SHARE

Raudiya Nurfadilah – 

Saat itu, ketika Mila masih SMP guru biologinya menampilkan video tentang perempuan yang sedang melahirkan. Semua orang di kelas mendadak gaduh, ketika bu guru mulai memutar video tersebut. Padahal video itu untuk pembelajaran mengenai organ reproduksi, Mila sangat tertarik dengan video tersebut, namun berbeda dengan teman-temannya yang menganggap video tersebut tidak patut ditampilkan, sehingga bisa menimbulkan efek ketakutan kepada siswi jika kelak hamil dan melahirkan.

Hal tersebut sama dengan respon yang diterima Mila, ketika Mila mengobrol dengan teman-temannya di kampus. Mila penasaran mencoba untuk membelokkan bahasan ke arah seks. Namun, yang terjadi Mila dianggap jorok dan berpikiran kotor. Padahal Mila berusaha berdiskusi agar pengetahuannya mengenai seks tidak melulu menjurus kepada hal yang negatif.

Dari cerita di atas menjadi bukti, memang pendidikan kesehatan reproduksi atau lebih dikenal dengan istilah edukasi seks, masih menjadi hal yang tabu di Indonesia. Edukasi seks merupakan upaya transfer pengetahuan dan nilai tentang fisik genetik manusia dan fungsinya, khususnya terkait dengan jenis (sex) laki-laki dan perempuan sebagai kelanjutan dari kecenderungan primitif mahluk hewan dan manusia yang tertarik dan mencintai lawan jenisnya.

Edukasi seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak, dalam usaha menjaga diri agar terbebas dari kebiasaan kemungkinan yang mengarah ke hubungan seksual terlarang. Pengarahan dan pemahaman yang sehat tentang seks dari kesehatan fisik, psikis, dan spiritual. Edukasi seks juga merupakan upaya menindaklanjuti kecenderungan insting manusia.

Sudah seharusnya edukasi seks diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak atau remaja atau dewasa, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Ini penting untuk mencegah biasnya pendidikan seks maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Materi pendidikan seks bagi para remaja ini terutama ditekankan tentang upaya untuk mengusahakan dan merumuskan perawatan kesehatan seksual dan reproduksi serta menyediakan informasi yang komprehensif termasuk bagi para remaja.

Menurut Dr. Indah Amelia Health Behavior and Health Education, edukasi seks di Indonesia masih relatif  tabu dibandingkan dengan negara lain, karena Indonesia merupakan Negara Timur yang memiliki budaya yang kuat. Maka membicarakan ‘seks’ tidak bisa dibicarakan secara frontal terang-terangan. Tapi sekarang sudah jauh lebih berkembang daripada dulu, sekarang sudah banyak pendidikan seks di sekolah, ada pengajarannya. Atau ada LSM dan ada petugas kesehatan yang memberikan penyuluhan kepada remaja. Tapi secara umum pendidikan seks masih tabu.

“Kalau pakai kata ‘seks’ itu kedengarannya vulgar banget, jadi kesannya ketika membicarakan pendidikan seks, orang-orang mikirnya tuh apa. Sebenarnya tuh maksudnya bukan itu, seks itu artinya hal yang berhubungan dengan kelamin. Memang konotasinya kurang baik, kita menyebutnya pendidikan kesehatan reproduksi. Itu di dalamnya ada tentang seks,” ujar dokter perempuan 31 tahun itu.

Masih timbul pro-kontra di masyarakat, lantaran adanya anggapan bahwa membicarakan seks adalah hal yang tabu dan pendidikan seks akan mendorong remaja untuk berhubungan seks. Sebagian besar masyarakat masih memandang pendidikan seks seolah sebagai suatu hal yang vulgar.

Berdasarkan sudut pandang psikologis, pendidikan seksual sangat diperlukan bagi perkembangan remaja, dengan harapan agar remaja tidak memiliki kesalahan persepsi terhadap seksualitas dan tidak terjebak pada perilaku-perilaku yang kurang bertanggungjawab baik dari segi kesehatan maupun psikologis.

Pendidikan seks yang dilakukan sejak dini dapat menekan laju angka penderita penyakit kelamin, AIDS dan aborsi yang dilakukan kalangan remaja. Bahkan juga bisa mencegah terjadinya perilaku penyimpangan seks. Materi pendidikan seks tidak perlu ditutup-tutupi, karena akan menjadikan siswa bertambah penasaran dan ingin mencobanya. Namun, perlu juga disertai penjelasan akibat seks itu sendiri.

 

Edukasi seks, Pentingkah?

Alasan mengapa edukasi seks sangat penting bagi remaja dewasa, yaitu manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikologis ke arah dewasa. Ada beberapa dari mereka yang tidak dan belum paham mengenai seks. Sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adalah hal yang tabu. Sehingga dari ketidakpahaman tersebut para remaja merasa tidak bertanggungjawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya.

Selanjutnya, dari ketidakpahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi mereka, di lingkungan sosial masyarakat, banyak yang menawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, antara lain DVD, majalah, internet, bahkan tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakpahaman remaja tentang edukasi seks ini, banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV/AIDS dan sebagainya.

Menurut Dr. Indah Amelia, kita tidak bisa memungkiri bahwa remaja mulai berekplorasi ada perubahan juga sama badannya. Mulai tertarik dengan lawan jenis, mencari tahu, bertanya-tanya, dan mencoba-coba. Misalnya remaja itu mencari tahu sendiri ditempat yang salah dan mencoba hal-hal yang salah.

Sebuah buku materi berjudul Sex Education for Young Adults menjawab banyak pertanyaan mengenai seks. Buku materi itu ditulis oleh Anne Akia Fieder dan Dr. Elioda Tumwesigye yang berasal dari Uganda. Menurut kedua ahli tersebut, young adults atau para dewasa awal membutuhkan pendidikan seksual, terutama karena berhubungan dengan pernikahan, karir, dan usia.

Lingkungan memberikan banyak sekali stimulasi seksual. Konflik antara nafsu dan norma sosial sering kali membuahkan frustrasi seksual yang menimbulkan hubungan casual, TTM, bahkan kehamilan di luar nikah dan kehamilan remaja. Terlebih, kriminalitas dan penambahan jumlah korban sexual transmitted disease (STD) atau penyakit menular seksual juga bertambah. Hal-hal tersebut hanya mampu dicegah dengan adanya pendidikan seksual, yang tidak hanya diberikan pada saat mereka masih remaja, juga ketika mereka mulai beranjak dewasa, yaitu pada awal usia 20an.

Tidak hanya itu, dengan memberikan pendidikan seksual yang sesuai juga akan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar para dewasa muda. Contohnya saja, biasanya, para orang dewasa muda cenderung suka untuk berbagi cerita. Dari curhat dan cerita, maka pendidikan seksual dapat berkembang, sehingga mereka terhindar dari keburukan dan mitos seksual.

Penelitian Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia pada 2007 menemukan, perilaku seks bebas bukan sesuatu yang aneh dalam kehidupan remaja Indonesia. Kementerian Kesehatan pada 2009 pernah merilis perilaku seks bebas remaja dari hasil penelitian di empat kota: Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya. Hasilnya, sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan, 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual pranikah.

 

Bagaimana Cara Penyampaian Edukasi Seks yang Tepat ?

Belajar tentang seks berbeda dengan kita belajar tentang keterampilan yang lain. Misalnya kita belajar renang agar mengetahui tentang teknik berenang yang baik, namun belajar tentang seks bukanlah belajar bagaimana aktivitas seks yang baik, melainkan apa yang akan timbul atau dampak dari aktivitas seks tersebut.

Pembekalan tentang seks ini penting dan perlu sekali. Pengenalan atau pendidikan tentang seks, bisa dimulai dengan berdiskusi langsung tentang kesehatan reproduksi. Dengan cara yang lebih akrab atau curhat. Bisa juga dengan seringnya membuat sebuah seminar tentang seks dengan mengundang pakar yang bisa menjelaskan lebih detil lagi. Misalnya dokter atau psikolog, yang cakap dan paham dalam urusan gaya hidup remaja dan kesehatan reproduksi. Yang penting adalah orang yang memberikan pendidikan itu harus paham juga. Baik orangtua atau guru atau dokter dan yang lainnya, pihak orangtua dewasa yang memiliki pengaruh dan kewajiban untuk mendidik.

Edukasi seks itu bisa didapat dari mana saja. Ada pendidikan dari rumah sakit atau LSM. Harus benar informasi yang didapatnya, karena di zaman sekarang informasi bisa di dapat dari mana saja. Cuman kita tidak tahu yang benar yang mana kalau mencari sendiri. Siapa pun bisa memberikan informasi mengenai edukasi seks yang penting informasinya benar.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY