SHARE
Ilustrasi. Sumber: Sidomi.com
Ilustrasi. Sumber: Sidomi.com

Oleh Elfride Isai Maranatha dan Risky Aprilia

“Sebenarnya siapa sih yang mau memiliki pekerjaan seperti ini? Kita diluar pura-pura bahagia, tetapi batin sebenarnya menangis.”

Bandung yang terkenal dengan pesona malam yang indah mampu memikat warga Indonesia. Bukan sekadar fakta terkait dunia malamya, tetapi pesona wanita Bandung yang memikat para pelancong juga menambah keinginan untuk dapat menginjakkan kaki di Kota Bandung.  “Wisata tubuh” atau lebih dikenal dengan kegiatan prostitusi mulai berkembang di Bandung sekitar 1970-an, kian mencolok pada pertengahan dekade 1990-an, dan semakin terang-terangan pasca reformasi 1998.

Perkembangan dunia malam Kota Bandung terus terjadi bukan sekadar cara mereka menjajakan diri, tetapi juga cara berpakaian ketika mengejar para pelanggannya. Pekerja Seks Komersial (PSK) dulu lebih sering mengenakan kebaya ketika mendekati para pelanggan.

“Jauh berbeda dari 15 tahun yang lalu. Ya, kalau dulu mereka mengenakan kain kebaya dan kini mereka lebih berani menggunakan pakaian yang terbuka,” jelas ibu berinisial E, seorang pemilik warung yang sudah bertahan selama 15 tahun di kawasan Stasiun Bandung.

Perkembangan “wisata tubuh” Kota Bandung itu tidak menjadi perkembangan yang sehat. Perkembangannya diikuti dengan dampak negatif di tengah masyarakat. Bukan hanya membahayakan si pelaku, tetapi orang yang berada disekitarnya, yakni suami dan keturunannya. Dampak terbesar dan paling membahayakan itu adalah HIV/AIDS. HIV/AIDS ditemukan di kota Bandung sejak 1991 berkembang hingga 2017 dan sudah mencapai angka 420.

“Jawa Barat menjadi nomor satu pencapaian prevalensi HIV/AIDS,” jelas Dr Yorisa Sativa selaku Kepala Bidang Pembinaan Masyarakat dan Aparatur Dinas Kesehatan Kota Bandung. Orang yang terkena penyakit HIV/AIDS sendiri akan terlihat setelah 10 tahun, tambahnya.

Gadis Lugu

Tak seorangpun memang menginginkan dirinya terjerumus dalam kegiatan “wisata tubuh” ini. Begitu pun penjelasan yang diperoleh dari seorang anak yang berusia 16 tahun. Gadis lugu ini terpaksa terlibat dalam kegiatan ini disebabkan latar belakang keluarganya yang berantakan.

Kinan (nama samaran) mengaku sudah ditinggalkan ibu kandungnya sejak berusia lima tahun. Tak tanggung-tanggung gadis lugu ini harus menjadi tulang pungung keluarga. Ayahnya mengalami sakit keras dan memaksa dirinya untuk dapat memperoleh uang dalam jumlah yang banyak dan cepat.

“Ikut dalam kegiatan ini menjadi satu-satunya cara yang dapat saya lakukan,” tuturnya.

Banyak hal memang yang menjadi faktor seseorang yang terpaksa tergabung dalam kegiatan prostitusi ini. Sesuai dengan penjelasan Galuh, Kepala Bidang Rehabilitasi Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kota Bandung. Terkadang ada dari mereka yang tertipu, diajak bekerja dari kampung halaman dan ketika tiba di Bandung mereka malah dijerumuskan dalam “wisata tubuh” ini. Ada pula yang awalnya ditawarkan pinjaman uang, tak tanggung-tanggung akhirnya mereka tak sanggup membayar dan akhirnya harus menjajakkan diri untuk membayarkan hutang yang kian bertambah.

Gadis lugu itu kini menjadi sosok yang tergila-gila dengan kemudahan mendapatkan uang dari dunia malam yang dikenalnya dari seorang lelaki, sebut saja Arif (nama samaran). Awalnya ia tak mengenal pekerjaan ini, tetapi setelah mencobanya ia menjadi ketagihan dan menjadikan pekerjaan ini sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan sang ayah.

“Asal dapet uang banyak dengan cepat saya mau lakukan apapun itu. Ya salah satunya bekerja seperti ini,” jelasnya

Menjanjikan memang bekerja sebagai PSK dan tergabung dalam kegiatan “wisata tubuh” ini. Pasalnya, gadis 16 itu menjelaskan bahwa tarif perjam ketika ia menjajakkan diri berkisar Rp 250.000 rupiah hingga Rp 300.000.  “Sebulan paling dikit saya dapat 7 juta,” tutur Kinan.

Menjadi Pedagang Setelah 8 Tahun Berprofesi sebagai PSK

Tak dapat dipungkiri memang setiap orang membutuhkan sejumlah uang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada orang yang dengan mudah dapat memperoleh apa yang diinginkan dan tak jarang ada yang harus berjuang untuk mendapatkan hal yang diinginkan, terlebih lagi mendapatkan senyum dari orangtua dengan mengorbankan kebahagiaan diri sendiri.

“Sebenarnya siapa sih yang mau memiliki pekerjaan seperti ini? Kita diluar pura-pura bahagia, batin sebenarnya menangis,” tutur seorang eks penyandang penyakit sosial berinisial E yang berasal dari daerah Padjadjaran Bandung.

Kisah hidup dalam kemerlap malam bermula ketika ia harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Menjadi anak terakhir dari 12 bersaudara membuatnya harus meluangkan waktu dan segala kekuatan yang dimiliki untuk merawat dan membiayai keperluan orangtua.

“Bukannya saudara yang lain tak peduli dengan orangtua, tetapi mereka membutuhkan biaya juga untuk memenuhi keperluan kelurganya,” tutur E.

Ia memilih mengakhiri sekolah ketika duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Ketika berusia 11 tahun ia mulai bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Bandung. Memasuki usia 17 tahun kehidupannya semakin tak mengenal masa remaja, ia dijodohkan dengan seorang laki-laki yang berasal dari Cicalengka. Pernikahan tersebut tidak bertahan lama, setelah dikaruniai seorang anak yang akhirnya meninggal, mereka akhirnya berpisah.

“Pernikahan itu hanya bertahan satu tahun dan saat itulah saya mulai mengenal dunia malam,” jelasnya.

Ketika mengenal dunia malam, ia merasakan nikmatnya mendapatkan uang, dengan mudah ia dapat dengan cepat mengumpulkan uang dan dapat memberikan kepada orangtuanya.

“Sejam saya dibayar Rp 300.000 dan saya suka mengulur waktu untuk mendapatkan uang lebih banyak.” Jelas E. Uang 300 ribu juga bukan patokan harga terus bertahan, pasalnya uang yang diperoleh itu sesuai dengan kesepakatan sebelum mereka mulai “bermain”.

Berbeda dengan kisah Kinan sebelumnya yang mengenal dunia malam dari orang lain, E mengenal dunia malam dengan caranya sendiri. Cara menjajakan diri keduanya pun berbeda, Kinan dengan perantara oranglain, sedangkan E menjajakan secara langsung dirinya.

“Saya jarang mangkal, saya sering langsung main ke hotel,” jelas E. Saya juga sering dikasih alamat rumah oleh klien, sebutannya untuk para pelanggannya. “Klien menelpon saya dan memanggil saya ke rumah,” tambah E.

Tak selamanya memang yang mudah itu memberikan kenyamanan. Pasalnya setelah bekerja sebagai PSK selama kurang lebih 8 tahun, E memillih mengakhiri pekerjaannya sebagai PSK.

“Kita itu gak selamanya hidup sehat dan muda terus,” jelas E.

Banyak rintangan yang dialami E sebelum akhirnya ia memilih berhenti dari kehidupan yang memberikannya banyak kemudahan. Pertanyaan bagaimana kehidupan di masa tua menjadi penguat E untuk meninggalkan dunia itu, keinginan memiliki suami dan keluarga kecil yang bahagia adalah idaman E. Kegagalan berumah tangga pada masa muda, membuatnya semangat untuk berumah tangga lebih baik.

“Kalau kita punya suami, walaupun hidup susah, kita tetap dihargai sama masyarakat dan orang-orang sekitar.  Tapi kalau kita hidup begitu, gak akan ada orang yang menghargai kita,” jelas E.

Kita dihargai bukan karena materi, tetapi karena tingkah laku. “Biarilah hidup susah yang penting punya suami,” tambah E menutup penjelasanya.

E kini lebih fokus menatap kehidupannya suami dan enam orang anak yang dikaruniakan kepadanya. Walaupun kini ia bekerja hanya sebagai pedagang kelontong dan suaminya hanya bekerja sebagai pedagang kopi, ia merasa bahagia. Kini E terus berusaha menata hidup dengan terus melibatkan diri dalam pelatiahan-pelatihan yang diberikan Dinas Sosial Kota Bandung terhadap wanita eks penyandang penyakit sosial.

Tulisan ini terpilih sebagai Berita Mendalam Terbaik dalam acara Journight 2017 dan Dimuat dalam Rubrik “Telisik” Pikiran Rakyat pada Senin, 9 Oktober 2017.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY