SHARE
IMG_9279
Wawancara bersama Dhira Narayana dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Dok: Fadiyah dan Muhammad Iqbal.

Oleh Fadiyah dan Muhammad Iqbal

Sebagai aktivis yang bergerak untuk melegalkan ganja, Dhira Narayana dari Lingkar Ganja Nusantara (LGN), mengaku pernah mendapatkan ganja sintetis sekitar tahun 2012 yang ia dapatkan dari temannya. Efek yang dihasilkan nyatanya berbeda dari ganja alami. Baginya, ganja sintetis itu lebih berbahaya.

“Ketika saya pakai awalnya gelap. Rasanya seperti melihat langit tapi kayak cahaya-cahaya. Saya jadi parno, mau balik ke dunia biasa gak bisa dan saya ketakutan,” katanya.

Dari pernyataan Dhira, kami mendapatkan adanya perbedaan mengenai ganja dan ganja sintetis. Kami mulai menelusuri bagaimana sejarah dari ganja sintetis ini. Kami menemukan beberapa artikel yang terkait dengan itu, ditulis oleh Dania Putri, Ahli Aturan Obat-Obatan Internasional dan Kebijakan Obat-Obatan di Asia Tenggara.

Melalui surat elektronik, Dani menjelaskan bahwa ganja sintetis atau synthetic cannabinoids tidak terbuat dari elemen apapun dari tanaman ganja. Barang tersebut merupakan salah satu dampak dari pelarangan konsumsi, distribusi, dan produksi ganja.

“Pastinya juga pernah mendengar istilah seperti ‘legal high’ atau ‘synthetic cannabinoids’ (istilah yang lebih scientific tetapi jarang digunakan) yang banyak beredar di negara-negara Amerika Utara dan Eropa,” kata Dania lewat pesan surel. Menurutnya pula, produk-produk ini menyebar karena pada kenyataannya, pengguna zat psikoaktif (narkoba/napza) merupakan hal yang tidak dapat dihindari, terlepas dari pelarangan dan ancaman hukuman dari pemerintah.

Berbagai kasus yang terjadi dari pemberitaan di beberapa media menyebutkan bahwa barang tersebut dikenal dengan tembakau gorilla, sehingga masyarakat mengenal ganja sintetis ini dengan sebutan gorilla. Melihat fenomena tersebut, Dania pun mempunyai pendapat perihal itu.

“Menurut saya, dinamikanya mirip dengan dinamika penyebaran New Psychoactive Substances (NPS) dan zat-zat narkotika sintetis di negara-negara lain. Produk tembakau gorilla (yang sampai Januari 2017 lalu, statusnya masih ‘legal’) merupakan salah satu bentuk balloon effect dari pelarangan ganja (dan mungkin juga dari pelarangan narkotika secara umumnya),” lanjut Dania.

Balloon effect atau efek balon itu sendiri jika dikaitkan dengan pemerintah saat ini bisa dikatakan ketika pemerintah melarang satu jenis zat psikoaktif atau narkotika, misalnya dengan cara memusnahkan ladang ganja atau menangkap seorang bandar, pemerintah tidak menyadari bahwa nantinya, ladang-ladang ganja baru akan muncul (di tempat yang berbeda), dan bandar-bandar baru akan muncul (dengan taktik yang berbeda).

Dari sisi marketing, pengusaha-pengusaha produk ganja sintetis seperti tembakau gorilla melihat peluang keuntungan jika produk tersebut dipasarkan sebagai substitusi ganja (yang statusnya legal dan dengan begitu dianggap aman). Hal tersebut terbukti, penjualan ganja sintetis ini meningkat. Menurut data PBB yang menangani obat-obatan dan kejahatan atau UN Office on Drugs and Crime (UNODC) pada tahun 2008 mencapai 26 orang dan meningkat pada tahun 2014 yang mencapai 452. Bahkan, dalam situs economist.com disebutkan bahwa angka tersebut makin meningkat hingga mencapai angka 700.

Setelah mendapatkan berbagai penjelasan mengenai ganja sintetis dari Dania, kami meneruskan penelusuran kami mengenai ganja sintetis ini. Kami menemui pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai ganja sintetis ini. Kami bertemu Hari Nugroho yang memegang bagian rehabilitasi di BNN. Menurut Hari, sejarah awal ganja sintetis ini sekitar akhir 80-90-an ketika John W Hoffman berhasil menciptakan synthetic cannabinoid (SC) yang pertama.

“Sebenarnya yang bikin SC itu pabrik farmasi bukan bandar narkoba. Tujuannya adalah untuk pengobatan,” kata Hari.

Awalnya ada 4 bagian utama dari synthetic cannabinoid ini, lalu dikembangkan lagi dengan adanya penyalahgunaan menjadi 7-9 jenis. Turunannya banyak lagi. Di Eropa sendiri ditemukan ada 137 jenis synthetic cannabinoid. Di Indonesia ada 21 jenis ganja sintetis dari 56 jenis narkoba baru yang masuk ke Indonesia.

“Sebetulnya istilah ganja sintetis itu tidak tepat, yang tepat adalah synthetic cannabinoid,” kata Hari. “Penamaan ini dilakukan karena synthetic cannabinoid menyerupai THC, zat aktif ganja,” lanjutnya.

SC itu sebenarnya zat kimia, bukan ganja bikinan. Zat kimia yang bekerja di saraf otak itu bukan ganjanya yang dibuat sintetik, tapi zat cannabinoid-nya.

“Penggunaannya itu disemprotin ke herbal-herbal, tembakau, ada yang pakai bunga lili, kecambah, ada yang pake kacang ijo, pokoknya macem-macem,” kata Hari.

Payung Hukum Belum Kuat

Ganja sintetis atau tembakau super merupakan new psychoactive substances (NPS) atau narkoba jenis baru. Ia telah beredar cukup lama di Indonesia, tapi diakui oleh hukum awal tahun ini, tepatnya pada 9 Januari 2017. Ia ditetapkan masuk ke golongan 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Sebelumnya, telah banyak terjadi penangkapan. Di wilayah Jawa Barat sendiri, penangkapan pertama kali dilakukan di Garut pada awal 2015. Namun tidak dapat dipidana atas asas legalitas, yakni nullum delictum noella poena sine praevia lege poenali atau tidak ada tindak pidana jika belum ada undang-undang pidana yang mengaturnya lebih dahulu.

“Kami hanya menerapkan sanksi sosial dengan cara memberi tahu kepada orang tuanya bahwa anak Anda menggunakan tembakau yang diduga mengandung narkotika,” ujar Mulyadi selaku Kabag Bin Opsnal Dit Res Narkoba di Polda Jabar.

Hal yang menjadi masalah lain adalah setelah diberlakukannya aturan terkait ganja sintetis ialah belum adanya alat pengecekan apakah seseorang menggunakan ganja sintetis atau tidak. Meskipun ada, biasanya alat tersebut hanya mampu mendeteksi beberapa varian, bukan segala variannya. Hal tersebut karena varian yang cukup banyak dari ganja sintetis itu sendiri.

Menurut Adhi Hidayat, selaku pihak dari Kementerian Kesehatan sekaligus Psikiater di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, sejauh ini cara yang dilakukan lewat wawancara. Salah satu ciri-ciri khususnya ialah pengguna cenderung gelisah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY