SHARE
Elfride5
Dok: Elfride Isai dan Risky Aprilia

Oleh Elfride Isai Maranatha dan Risky Aprilia

Tim investigasi mengawali liputan ke salah satu tempat yang menjadi area “mangkal” para Pekerja Seks Komersial (PSK) yaitu di sepanjang Jalan Kebon Jati mulai dari ruas Jalan Rumah Sakit Santosa hingga masuk ke area parkiran motor Stasiun Bandung, Sabtu (8/4). Jalanan masih sepi tak satupun PSK terlihat berdiri di pinggir jalan pada pukul 22.00 wib saat itu.

“Masih terlalu sore, Neng. Paling kalau mau nunggu sekitar pukul 12 malem nanti mereka baru ada,” ucap Pa Supardi, petugas keamanan parkir AA Taxi.

Saat jam menandakan pergantian hari tiba, satu per satu PSK mulai berdiri di sepanjang ruas Jalan Kebon Jati. Mereka datang dengan memakai pakaian biasa kemudian baru mengganti pakaian minimnya di sebuah warung makan kecil. Setiap PSK memiliki satu ojek pengantar untuk memudahkan mobilisasinya. Tim melakukan pengintaian di sebuah warung kecil, persis di seberang tempat di mana PSK mengganti pakaian dan menjajakan diri. Sesekali tim berjalan ke arah parkiran stasiun untuk melihat PSK yang di tempat lain.

Meski tak ada pencahayaan, jalanan berlubang tetap saja masih ramai motor dan mobil yang berlalu lalang, lewat dengan lambat sambil melihat ke arah barisan PSK di seberang parkiran motor Stasiun Bandung. Satu per satu mobil dan motor mencoba berhenti dan membuka obrolan penawaran kepada PSK. Ada pula yang hanya sekedar membunyikan siulan ketika melewati PSK tersebut. Setelah akhirnya merasa cukup melihat di wilayah ini, tim kembali ke depan Jalan Kebon Jati.

Tak berselang lama, ada sebuah mobil AVP bewarna hitam berhenti di depan tiga PSK yang berdiri di depan warung makanan tadi, tepat pukul 00.37 WIB. Tim melihat ketiga PSK itu dimasukkan ke dalam mobil secara paksa. Entah siapa itu. Tim pun mengikuti mobil tersebut. Mobil itu berhenti di sebuah rumah bewarna putih di Jalan Sukamulya nomor 42.

“Ini mah rumah singgah sementara untuk orang yang ditangkap oleh Dinas Sosial, Teh” ucap Kang Anto, penjual nasi goreng yang ada di depan rumah tersebut.

Setelah mengikuti pengintaian, tim mengetahui bahwa mereka adalah tim dari Dinas Sosial yang bekerja sama dengan TNI dan Satuan Polisi Pamongpraja (Satpol PP) dalam proses penangkapan PSK di sekitaran Jalan Kebon Jati.

Tim menemukan beberapa informasi saat melakukan investigasi. Pertama, adanya kemudahan untuk menebus PSK yang tertangkap saat operasi jaringan PSK yang dilakukan oleh Satpol PP, Dinas Sosial atau lembaga kepolisian.

Hal ini benar adanya bahwa setengah jam setelah mobil sampai di rumah singgah, ada seorang laki-laki menyusul ke rumah tersebut. Saya ingat laki-laki yang baru datang itu. Dia adaalah laki-laki yang berada di warung makanan Kebon Jati. Setelah ia datang, beberapa temannya juga ikut menyusul ke lokasi rumah singgah sementara.

Nah, itu Si Andi, Neng. Biasanya datang buat nebus beberapa PSK. Dia udah langganan datang tiap kali ada PSK yang tertangkap operasi jaringan,” ucap Kang Anto sambil menunjuk laki-laki yang bernama Andi itu.

Dari informasi yang tim dapatkan, biaya untuk menebus satu PSK kisaran satu juta hingga tiga juta rupiah. Proses untuk menebus si PSK terbilang mudah karena Si Penebus langsung mendatangi rumah singgah sementara untuk menebus PSK dan kegiatan penebusan ini sudah sering dilakukannya. Fakta itu membuktikan adanya aktivitas pelanggaran dari aparat internal sebuah lembaga tersebut.

Informasi yang sama tim dapatkan saat mewawancarai pemilik warung berinisial E yang ada di Jalan Kebon Jati. Ia mengatakan bahwa PSK yang berhasil ditangkap saat operasi razia bisa ditebus dengan jumlah uang kurang lebih tiga juta rupiah.

“Iya benar. PSK yang suka “mangkal” di depan warung ibu ada yang berhasil ditebus. Sisanya, PSK yang tidak ditebus terpaksa dikirimkan ke rumah karantina yang ada di Cirebon dan Sukabumi,” jelas E.

Fakta baru tersebut langsung dibantah oleh Galuh, Kepala Bidang Rehabilitasi Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kota Bandung. Ia membantah bahwa adanya aktivitas adanya kemudahan untuk bisa menebus PSK yang telah ditangkap.

“Semua PSK ketika di rumah singgah sementara hanya untuk di data kemudian diproses tindak lanjut,” ujarnya.

Jawaban lain yang tim terima dari pernyataan Kepala Bidang Pembinaan Masyarakat dan Aparatur Satpol PP, Krinda Hamidipraja, “Kenyataannya memang ada berupa jaminan untuk membebaskan PSK yang tertangkap.”

“Sebetulnya banyak kegiatan itu. Bahkan ada yang sampai mengikuti truk yang membawa PSK menuju ke rumah karantina yang ada di Cirebon atau Sukabumi dengan memohon agar bisa ditembus dengan sejumlah uang yang disepakati,” ujarnya.

Aktivitas yang melanggar aturan itu bisa dilihat dari data awal yang ada di rumah singgah sementara dengan data yang diterima di rumah karantina. “Jika ada perbedaan jumlah datanya maka itu ada oknum internal yang mencoba bermain di belakang,” tambah Krinda.

Informasi lain yang tim peroleh terkait sering ada informasi kegiatan operasi razia yang bocor. Tim mencoba mencari klarifikasi, Galuh mengatakan kebocoran informasi itu diakibatkan adanya intel dari pihak PSK yang mengamati dari dekat ke kantor, seperti Dinas Sosial, Polrestabes, dan Satpol PP.

“Ya sebelum kita melakukan razia, mereka udah stay di depan kantor dan ketika kita mulai jalan intel-intel itu akan mengabarkan pada PSK yang sedang beraksi,” jelas Galuh.

Krinda juga memberikan penjelasan kepada tim terkait bocornya informasi razia. Ia juga menegaskan bahwa kebocoran juga dapat disebabkan oleh para anggota yang memberikan informasi pada PSK.

“Kalau ada operasi yang sampai gagal berarti pembinaan aparatur internal masih kurang. Ada Oknum yang masih melanggar aturan rahasia kegiatan,” ujarnya.

Ada lagi, informasi dari salah seorang Satpol PP yang sempat tim temui di markas Satpol PP dekat Alun-Alun Kota Bandung. Ia mengatakan bahwa jika kegiatan operasi razia ini dijadwalkan oleh Dinas Sosial, Satpol PP seringkali tidak membawa hasil atas operasi tersebut. Artinya, ketika kegiatan operasi ini mulai, jalan-jalan dan beberapa tempat yang sering digunakan untuk “mangkal” mendadak sepi.

Informasi ketiga adalah terkait pungutan liar yang dilakukan oleh pihak kepolisan kepada PSK. Fakta ini tim investigasi lihat saat melakukan observasi lebih dekat ke area perkumpulan tempat PSK berdiri, Sabtu (22/4). Saat itu, tim sedang bercengkrama dengan salah satu pemilik warung makanan, tiba-tiba PSK terlihat berlarian dan berusaha bersembunyi ke dalam warung. Hal ini disebabkan satu mobil polisi yang berjalan lambat melintasi area Jalan Kebon Jati ini.

Anehnya, para PSK dan ojek pribadi si PSK langsung keluar dengan berkata “Aaaaah dikirain teh siapa.”  Tak terlihat ketakutan diraut wajah mereka melainkan senyum yang menggambarkan ketenangan mulai bermunculan.

Tim pun terheran-heran dan mencari tahu apa yang terjadi luar warung ini. Ternyata, mobil yang melewati warung tadi berhenti di samping warung makanan ini. Kemudian, ada seorang laki-laki (laki-laki yang sama saat ingin menebus PSK di rumah singgah sementara). Lalu, laki-laki yang disebut-sebut bernama Andi itu menghampiri mobil polisi tersebut sambil menyodorkan sesuatu dari tangannya ke tangan polisi yang ada di dalam mobil tersebut.

“Oh Dia mah polisi yang rutin meminta pajak ke PSK,” ucap Pak W penjaga warung makanan. Sontak tim pun kaget mendengar informasi itu. Hasil pencarian informasi mengenai akan hal itu, tim mendapatkan informasi bahwa mobil pihak dari Polrestabes Bandung dan Polsek Andir sering lewat untuk meminta pajak sebesar Rp 10.000 rupiah per PSK.

“Setiap malam selalu ada mobil polisi patroli dari Polda Jabar, Polrestabes Bandung, dan Polsek Andiri yang lewat jalan sini. Mobil kepolisian yang sering lewat sini yang suka minta jatah ke PSK, Neng,” ucap Ibu E.

Tulisan ini terpilih sebagai Berita Mendalam Terbaik dalam acara Journight 2017 dan Dimuat dalam Rubrik “Telisik” Pikiran Rakyat pada Senin, 9 Oktober 2017.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY