SHARE

Oleh Syifa Nuri K.

Bicara tentang Sumedang, hal pertama yang terlintas di pikiran pastilah tahu sumedang. Penganan khas Sumedang itu memang luar biasa terkenal karena rasanya yang gurih dan berbeda dengan tahu lainnya. Tapi ternyata, Sumedang tidak hanya punya itu. Sumedang menyimpan ragam wisata alam nan memanjakan mata yang masih belum banyak dijamah orang. Salah satu kawasan wisata tersebut adalah Curug Gorobog—curug adalah bahasa Sunda dari air terjun. Curug empat tingkat ini berada dekat pusat kota Sumedang, membuatnya menjadi permata tersembunyi milik Sumedang.

Rasa sejuk dan tenang langsung terasa ketika saya mulai memasuki kompleks wisata Curug Gorobog yang terletak di daerah Citengah, Sumedang Selatan, Jawa Barat. Gemericik air yang terdengar menciptakan suasana nyaman. Dengan bau tanah basah yang khas membuat saya menarik napas begitu dalam, menikmati udara yang begitu segar. Setelah dua jam duduk di atas sepeda motor, mendaki gunung dan melewati lembah, juga sawah dan perkebunan teh, akhirnya saya sampai di tempat tujuan. Di depan saya terlihat jelas berdiri kokoh, gerbang tua bertuliskan “Selamat Datang di Curug Gorobog”.

Dari gerbang tua di depan, saya bisa membawa sepeda motor untuk masuk. Tak perlu berjalan jauh, sekitar 10 meter dari gerbang, sudah terlihat Curug Gorobog menjulang indah. Sepintas saya melihat, ukuran curug ini tak sangat besar atau sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan curug lain yang pernah saya kunjungi, seperti Curug Cinulang atau Curug Cipongkor, curug ini yang paling kecil. Sempat saya merasa agak kecewa. Namun setelah mendekati curugnya, terlihat bahwa daya tarik utama curug ini bukanlah pada ukurannya.

Letaknya yang bukan di hulu membuat Curug Gorobog tak memiliki ketinggian atau ukuran yang besar. Daya tarik utama Curug Gorobog justru terletak pada bentuknya yang unik. Ada empat tingkatan yang dimiliki curug ini. Tingkat paling bawah berada tepat di depan pintu masuk. Alirannya sangat besar, merupakan pembuangan terakhir air yang mengalir dari puncak curug. Paling nyaman dijadikan tempat berenang dan bermain air karena airnya cukup dalam.

Tingkat keempat Curug Gorobog nampak dari kejauhan. Foto oleh: Syifa Nuri K.
Tingkat keempat Curug Gorobog nampak dari kejauhan. Foto oleh: Syifa Nuri K.

Lalu tingkat ketiga, agak sulit untuk diakses. Pengunjung harus mendaki sedikit jalanan kecil di sisi kiri curug. Bentuknya seperti tebing, namun sudah diberi pagar pembatas sehingga mempermudah pengunjung yang mendaki. Tingkat ketiga ini yang paling indah dan paling besar. Terdiri dari dua aliran, ada yang kecil di sisi kiri dan besar di sisi kanan. Tingkat ketiga ini tak memiliki kedalaman sedalam tingkat keempat. Namun ada banyak ornamen seperti pohon-pohon kecil di tengah aliran curug, atau bebatuan besar dan kecil yang bisa dijadikan tempat berfoto ria. Biasanya pengunjung duduk-duduk santai menikmati curug dari tingkat ketiga ini.

Tingkat ketiga Curug Gorobog, tingkat paling indah dan besar. Tempat ini sering menjadi latar berfoto para pengunjung curug. Foto oleh: Syifa Nuri K.
Tingkat ketiga Curug Gorobog, tingkat paling indah dan besar. Tempat ini sering menjadi latar berfoto para pengunjung curug. Foto oleh: Syifa Nuri K.

“Paling enak di sini sih. Soalnya paling luas, paling bagus juga itu alirannya ada dua dan ada aksen pohonnya buat foto,” ujar Andi, salah satu pengunjung yang berasal dari Sumedang. Saat saya berkunjung, tak hanya ada Andi dan pasangannya, terlihat juga beberapa orang lain sedang berenang sambil berfoto ria di bawah aliran air terjun tingkat ketiga tersebut.

“Ke sini karena penasaran aja, katanya bagus. Jaraknya juga cuman satu jam dari rumah saya,” kata Fahmi, salah satu mahasiswa perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung. Ia dan beberapa temannya sedang menjelajahi tempat wisata di Sumedang yang sekiranya belum dijamah banyak orang.

Satu tingkat diatas tingkat ketiga, ada tingkat kedua. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa sampai ke tingkatan ini. Jalurnya sangat terjal, licin, dan tak ada pengaman tidak seperti jalur pendakian ke tingkat ketiga. Terlihat dari bawah, aliran ini sangat indah. Hanya ada satu aliran, mirip seperti tingkat keempat namun jauh lebih kecil.

Terakhir adalah tingkat pertama. Tingkatan paling atas ini tidak bisa diakses oleh pengunjung. Jalurnya luar biasa terjal. Tak memungkinkan bagi pengunjung untuk mendaki ke sana. Alirannya hanya ada satu, dengan bentuk mirip seperti tingkat kedua namun jauh lebih kecil lagi.

Tingkat pertama Curug Gorobog memiliki aliran yang cukup deras. Tempat ini cocok untuk dijadikan tempat berenang karena airnya yang cukup dalam. Foto oleh: Syifa Nuri K.
Tingkat pertama Curug Gorobog memiliki aliran yang cukup deras. Tempat ini cocok untuk dijadikan tempat berenang karena airnya yang cukup dalam. Foto oleh: Syifa Nuri K.

Selain bentuknya yang unik, Curug Gorobog juga ternyata memiliki sejarah yang cukup menarik. Nama “Gorobog” sendiri ternyata berasal dari sang penemu, Aki Gorobog. “Namanya dari Aki Gorobog yang menemukan curug ini. Makamnya juga ada di sini. Di tingkat paling atas curug tuh,” ujar Dodi, pengelola kawasan Curug Gorobog. Nama “Gorobog” selain berasal dari Aki Gorobog juga bisa berarti “kaget” dalam bahasa Sunda. Hal tersebut dikarenakan suara keras aliran air yang jatuh di Curug Gorobog ini bisa membuat orang kaget.

Keunikan Curug Gorobog ini sayangnya belum banyak diketahui oleh masyarakat Sumedang khususnya. Setiap harinya hanya sedikit saja orang yang berkunjung, hanya sekitar 10-15 orang per hari. Dodi menduga kalau sepinya Curug Gorobog adalah akibat kalah pamor dari beberapa curug lainnya yang lebih dulu terkenal.

“Padahal kalau mau nilai ekonomis atau lokasi mah Curug Gorobog jelas menang. Biayanya murah cuma 5 ribu. Jaraknya pun dekat dari kota. Jalurnya juga enggak ada mendaki yang ekstrem gitu,” tambah Dodi.
Untungnya semenjak beberapa bulan ke belakang, pengelolaan Curug Gorobog diambil alih oleh Dinas Perhutani Sumedang, kondisi perawatan Curug Gorobog sudah menjadi jauh lebih baik.

“Ya sekarang mah alhamdulilah sudah jauh lebih tertata gitu. Pengunjung juga jadi lebih banyak yang ke sini dan lebih betah juga karena udah nyaman kondisinya,” tutup Dodi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY