SHARE
Ilustrasi Dokter Gigi
Pasien melakukan tahap pemeriksaan sebelum melakukan pencabutan gigi dii Klinik Eksodonsia, Bandung, Jawa Barat. Foto oleh: Tira Santia

Oleh Tira Santia

Bagi sebagian besar orang, pergi ke dokter gigi merupakan suatu hal yang menakutkan dan sebisa mungkin dihindari. Hal tersebut disebabkan perawatan gigi selalu identik dengan penyuntikan, pengeboran, dan pencabutan yang pasti berhubungan dengan rasa sakit dan rasa takut. Membayangkan alatnya saja membuat niatan untuk ke dokter gigi ciut.

Tidak perlu cemas, saat ini ada sebuah metode untuk mengurangi rasa takut tersebut yaitu dengan hipnodontik. Sebelumnya mungkin kita juga sudah sering mendengar kata hypnosis. Namun, sayangnya selalu identik dengan tindak kriminal gendam, dimana dengan sekali tepukan di pundak, uang, perhiasan atau ponsel bisa melayang.

Jika digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, hipnosis bisa disalahgunakan untuk tindak kejahatan. Namun, jika digunakan untuk tujuan yang positif, hipnosis sangat berguna sekali bagi kehidupan manusia. Hipnosis juga sudah lama digunakan sebagai terapi penyembuhan dalam dunia kedokteran yang dikenal dengan istilah hipnoterapi.

Ansietas dental atau kecemasaan sebelum dan sesaat perawatan gigi merupakan respon psikofisologis yang bisa terjadi pada semua orang ketika mendapat tindakan, salah satunya pencabutan gigi. Hal ini berdampak pada proses pengobatan serta hasil tindakan yang akan diberikan tenaga profesional dokter gigi.

Hipnodontik adalah penerapan hipnosis dalam bidang kedokteran gigi. Tujuannya adalah untuk mengurangi bahkan menghilangkan perasaan takut dan tidak nyaman ketika akan melakukan perawatan gigi, yang selama ini masih menjadi momok bagi sebagian besar orang. Perasaan takut ke dokter gigi biasanya karena membayangkan alat-alat dan tindakannya yaitu suntik, bor, dan cabut gigi, walaupun sebenarnya perawatan gigi tidak sebatas ketiga hal tersebut. Penyebab lainnya bias juga oleh trauma masa lalu karena pengalaman yang tidak menyenangkan ketika berobat gigi.

“Untuk menghilangkan sakit pada saat pencabutan dapat digunakan pendekatan farmakologi (obat-obatan/anastesi) dan pendekatan non-farmakologi yaitu, dental hypnosis.” ucap dosen Fakultas Kedokteran Gigi Unpad, drg. Gilang Yubiliana.

Kekuatan Pikiran Bawah Sadar

Tidak sulit untuk memahami bagaimana hipnosis dapat membantu terapi medis bahkan penyembuhan gangguan kesehatan. Otak manusia diciptakan dengan mekanisme yang luar biasa. Otak kiri (yang sering kita gunakan) dikendalikan oleh pikiran sadar, sementara otak kanan (yang masih banyak diabaikan potensinya) dikendalikan oleh pikiran bawah sadar.

Menurut hasil penelitian,  pikiran sadar di otak kiri mengendalikan  sekitar 12% dari mekanisme perilaku manusia. Sebaliknya pikiran bawah sadar di otak kanan justru mengendalikan 88%. Dengan metode hipnosis potensi pikiran bawah sadar itulah yang akan digali. Sebagai ilustrasi betapa hebatnya pikiran bawah sadar adalah ketika seseorang berada dalam keadaan sangat ketakutan, misalnya karena dikejar anjing galak, maka ia akan bisa berlari melebihi kemampuan biasanya bahkan rintangan tembok setinggi tiga meter pun “tanpa disadarinya” dapat diloncati.

Proses hipnosis sangat berhubungan dengan aktvitas otak yang dibagi dalam beberapa tingkatan gelombang otak (brainwave), yakni gelombang beta yaitu kondisi normal atau kesadaran penuh (conscious mind), gelombang alpha dan theta yaitu kondisi otak dalam kedaan relaksasi, meditasi, dan hipnosa (hypnosis state) sering juga disebut pikiran bawah sadar (subconscious mind).

Proses hipnodontik. Foto oleh: Tira Santia
Proses hipnodontik. Foto oleh: Tira Santia

Gelombang yang terakhir delta yaitu dalam keadaan tidur normal. Dapat disimpulkan tujuan dari hypnosis adalah untuk membawa kesadaran seseorang dari kondisi pikiran normal (sadar) ke kondisi pikiran bawah sadar atau berpindah dari gelombang beta ke gelombang alfa dan pada kondisi tertentu dapat mencapai gelombang theta, tapi tetap terjaga agar tidak mencapai gelombang delta.

Pada fase alpha-theta itulah kondisi hipnosa (hypnosis state) tercapai dan pada tahap ini dimasukkan informasi berupa sugesti-sugesti yang diharapkan. Misalnya untuk pasien yang begitu fobia ke dokter gigi bisa diberikan sugesti: “Mulai sekarang setiap akan pergi ke dokter gigi seolah-olah Anda akan pergi rekreasi”. Setelah pasien dibangunkan maka sugesti tadi sudah terbarukan dalam pikirannya sehingga ia dapat mengikuti apa yang dikondisikan oleh terapisnya.

Namun, untuk mencapai kondisi terhipnosis ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Seorang pasien atau subyek yang akan dihipnosis membutuhkan beberapa syarat, yaitu menerima secara sadar dan sukarela tanpa paksaan serta dapat bekerjasama dengan terapisnya, mempunyai kemampuan menerima sugesti (susceptibility), dapat memusatkan pikiran dengan baik (focus), dan dibutuhkan suasana yang mendukung.

Biasanya tempat yang tenang serta dapat dibantu dengan musik yang sesuai. Sedangkan untuk men-switch pikiran sadar seseorang menuju pikiran bawah sadar disebut dengan tahap induksi.  Terdapat beberapa metode namun yang paling sering digunakan yaitu teknik pemenatan mata, yakni mata subyek dibuat penat/lelah dengan disuruh konsentrasi pada obyek tertentu, seperti cakram hipnosis (spinning disc), bola berkilat yang berayun-ayun, atau benda berkilat seperti kaca mulut dokter gigi.

Hipnodontik juga dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk mengerot-ngerot gigi pada waktu tidur (bruxism), ketika dibiarkan dapat menyebabkan gigi menjadi aus, ngilu, bahkan infeksi. Pasien yang banyak mengeluarkan ludah (hypersalivasi) pada saat perawatan gigi juga dapat dikendalikan dengan hipnodontik.

Mengurangi perdarahan yang berlebihan, bahkan anestesi atau pembiusan lokal untuk pencabutan pun dapat dilakukan dengan hipnodontik tanpa menggunakan suntikan sama sekali. Lalu setelah gigi tercabut dan pasien dibangunkan apakah tidak akan tiba-tiba terasa sakit? Tentu saja hal itu juga dapat diatasi dengan memberikan sugesti pasca hipnosis misalnya ia akan tetap tidak merasakan sakit selama 24 jam dan sebagainya.

Penelitian yang dilakukan terhadap 46 orang pasien yang datang ke klinik Eksodonsia, Jl. Kubang Sel., Lebakgede, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat. Bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran tahun 2014.

Seluruh pasien yang datang memiliki gigi berakar tunggal dengan indikasi ekstraksi dan dibagi secara merata kedalam 2 kelompok, yaitu  23 orang pada kelompok Satu (Dental Hypnosis)  dan  23 orang pada kelompok dua (Dental Sedasi Inhalasi Sadar) . Berdasarkan perlakuan diatas, Gilang mendapatkan data berupa kadar hormone kadar kecemasan (kortisol saliva) sebelum dan sesudah perlakuan, nilai kualitas hidup sebelum dan sesudah perlakuan.

“Dari 46 sampel, semuanya berhasil. Hasilnya lebih efektif dengan dental hypnosis,  karena proses dental hypnosis melibatkan alam bawah sadar pasien, kerjasama dengan pasien, untuk menurunkan kecemasan. Sedangkan, dengan dental sedasi hanya menekan faktor kecemasan dengan obat-obatan”, ujar perempuan yang dikenal dengan ciri khas rambut pendeknya.

Dental Hypnosis merupakan kegiatan berkomunikasi secara tersistem yang dilakukan oleh dokter gigi kepada pasien dengan tujuan membawa taraf kesadaran pasien menjadi setara dengan alam bawah sadarnya melalui sugesti yang akan membuat pasien jauh lebih rileks dan tenang. Semakin rileks maka ambang toleransi pasien terhadap Ansietas Dental semakin besar.

“Maksud dari tersistem, yaitu saat proses menghipnosis pasien menggunakan pemarkah-pemarkah tertentu, asertif, direktif, dan ekspresif,” tangkasnya.

Dari penelitian tersebut ditemukan hasil analisis tindak tutur dalam Komunika Hipnodontik berupa tiga jenis tindak tutur, yaitu: asertif, direktif, dan ekspresif.  Terdapat empat gaya bahasa yang teriidentifikasi dalam komunika hipnodontik yakni: (1) gaya bahasa klimaks, (2) gaya bahasa paralelisme, (3) gaya bahasa antitesis, dan (4) gaya bahasa repetisi.

Keseluruhan proses pengujian efektivitas Dental Hypnosis memanfaatkan bahasa sebagai media komunikasi untuk menyampaikan sugesti. Bahasa merupakan aspek paling penting dalam intervensi dental hypnosis karena seluruh prosesnya memanfaatkan kalimat sebagai media komunikasi untuk menyampaikan sugesti.

Michael Krochak dari USA tahun 2012 mengatakan bahwa pendekatan farmakologis pada penderita Ansietas Dental dianggap tidak efektif lagi karena efek farmakologis hanya menekan Ansietas Dental tanpa dapat mengurangi faktor kecemasan tersebut.

Efek samping penggunaan obat-obatan kimiawi juga dapat berdampak kepada kesehatan secara menyeluruh. Sejalan dengan penelitian Michael Krochak, Chan Koehn dari Canada tahun 2011 melaporkan bahwa efek jangka panjang penggunaan farmakologis terhadapat penanganan pasien dengan Ansietas Dental adalah ketergantungan obat-obatan yang bersifat sedatife dan hipnotik.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY