rumah Mami.

Sejak saat itu, aku sudah tak pernah melihat liontin itu atau membicarakan tentang bocah itu atau mendengar kabarnya. Aku benar-benar tak peduli dengannya.

“Hey! Kenapa diam saja?” seru lelaki yang duduk di depanku di kafe mewah itu. Aku gelagapan mengangkat mataku ke arahnya.

“Kamu ngelamunin apa sih?”

Aku menggeleng, “Tidak. Bukan apa-apa. Salah satu bagian hidupku yang tak penting.”

“Jadi, bagaimana? Maukah kamu tinggal bersamaku?”

Aku refleks melemparkan gelas berisi vanilla latte-ku pada wajahnya. Aku murka. Seenaknya saja memintaku untuk tinggal bersamanya. Memangnya aku ini apa? Wanita panggilan? Atau wanita undangan? Atau wanita ajakkan? Dikit-dikit ditawari tinggal bersama, dikit-dikit dicintai pelanggan. Aku ini profesional.

“Kalau kamu membayarku hanya untuk diajak tinggal bersamamu dan makan di kafe ini, lebih baik tidak usah sama sekali! Aku ini cuma sedia jasa memuaskan hasrat seksual laki-laki bukan jasa menjadi pendamping hidup lelaki.”

Aku melemparkan uang yang tadi ia berikan padaku di awal sebagai dp, lalu keluar dari kafe itu dengan cepat, murka, dan penuh amarah. Tak peduli walau seisi kafe memandangku kaget dan bingung. Bukan aku yang seharusnya malu. Laki-laki itu yang harusnya malu sebab tak profesional dan merendahkan martabat perempuan sepertiku!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY