SHARE
ilustrasi radio by white journal
Ilustrasi. Sumber: Whitejournal.com

Oleh Hilda Julaika

Perkembangan digitalisasi di Indonesia sempat menjadi ancaman eksistensi yang mengkhawatirkan terutama bagi media audio, yakni radio. Orang-orang sudah mulai meninggalkan media ini sebagai salah satu kebutuhan media. Radio dianggap sudah tertinggal bila dibandingkan dengan media lainnya. Eksistensi radio dalam industri radio pun mendorong dilakukan revitalisasi. Maka muncul pertanyaan apakah digitalisasi menjadi sebuah alasan matinya radio atau menjadikan digitalisasi sebagai sahabat dan acuan untuk melakukan kreatifitas.

Faktor digitalisasi menjadi pilihan untuk radio agar tetap berdiri atau lenyap. Menurut Adrian Syarkawie, Presiden Direktur PT Mahaka Radio, radio masih memiliki pendengar meski memang mengalami penurunan bila dibandingkan tahun lalu, namun radio masih memiliki potensi. Menurutnya penurunan tersebut berdasarkan hasil diskusi dengan lembaga riset Nielsen didapatkan karena terdapat migrasi pendengar dari cara mendengarkan radio konvensional ke digital seperti streaming. Jadi, sebenarnya radio masih memiliki pendengar yang membedakan adalah platform yang digunakan untuk mendengarkannya.

Digitalisasi memberikan dampak dalam perubahan metode dan pola produksi radio serta konsumsi pendengar. Maksudnya adalah radio yang dijalankan secara on air (konvensional) dikombinasikan dengan teknologi digital. Bentuk kombinasi tersebut bisa dalam bentuk peralihan platform dan media untuk menarik pendengar yang pada akhirnya memberikan kemudahan bagi radio untuk melakukan proses kreatif tersebut dan lebih mendekatkan diri pada pendengar dengan cakupan yang lebih luas.

Peluang tersebut dilihat dari kemudahan dalam mengakses radio saat ini. Fitur radio hampir sudah ada di setiap jenis ponsel dan sudah ter-install dengan sendirinya karena merupakan aplikasi bawaan. Selain itu, digitalisasi mengubah platform radio yang cakupannya bisa diakses lebih luas, hal ini dilakukan melalui aplikasi streaming radio. Di Bandung sendiri, radio sudah banyak yang dapat diakses melalui streaming. Sebut saja PRFM di 107,5 fm, Ardan FM 105,9 hingga Prambors FM 98,4 dan tentunya masih banyak lagi.

Selain dari pergeseran akses radio melalui streaming, radio pun menyajikan konten dalam media yang berbeda, artinya tidak hanya dalam bentuk audio saja. PRFM 107,5 sendiri selain memiliki on air, streaming, merambah ke website melalui informasi teks pada web PRFMNEWS.COM. Pada web ini ditampilkan informasi dalam bentuk teks berita. Kategori informasi yang disampaikan yakni, Mapay Kota, Kabar Persib, Jawa Barat, Nasional, Gaya Hidup, Olahraga, Netizen Photo, Profil, hingga Info Wisata.

Lain hal dengan PRFM yang merambah ke media online dengan menyajikan informasi berita, sesuai dengan namanya PRFM NEWS. Salah satu radio di Jakarta yang melakukan ekspansi di bawah PT Mahaka Radio (MARI). MARI sendiri menyadari pentingnya bersahabat dengan digital bahkan melakukan ekspansi untuk memperbesar market share. PT MARI sebelumnya hanya memiliki 3 radio yakni Jak FM, Gen FM Jakarta, dan Gen FM Surabaya. Dengan market yang telah dimiliki, PT MARI menambahkan lagi yakni Hot FM, Kis Fm, Mustang FM, dan Lite FM.

Sebut saja HOT FM sebagai salah satu radio yang memiliki konten lagu dangdut dan melayu turut melakukan digitalisasi. Selain, menyajikan dalam bentuk streaming, konten pun diunggah ke Youtube. Tentunya tidak semua konten dibuat video dan diunggah ke Youtube, melainkan hanya konten tertentu yang dilakukan berdasarkan pertimbangan daya tarik bagi pendengar dan penontonnya.

Selain itu, HOT FM pun sangat aktif dalam melempar isu konten di media sosial seperti Instagram. Penyiar  radio kerap melempar isu yang nantinya memang menjadi kebutuhan untuk konten siaran. Hal ini memudahka proses pendekatan dengan pendengar serta dalam proses pengembangan kreativitas konten siaran.

Dahulu itu, ketika melibatkan pendengar perlu melalui proses yang lebih rumit, misalnya hanya bisa melalui pesan dan telepon lalu jawaban atau saran pendengar harus melalui produser untuk dicek baru disetujui dan bisa dijadikan referensi siaran. Kalau sekarang melalui adanya digital justru membuat waktu lebih efisien karena respon dari pendengar lebih mudah saat di screening dan diseleksi. Hal yang serupa pun dilakukan oleh Gen FM. Media sosial digunakan untuk hal-hal seperti mengundang topic pembahasan hingga mengundang kuis melalui aplikasi insta story di Instagram.

Digitalisasi ini tentunya memengaruhi juga pekembangan konten yang dihasilkan oleh radio. Artinya tidak hanya menjalankan konsep radio seperti dulu (radio konvensional). Melainkan menjadikan sebuah format kombinasi antara online dengan on air yang bisa dikatakan menjadi sesuatu yang mutlak untuk dijalankan.

Perkembangan digital dan pengaruhnya terhadap konsep radio sebenarnya terlihat dari proses kreativitas pada konten dan juga pelibatan pendengar. Dengan adanya digitalisasi ini saran yang diberikan pendengar bisa menuntut penyiar untuk lebih kreatif dalam menghasilkan konten. Radio ini pun kadang melakukan gathering dengan pendengar yang menjadikan ini ruang untuk saling dekat dan menggali saran.

Digitalisasi memang memiliki dampak yang berbeda bagi setiap bidang kehidupan, tergantung bagaimana perspektif yang digunakan oleh manusianya termasuk dalam perkembangan media di Indonesia. Radio lenyap atau berinovasi bergantung pada bagaimana memanfaatkan digitalisasi yang semakin masif ini. Dia yang kreatif, dia yang akan bertahan dan berkembang.

Artikel ini terbit di rubrik Kampus Harian Umum Pikiran Rakyat pada Kamis, 14 September 2017

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY