SHARE
Foto dokumentasi
Dok: Elfride Isai dan Risky Aprilia

Oleh Elfride Isai Maranatha dan Risky Aprilia

“Jangan pergi ke Bandung jika kalian meninggalkan istri kalian di rumah.”

Siapa yang tak mengenal Kota Bandung. Setiap mendengar nama ini hal yang muncul dalam setiap benak lelaki adalah kecantikan dan kemolekan para mojang Bandung atau Mojang Priangan. Sejak zaman Belanda dulu julukan itu memang selalu lekat dalam diri wanita Bandung disebabkan dengan kecantikan, kejelitaan, kemolekan, kecerdasan dan keramahannya.

Dalam buku  Bandung Kilas Peristiwa Di Mata Filatelis tentang wisata sejarah karangan Sudarsono Katam disebutkan bahwa kecantikan mojang-mojang Bandung sudah disebut-sebut dalam buku-buku buatan orang Belanda sejak awal tahun 1900-an. “Jangan pergi ke Bandung jika kalian meninggalkan istri kalian di rumah,” tulis dalam buku Mooi Bandoeng terbitan Bulan Juli tahun 1937. Hal ini menandakan bahwa memperistri Mojang Bandung adalah sesuatu hal yang membanggakan di kalangan orang Belanda kala itu.

Wajah Mojang Bandung kala itu memang terkenal dengan hidung mancung dan kulit putih alias berparas Indo-Belanda. Penuturan Haryoto Kunto dalam tulisannya berjudul Nyi Dampi Van Kebon Kalapa di Majalah Matra No.82 tahun 1993 menjelaskan bahwa munculnya warga Indo-Belanda di Kota Bandung tak terlepas adanya sistem tanam paksa yang diberlakukan pemerintah Hindia Belanda antara tahun 1830-1870. Sebagai salah satu daerah pegunungan, perkebunan di wilayah Bandung berkembang dengan pesat baik dari segi luas maupun jenis tanaman, pekerja yang dipekerjakan pun bertambah banyak dengan masuknya pekerja-pekerja yang didatangkan secara langsung dari negeri Belanda.

Pada waktu itu, diberlakukan aturan bahwa orang Belanda yang bekerja di Bandung tak boleh turut serta membawa anak dan istrinya. Oleh sebab itu, ada rasa jenuh dan lelah hidup di Bandung tanpa istri dan anak. Akhirnya, banyak pria Belanda yang menjalin hubungan dengan gadis-gadis pekerja lokal meskipun hanya dengan status nyai-nyai alias hidup bersama namun tidak dinikahi atau di zaman sekarang kita menyebutnya dengan kumpul kebo.

Keberadaan prostitusi di Kota Bandung bukanlah terjadi baru kemarin sore, prostitusi di Kota Kembang ini sudah terjadi hampir ratusan tahun lamanya, tepatnya sekitar awal tahun 1800-an. Diawali dengan mulai merebaknya gadis berparas Indo-Belanda di daerah-daerah perkebunan. Buku Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah karangan Sudarsono Katam menceritakan, bahwa awal mula keberadaan bursa seks secara terang-terangan dan membuat mojang Bandung terkenal terjadi sejak dibukanya jalur angkutan kereta api dari Batavia ke Bandung dan ke Surabaya tahun 1884. Hal ini memicu munculnya hotel dan losmen yang mau tak mau menyediakan jasa perempuan pemijat tamu. Seiringnya dengan itu, munculah komplek pelacuran di sekitar wilayah stasiun.

Memasuki abad Ke-20, Kota Bandung mulai dikenal dan didatangi oleh banyak orang. Kondisi kota yang sejuk dan nyaman membuat banyak pendatang baru baik itu pribumi atau non pribumi tinggal menetap, Kota Pensiunan pun melekat di Bandung kala itu karena banyak pensiunan pegawai Hindia-Belanda yang menghabiskan masa tuanya disini. Pertambahan penduduk yang kian padat sejalan dengan persebaran dunia prostitusinya.

Kebanyakan gadis Indo-Belanda ini ditampung di Komplek Margawati Gang Coorde di daerah Braga. Saat ini, gang tersebut sudah berganti nama menjadi Jalan Kejaksaan. Di tempat ini, tak sembarangan orang bisa masuk mencicipi kemolekan para PSK di sana. Pasalnya, hanya orang Blanda dan pribumi kelas elit saja yang diperkenankan berkunjung ke sana.

“Di sana terkenal dengan kecantikan gadis Indo-Belandanya,” ucap Sudarsono Katam sejarawan Bandung .

Tak hanya di Gang Coorde, lokalisasi mojang Indo-Belanda lainnya terdapat pula di kawasan Kebon Kalapa yang di kelola oleh Nyi Dampi. Sebelum menjadi germo, Nyi Dampi adalah seorang PSK ternama di Kota Bandung sekitar tahun 1890-an. Saingan Nyi Dampi adalah Saritem, tokoh prostitusi ternama lainnya yang ada di Bandung. Ketenaran lokalisasi Nyi Dampi hanya bertahan hingga tahun 1920-an. Pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk menutupnya karena banyak perwira dan serdadu tentara Belanda yang mabuk-mabukan. Kendati begitu, aktivitas prostitusi di daerah Kebon Kalapa tak pernah padam, terbukti sampai sekarang aktifitas esek-esek masih kerap terjadi baik itu secara terbuka maupun tertutup.

Pada zaman awal kemerdekaan, keberadaan prostitusi di Kota Bandung adalah hal yang lumrah. Kesibukan melawan penjajah yang masih bercokol di Bandung membuat seolah para pejuang kemerdekaan tak peduli dengan adanya bisnis esek-esek ini. Bergantinya tampuk kekuasaan dari Belanda ke Jepang kemudian Indonesia tak mempengaruhi aktifitas pelacuran. Malah muncul tempat-tempat pelacuran baru tak hanya terfokus didekat stasiun saja, di zaman pendudukan Jepang muncul rumah bordil untuk tempat tentara jepang melampiaskan nafsu bejadnya, yaitu di Pension Welgelegen di pojok utara Jalan Purnawarman. Rumah bordil ini dikelola oleh seorang perempuan Belanda yang dikawini tentara Jepang. Lokasi lainnya adalah pertokoan di seberang restoran Braga Permai Jalan Braga yang saat ini sudah menjadi sebuah kafe.

Usai kemerdekaan Indonesia, PSK di Kota Bandung semakin menjadi-jadi. Kejadian memalukan terjadi saat digelarnya Konfrensi Asia Afrika tahun 1955, secara sembunyi-sembunyi panitia menyediakan layanan perempuan bagi para peserta konferensi. Beberapa wanita kelas atas dari beberapa lokalisasi termasuk Saritem dan Gang Aleng dikerahkan untuk memberikan pelayanan “plus-plus” kepada peserta. Layanan tambahan yang diberikan panitia ini sangatlah dicela dan disayangkan berbagai pihak. Informasi ini sendiri terkuak setelah salah seorang PSK terkenal di Kota Bandung harus dirawat dirumah sakit setelah melayani salah seorang peserta konferensi.

Pada tahun 1940-an hingga akhir 50-an, Komplek pelacuran Gang Aleng di wilayah Astana Anyar mulai terkenal, setiap warga Bandung kala itu pasti tau tempat tersebut. Akan tetapi, sekitar tahun 60-an, lokalisasi ini berhasil ditutup oleh warga yang merasa malu dengan citra negatif dari Gang Aleng. Karena risau nama Gang Aleng pun diganti dengan Jalan Panjunan oleh warga hingga sekarang. Salah seorang mantan olahragawan ternama di Kota Bandung Max Timisela mengatakan pelanggan tetap di Gang Aleng adalah orang-orang ternama yang memiliki jabatan sipil dan militer cukup tinggi. Kecantikan dan kemolekan PSK di Gang Aleng menjadi jaminan bahwa pelanggan yang datang haruslah berdompet tebal, “Yang datang kesana orang pangkat semua, orang penting pokoknya mah,” katanya.

Tempat Wisata Tubuh

Masih Ingat Kontroversi di tahun 2007? Kasus lokalisasi Saritem sebenarnya merupakan program Walikota Bandung, Dada Rosada, yang ingin membuat kota Bandung menjadi kota agamis dan kota wisata rohani. Namun pada perkembangannya, karena tidak ada upaya yang menyeluruh dan solusi yang tepat,maka keberadaan lokalisasi itu masih tetap berjalan meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi dan sedikit tertutup. Hal itu dibenarkan juga oleh Walikota Bandung sekarang, Ridwan Kamil dalam sebuah kesempatan pada Juni 2014 lalu, ketika ditanya tentang tindak lanjut penanganan lokalisasi dan penertiban kawasan pelacuran di kotanya.

Tempat “wisata seks” Saritem di Bandung sendiri, hanyalah salah satu lokalisasi yang paling senior di antara tempat-tempat mangkal para PSK di kota Bandung. Lokalisasi yang terselubung atau tempat mangkal PSK secara liar melebihi jumlah PSK yang terorganisir di Saritem. Ini dapat dilihat bagaimana pemandangan kota Bandung di malam hari yang gemerlap dan ramai sekali di segala pusat kota sampai ke pelosok daerah.

Meski adanya Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung tentang pelarangan lokalisasi pelacuran , namun batas yang hanya bisa dijangkau dan diawasi hanya tempat mangkal PSK liar saja yang ditertibkan. Sebelum Perda itu muncul, kawasan Jalan Braga merupakan salah satu dari sekian banyak tempat mangkal PSK di kota Bandung. Mereka adalah para penjaja tubuh komersil yang berasal dari pinggiran kota Bandung atau dari luar kota Bandung.

Selama ini memang kawasan Jalan Braga sedang terus dibersihkan dari praktik pelacuran jalanan. Namun tantangannya adalah ada daerah lain masih tetap melakukan bisnis “daging hidup” itu. Hanya saja mereka lebih rapi dan tertib sehingga tidak terlalu mencolok.

Kota Bandung sebagai kota “wisata tubuh” hanya sisi lain dari aset pariwisata kota Bandung itu sendiri. Selain wisata belanja pakaian jadi dan kuliner. Wisata tubuh ini bukan fenomena baru di kota Bandung karena kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Riau dan kota lain juga tak luput dari terdapatnya praktik sejenis yang sangat sulit dituntaskan. Tempat “Wisata tubuh” di Bandung tidak hanya ada di pemukinan penduduk seperti Saritem saja. Kawasan Jalan Braga, Pasar Baru, Otista, ABC, Dewi Sartika, dan terutama di sekitar wilayah Barat Stasiun Bandung yang menjadi sasaran para PSK berdiri dipinggir jalan sambil memanggil pria-pria baik yang menggunakan sepeda motor maupun mobil.

Tulisan ini terpilih sebagai Berita Mendalam Terbaik dalam acara Journight 2017 dan Dimuat dalam Rubrik “Telisik” Pikiran Rakyat pada Senin, 9 Oktober 2017.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY