SHARE

 

Habitat burung blekok berdampingan dengan perumahan mempersempit jelajah makan burung blekok. Foto oleh Helmi Wihendar.
Habitat burung blekok berdampingan dengan perumahan mempersempit jelajah makan burung blekok. Foto oleh: Helmi Wihendar.

Oleh Nisa Maria Ulfa

Jauh dari hingar bingar perkotaan, kicauan burung blekok memecah keheningan Kampung Rancabayawak, Cisantren Kidul, Gedebage, Bandung. Letaknya berada di antara bentangan sawah Gedebage yang perlahan menyempit oleh pembangunan. Kampung yang dikenal dengan sebutan Kampung Blekok ini hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari stadion Gelora Bandung Lautan Api. Meski demikian, banyak orang yang belum mengetahui keberadaan Kampung Blekok. Mereka justru terkekeh mendengar nama Kampung Blekok, karena bagi orang Sunda kata “blekok” seringkali dijadikan umpatan kekesalan pada seseorang.

Kawanan burung blekok (Ardeola speciosa), burung kuntul kerbau dan kuntul putih (Bubulcus ibis) menghuni rimbunnya pohon bambu di Kampung Blekok. Uniknya, kemana pun burung-burung tersebut mencari makan Kampung Blekok selalu menjadi tempat mereka pulang setiap sore. Ketika pulang, kawanan burung blekok akan membentuk formasi yang apik. Sudah menjadi pemandangan yang lumrah, jika langit Rancabayawak dihiasi lalu lalang burung blekok di sore hari. Menjelang musim panen, Kampung Blekok juga menjadi tempat persinggahan burung yang sedang bermigrasi dari Benua Asia-Australia.

Puluhan burung blekok bertengger di rimbunnya pohon bambu di Kampung Blekok, Gedebage, Bandung, Senin sore (24 April 2017). Foto oleh Nisa Maria Ulfa.
Puluhan burung blekok bertengger di rimbunnya pohon bambu di Kampung Blekok, Gedebage, Bandung, Senin (24//2017). Foto oleh: Nisa Maria Ulfa.

Awal mula kedatangan burung blekok ke kampung ini sekitar tahun 1970-an. Pada saat itu, Rancabayawak masih menjelma menjadi kawasan pertanian yang memiliki sawah yang luas. Di musim penghujan, kawasan tersebut digenangi air, sehingga menjadi rawa. Lahan persawahan basah demikian adalah habitat burung air, seperti blekok dan kuntul. Burung-burung tersebut mendiami Rancabayawak dan berkembang biak di sana hingga kini jumlahnya ribuan.

“Karena burung ini habitatnya di persawahan dan lahan basah jadi burung-burung ini betah di Rancabayawak. Akan tetapi, yang bertahan hingga saat ini itu kuntul putih, kuntul kerbau, dan blekok sawah. Jenis-jenis lain seperti kowak, sudah tidak ada. Burung kokondangan pun sudah tak ada karena tergerus oleh perubahan ekowilayah di Gedebage,” kenang Ujang Safaat, Ketua Rukun Warga (RW) 02 Rancabayawak, Senin (24/4/17).

Burung yang hanya mampu berkembang biak satu hingga dua kali dalam setahun ini, pemakan ikan, katak, dan hewan invertebrata. Ketika lahan basah di Rancabayawak berkurang, warga menyiasatinya dengan membuat kolam buatan yang diberi pakan ikan di dalamnya. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk membuat burung blekok nyaman di habitatnya. Terlebih, bagi induk yang sedang mengerami telurnya, ia hanya bisa mencari makan di sekitar Rancabayawak.

Adanya habitat burung blekok di Rancabayawak ini bukan tanpa ancaman. Warga sering dibuat gusar dengan adanya perburuan dan penangkapan burung blekok dari tahun 1970 hingga 1995. Belum lagi budaya menyalakan kembang api dan petasan di bulan Ramadan dan Tahun Baru yang dilintaskan ke pohon bambu, sering membuat burung-burung ketakutan dan telur-telur berjatuhan. Akan tetapi, ancaman-ancaman tersebut dapat ditangani dengan cara persuasif.

Warga dapat sejenak tidur nyenyak ketika Pemerintah Kota Bandung menetapkan Peraturan Daerah Kota Bandung No 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan Kota Bandung. Dilarang merusak tempat tinggal dan membunuh atau memperjualbelikan burung blekok dan burung kuntul. Kini, muncul ancaman baru bagi habitat burung blekok yaitu, rencana pembangunan oleh perusahaan swasta pengembang.

“Dari hasil upaya berdialog dengan para tokoh, muncul kepedulian dari pihak Summarecon untuk tidak mengganggu, tidak membangun di kawasan Rancabayawak. Cuma, saya juga belum begitu paham. Namun menurut kabar, kawasan ini akan tetapi dilindungi oleh pihak walikota Bandung” ungkap Ujang.

Belum Jadi Tempat Wisata
Dilabeli sebagai “Kampung Kreatif” pada 2014 lalu oleh pemerintah, Ujang mengaku belum ada tanggung jawab dari pemerintah atas pelabelan tersebut. Menurutnya, belum ada dana yang digelontorkan pemerintah untuk kemajuan kampung kreatif ini. Dana yang didapat justru dari pihak ketiga, yaitu Pertamina.

Padahal, jika Kampung Blekok ini benar digarap menjadi wisata, Ujang dan warga Kampung Blekok memiliki konsep wisata alam dan pendidikan untuk kampungnya. Nantinya, mereka akan menjual hasil karya masyarakat Kampung Blekok pada wisatawan. Karya tersebut berupa telur asin blekok yang nantinya menjadi tiket masuk Kampung Blekok. Jangan berpikir telur burung blekok yang diasinkan, telurnya tetap telur bebek dengan kata “Blekok” sebagai label.

“Kalau (tiket masuknya) dengan uang, tidak akan terasa. Mereka hanya akan jadi konsumtif, tidak aktif. Tapi kalau dengan telur asin, ada di sini ibu-ibu PKK yang punya ternak, semua bikin telur asin,” angan Ujang.

Burung kuntul bertengger di batang pohon bambu. Foto oleh: Enggar Hadi
Burung kuntul bertengger di batang pohon bambu. Foto oleh: Enggar Hadi

Terkait perencanaan Kampung Blekok menjadi tempat wisata, Gema dari Bird Conservation Society (Bicons) menuturkan jika konsep wisatanya mengarah pada ekowisata, dapat dijadikan wisata pendidikan. Maka hal ini bisa diterapkan di Kampung Blekok karena pada dasarnya burung blekok dan burung kuntul cukup bisa berdampingan dengan manusia. Konsep ekowisata sendiri memiliki aturan mengenai daya tampung penikmat wisata. Hal ini disesuaikan dengan luas area wisata.

“Wisata pendidikan itu memperhatikan objeknya. Objek yang diamati, untuk tidak diganggu. Hanya diamati. Namun, apabila konsep yang diusung mass tourism tidak bisa diterapkan di Rancabayawak karena berpotensi mengganggu burung” ujar Gema.

Rencana Kampung Blekok yang hendak dijadikan tempat wisata ini disambut baik oleh pengunjung Kampung Blekok, salah satunya Dini Andriani. Menurutnya, banyak yang belum mengetahui keberadaan Kampung Blekok ini, sehingga jika dijadikan tempat wisata diharapkan dapat menjadi wahana edukasi dan pelestarian habitat blekok.

Meski telah berjalan pembangunan fasilitas yang disokong Pertamina, berupa pembangunan pendopo, saung-saung, penanaman bibit pohon bambu, dan gapura menuju Kampung Blekok yang saat ini masih dibangun, Ujang mengaku masih banyak yang perlu dibenahi agar Kampung Blekok menjadi tempat wisata. Hal itu di antaranya akses jalan dan papan penunjuk arah menuju Kampung Blekok. Sebab, akses jalan menuju Kampung Blekok melewati jembatan kecil yang hanya dapat dilalui sepeda motor.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY