SHARE
sint
Ilustrasi by Indolah.com

Oleh Fadiyah dan Muhammad Iqbal

Kamis malam awal Maret lalu, di salah satu sudut pinggiran Kabupaten Sumedang, tak jauh dari perguruan tinggi elite negeri, sembilan pemuda (yang akan disebutkan dengan nama samaran) berkumpul di rumah seorang kawannya. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa baru, tapi ada pula yang dari tingkat dua dan tiga. Mahasiswa dari kampus yang berbeda ini dipersatukan oleh latar belakang hobi yang sama, alkohol.

Malam itu, seseorang hadir membawakan permainan baru, tertanam dalam tiga lintingan kecil dan tersembunyi di dalam kotak rokok. Tentunya bukan rokok dan terlalu mungil untuk ganja. Itu adalah tembakau yang akrab dengan julukan “sinte” atau ganja sintetis.

Salah seorang dari mereka, Jarwo, mengambil lalu menyulutnya. Ia mengisap hanya dalam satu tarikan. Dilanjutkan ke temannya, Andre, yang memang sudah terbiasa menggunakannya. Tanpa ragu, Andre langsung mengisap sekitar tiga tarikan. Jarwo terlihat sulit menahan beban di kepalanya. Tak lama kemudian, ia tidur. Andre tak terkena reaksi apapun.

Dalam bentuk pertemanan semacam ini, lintingan memang menjadi sesuatu yang diputarkan secara bergilir. Rizki, yang sebelumnya sudah minum alkohol cukup banyak, ikut mengisap, hanya satu isapan. Selanjutnya Bambang, yang sebelumnya belum pernah mencoba, juga ikut hanya satu isapan. Saat itu pula putaran berhenti.

Rizki duduk dengan kaki menyila dan kepala menunduk tanpa bergerak sama sekali, seperti patung yang memang diciptakan dalam bentuk seperti itu. Bambang langsung kejang, menggulingkan diri dalam ruangan tersebut. Ia muntah di sembarang tempat, memental-mentalkan diri, menyeretkan dirinya ke luar ruangan, dan lanjut muntah. Hal tersebut berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit. Teman-temannya menenangkan, mengatakan bahwa efeknya tak akan berlangsung lama. “Ikuti saja putarannya, jangan melawan, jangan bingung, tenang.”

Tak lama ketika Bambang sudah tenang, Rizki akhirnya muntah dan dibantu oleh beberapa kawan yang masih sadar. Setengah jam setelah berbagai kejadian berlangsung, Andre melanjutkan hisapannya. Saat itu, Ia telah mengambil tarikan kedelapan. Tubuhnya tak sedikit pun mengalami efek samping, bahkan ia masih merasa kurang.

“Naik, tapi tidak naik-naik teuing”, katanya. Wajar saja, Ia sudah terbiasa dan membutuhkan dosis yang lebih untuk dapat merasakan apa yang dirasakan oleh kawan-kawannya.

Pemandangan semacam ini bukan lagi hal baru bagi mereka yang biasa menggunakannya. Pemandangan yang hanya didapatkan dari tembakau gorilla. Kejadian-kejadian aneh yang dialami mereka biasa disebut “kesurupan”. Meronta-ronta, kejang, membatu, atau muntah. Bagi mereka, kuncinya adalah jangan melawan rasa yang hadir, tapi mengikuti arus rasa yang diberikan olehnya.

Synthetic cannabinoids atau yang akrab dengan sebutan ganja sintetis atau tembakau super masuk dalam kategori new psychoactive substances (NPS) atau narkoba jenis baru dan baru masuk dalam Golongan 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkoba pada awal tahun ini, tepatnya 9 Januari 2017. Keberadaan ganja sintetis ini mulai tercium masyarakat sejak hebohnya media karena salah satu presenter acara musik di televisi ditangkap karena kepemilikannya pada 2013 lalu. Namun ia tidak terjerat hukum karena belum ada hukum yang mengatur saat itu.

Penyebaran dan tren penggunaan ganja sintetis hadir di seluk-seluk jalanan ibukota hingga kampus-kampus terkenal dalam negeri. Misalnya RF, salah satu mahasiswa yang sempat menjadi pemakai dalam kurun waktu yang cukup lama. Ia mengenal ganja sintetis pada Maret 2016. Pada kisaran waktu itu, ganja sintetis memang sedang menjadi tren hangat bagi sebagian mahasiswa tongkrongan di kampusnya.

Informasi tentang apa dan bagaimana dampaknya pun masih tidak jelas. RF mendapat ganja sintetis atau sinte dari teman dekatnya. Sebelumnya, mereka memang senang menggunakan ganja yang alami. Namun, selayaknya beberapa pengguna lainnya, ia tidak menyukai efek yang dirasakannya pada saat awal menggunakannya.

“Hanya mencoba tiga shot (tarikan), ternyata saya kelabakan dan emang efeknya gila, hingga tidak sadar dan ingin mati,” cetus RF saat menceritakan tentang pengalaman pertamanya.

Setelah dua minggu dari pemakaian awal, temannya kembali membawa ganja sintetis. Ia mencoba kembali dengan tarikan yang sedikit dikurangi. Dari sana, tubuhnya mulai dapat merasakan kenikmatannya. Barang yang pada awalnya ia dapatkan secara gratis, lama-kelamaan Ia turut patungan bersama teman-temannya untuk mendapatkannya. Semakin lama, tubuhnya semakin menyesuaikan diri, sehingga dosis yang dihirup harus terus dinaikkan agar senantiasa mendapatkan sensasinya.

“Harganya 150 ribu untuk 2-3 gram. Itu standar pasar. Awalnya, 2 gram tersebut bisa bertahan hingga satu sampai dua minggu,” tutur RF sembari meneguk kopi tubruk di salah satu cafe dekat kampus. “Semakin sering menggunakan,dosisnya semakin tinggi. Bisa beli hingga 600 ribu dan hanya bertahan selama tiga hari. Karena tidak ada uang, akhirnya beli lintingan sekitar 25 ribu,” lanjutnya.

Jenis-jenis ganja sintetis ini beragam, ada yang ringan dalam artian ia memiliki efek “naik” yang rendah dan dalam jangka waktu pendek. Ada pula yang memiliki efek “naik” yang tinggi dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Pada umumnya, ia hanya bertahan sekitar 5-15 menit. Namun dalam perkembangan pasarnya, ia mampu menghadirkan jenis yang mampu menghadirkan efek dengan jangka waktu yang lebih lama, bahkan hingga semalaman.

“Efeknya, Gue bisa mukul orang, sering berbohong, kasar sama orang, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang,” tutur RF.

Hal ini dibenarkan Arifah Nur Istiqomah, Kepala Program Studi Jurusan Psikiatri, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran sekaligus Psikiatri Umum dan Adiksi di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Ia memaparkan bagaimana ganja sintetis memunculkan perilaku agresi pada pecandunya. Hal yang sama juga dipaparkan psikiater dari Rumah Sakit Jiwa Dr.Soeharto Heerdjan, Adhi Hidayat yang sempat merawat tiga dari lima pasien pengguna ganja sintetis karena perilaku agresi yang ditimbulkan.

Di Australia, ganja sintetis ini telah beredar sejak tahun 2004. Di beberapa negara, seperti di Amerika Serikat kasus kematian akibat penggunaan ganja sintetis ini pun sering terjadi. Ganja sintetis yang identik dengan nama pasar sebagai K2 atau spice ini pada akhirnya menarik pihak peneliti dan hukum untuk menindaklanjutinya. Bahkan di Facebook ada sebuah grup bernama Fake Pot Horror Stories: The Dangers of Synthetic Marijuana yang sempat menjadi wadah untuk menyebarkan informasi terkait dampak-dampak negatif dari penggunaan ganja sintetis ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY