SHARE

Siang itu jalanan sebuah desa bernama Bekonang tampak lengang. Hanya terlihat beberapa orang mengendarai sepeda. Beberapa lagi menunggang motor. Pun ada yang berjalan kaki. Kebanyakan dari mereka membawa perkakas pertanian seperti cangkul, clurit, dan yang lainnya yang disimpan di dalam karung. Mereka hendak pulang dan berjalan menjauhi tiap jengkal ladangnya menuju rumah. Mengingat sore hampir tiba dan ladang memaksanya pergi.

Mereka adalah warga Desa Bekonang yang berprofesi sebagai petani. Adat ketimurannya masih kental terasa. Ditunjukan dengan menyapa setiap orang yang berpapasan di jalan sambil diikuti senyum ramah. Baik ke sesama warga Bekonang atau kepada orang asing yang ditemui di jalanan yang kanan dan kirinya terhampar sawah hijau.

Bekonang adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Terletak kurang lebih sepuluh kilometer ke arah timur dari Kota Surakarta. Sesaat sebelum memasuki kawasan desa itu, di bagian depan, terdapat plang bertuliskan “Sentra Industri Kecil Alkohol”. Di desa inilah alkohol Bekonang diproduksi dan dijual. Terdapat sekitar 50-an kepala keluarga (KK) yang berprofesi sebagai pengrajin alkohol dan menggantungkan sirkulasi ekonominya dari produk alkohol.

Masyarakat Desa Bekonang memproduksi ciu, minuman beralkohol yang terbuat dari fermentasi tetes tebu. Di desa ini ciu diproduksi di pabrik-pabrik kecil rumahan dan kepemilikan pribadi. Di pasaran, olahan setengah jadi etanol ini kondang dengan nama “Ciu Bekonang”.

“Kalau lihat kayu-kayu dan drum ada di depan rumah, itu adalah pabrik alkohol,” ucap Sabariono, Ketua Paguyuban Pengrajin Alkohol Bekonang, saat ditemui di aula paguyuban.

Tidak sulit jika hendak mencari rumah yang memproduksi minuman memabukan ini. Di setiap ruas jalan yang ditemui, di setiap sudut desa, terdapat rumah-rumah yang diindikasikan sebagai pabrik ciu jika merujuk kepada keterangan Sabariono.

Bau tetes tebu terfermentasi tercium pekat dari tiap drum yang bisa menampung lebih dari 100-an liter ciu. Sesekali terdengar suara buih-buih kecil yang pecah di permukaan cairan kental berwarna cokelat yang megisi tiap-tiap drum. Terciptanya buih dan perubahan warna cairan itu merupakan reaksi dari percampuran tetes tebu dan yeast atau bakteri yang digunakan untuk memfermentasi.

“Di Bekonang ini sudah ada sejak Zaman dulu. Zaman nenek moyang kita. Dia (produsen ciu terdahulu) memproduk ciu untuk kepentingan minuman. Minuman yang mengandung alkohol. Di sini kandungan alkoholnya 25-30 persen,” ucap pria 75 tahun itu.

Tak ada bukti otentik yang bisa menunjukan sejak kapan warga Bekonang mulai memproduksi ciu. Sejarah soal asal-muasal ciu dan identitasnya hanya diturunkan dari mulut ke mulut. Lewat cara inilah ditemukan beberapa kemungkinan jawaban dari pertanyaan “kapan ciu mulai diproduksi di Bekonang?”.

Sabariono selaku orang nomor satu di paguyuban mengatakan jika ciu sudah mulai diproduksi dari zaman pendudukan Belanda. Kolonialisme Belanda yang telah disepakati terjadi sejak mendaratnya kapal Cornelis de Houtman pada 1595-1942. Jika mengacu pada pernyataan Sabariono, ciu mulai diproduksi  pada rentang waktu 350-an tahun. Ia sendiri tidak tahu pasti kapan tepatnya ciu sudah mulai diproduksi.

Ada juga yang mengatakan sejak pendudukan Jepang, awal 1940-an. Sumber lain memberikan keterangan yang lebih detil dari kedua keterangan di atas.

“Sejak rumah ini berdiri tahun 1910, sepertinya kakek saya sudah memproduksi ciu,” kata Setianto, salah satu warga Desa Bekonang dan produsen ciu.

Sejak rumahnya berdiri lebih dari seabad silam, katanya, sudah dirancang agar memungkinkan digunakan untuk memproduksi ciu. Bagian depan rumah hampir sama dengan rumah pada umumnya. Terdapat parkiran yang dapat menampung 4-5 motor. Terdapat juga teras dengan beberapa kursi, lengkap dengan mejanya. Hal berbeda dapat terlihat setelah memasuki bagian belakang rumahnya. Terdapat sebuah ruangan, di dalamnya berjajar lima alat penyulingan alkohol yang baru selesai beroperasi.

Rumah sekaligus pabrik pengolahan ciu milik Setianto ini terbagi menjadi dua: bagian depan dibuat untuk kebutuhan tinggal dan di bagian belakang dibuat untuk kebutuhan produksi ciu.

“Setahu saya dulu membuat ciu itu disimpan di dalam gentong-gentong kayu atau tanah liat. (Setelah difermentasi) Lalu dikubur,” katanya saat menjelaskan bagaimana ciu diproduksi pada masa lampau.

Tidak ada yang bisa menjelaskan (lagi) mengapa pada zaman dulu ciu yang tengah dalam proses fermentasi harus dikubur di dalam tanah. Bukan masalah cita rasa atau hal filosofis lainnya, namun semua mengamini cara itu dilakukan untuk menghindari kecurigaan tentara Belanda. Konon, pada zaman kolonialisme Belanda dulu, ciu sempat dilarang. Alasannya karena keberadaan ciu dapat mengalahkan eksistensi minuman alkohol produksian barat yang harganya menguras dompet.

Pengolahan ciu

Proses Pembuatan Ciu

“Tahu berita di Bandung tentang puluhan orang yang meninggal karena keracunan minuman beralkohol? Baru saja saya selesai rapat dengan orang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membahas soal itu. Mereka curiga produk Bekonang adalah penyebabnya. Saya sudah bilang, olahan kami kandungan alkoholnya adalah etanol (C2H5OH). Sedangkan  kandungan alkohol dalam minuman itu adalah metanol (CH3OH),”.

Ia mengatakan hampir tidak mungkin ada orang yang meninggal akibat meminum ciu Bekonang. Kalau terlalu banyak, efeknya adalah mabuk. Ciu berbahan baku dari tetes tebu. Lalu diolah dengan cara difermentasi agar menghasilkan alkohol. Sedangkan metanol adalah gas alam yang memang bukan untuk dikonsumsi.

Pembuatan ciu di Bekonang masih dilakukan dengan cara-cara tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Semua proses pengolahaannya dilakukan sendiri di rumah atau pabriknya masing-masing. Sebelum jadi minuman yang memabukan, ciu melewati tiga tahapan.

Tahap pertama, tetes tebu, sebagai bahan dasar ciu disimpan dalam sebuah bak penyimpanan. Tetes tebu didapatkan dari pabrik gula di Sukoharjo dan sekitarnya. Tetes tebu atau molase adalah sisa produksi pabrik gula berbentuk cair yang sudah dipisahkan dengan kristalnya.

Besarnya bak penyimpanan tergantung kemampuan pemilik pabrik. Misalnya Sabariono, ia memiliki bak penyimpanan yang berukuran kurang lebih 4x5x2 meter. Penyimpanan ini tidak ada hubungannya dengan proses pengolahaan tetes tebu menjadi ciu. Menyimpan persediaan tetes tebu semata-mata agar dapat diproduksi secara berkala.

Selama berada di bak penyimpanan, tetes tebu tidak mendapatkan perlakuan khusus. Hanya dijaga agar tidak rusak oleh air yang membawa bakteri. Dikhawatirkan bakteri yang ikut terbawa air merusak tetes tebu dalam bak penyimpanan.

Tahap kedua, proses fermentasi. Proses ini adalah awal dari proses fermentasi dan upaya untuk mengubah kandungan gula yang terdapat pada cairan tetes tebu menjadi alkohol. Yeast akan dimasukan ke dalam sebuah wadah – biasanya menggunakan drum – yang berisi 50-an liter tetes tebu dengan perbandingan yang berbeda setiap produsennya.

Saat tetes tebu diberi yeast, akan langsung terjadi reaksi. Tetes tebu yang bertekstur kental, pekat, dan berwarna cokelat itu akan menimbulkan bunyi seperti air mendidih dan menghasilkan buih-buih kecil. Artinya yeast bereaksi dan memecah kandungan gula dalam tetes tebu. Setelah tetes tebu diberi yeast, diperlukan waktu sekitar 5-7 hari untuk mengubah kandungan gula menjadi alkohol secara sempurna.

Proses ini hanya memerlukan waktu untuk yeast bekerja. Drum tempat fermentasi berlangsung cukup didiamkan dan disimpan di tempat yang kering. Asalkan tidak tercampur air hujan atau lainnya. Drum dibiarkan terbuka. Sehingga sesekali pengrajin dapat mengecek keadaan tetes tebu yang tengah difermentasi.

Tahap ketiga, ciu. Setelah proses fermentasi mengubah kandungan gula menjadi alkohol, ciu yang sudah jadi mengandung 25-30 persen alkohol dan dapat dikonsumsi. Namun proses fermentasi yang lama dan dibiarkan terbuka, terlebih dulu ciu harus  disaring menggunakan kain atau benda semacamnya untuk memisahkan ampas fermentasi dengan cairan bening yang selanjutnya disebut ciu.

Transformasi Ciu

Mulanya ciu diproduksi sebagai minuman alkohol yang memabukan. Keberadaannya tidak lepas dari banyaknya pabrik gula yang tumbuh subur di sekitar Sukoharjo. Namun sejak tahun 1960-an, pemerintah mengarahkan para pengrajin ciu untuk memproduksi alkohol medis (etanol) dari yang semula alkohol untuk dikonsumsi.

“Alkohol yang untuk diminum itu harus ada perizinannya. Legalitasnya harus ada. Misalkan kadar alkoholnya harus sekian persen. Tanpa izin itu, tidak boleh diproduksi dan diperjual-belikan. Jadi tidak sembarang orang bisa produksi alkohol,” ucap Sabariono saat ditanyai soal pergeseran produk dari ciu menjadi alkohol medis.

Pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo memberikan bantuan peralatan sederhana untuk menyuling ciu menjadi alkohol medis. Namun, saat itu bantuan yang diberikan hanya satu unit. Hanya ada satu orang yang mampu mengolah ciu jadi alkohol medis karena keterbatasan alat. Sedangkan pengrajin alkohol yang lain masih tetap memproduksi dan menjual-belikan ciu seperti sebelumnya.

“Perubahan yang terasa itu pada 1981. Karena pemerintah mengharapkan tidak ada minuman keras yang ke luar dari sini (Bekonang),” tuturnya.

Secara bertahap pengrajin alkohol Bekonang mulai mengolah ciu menjadi etanol. Sampai sekarang, hampir semua pengrajin memiliki tempat penyulingannya masing-masing. Proses penyulingan dilakukan dengan metode distilasi atau memanfaatkan panas unruk memisahkan alkohol dengan air.

Sabariono memiliki pabrik yang cukup besar. Lebih besar dari pabrik milik tetangganya yang lain. Ia memiliki delapan alat penyulingan yang selalu beroperasi saat jam kerjanya. Bentuk alat penyulingannya sederhana. Hanya berupa drum besi tempat menyimpan ciu yang diletakan di atas tungku api. Kemudian di bagian atas drum terdapat pipa yang akan mengalirkan alkohol ke pendingin jika sudah mencapai titik didih.

Etanol yang sudah mendidih akan melewati pipa dari atas ke bawah dengan bentuk spiral yang mengelilingi drum berisi air. Air yang terdapat di dalam drum itu berfungsi sebagai penurun suhu etanol yang menguap karena proses distilasi. Setelah melewati pendingin, etanol akan menetes sedikit demi sedikit.

Alat penyulingan itu berfungsi untuk meingkatkan kadar alkohol dalam ciu dengan metode distilasi dan mengubah ciu menjadi etanol. Ciu yang dipanaskan akan memisahkan alkohol dan air. Sehingga kadar alkoholnya akan meningkat. Setelah disuling, alkohol mengandung  80-90 persen dari semula 25-30-an persen. Kadar alkohol yang tinggi itu digunakan untuk keperluan medis dan tidak bisa dikonsumsi. Alkohol inilah yang kelak dipasarkan ke berbagai tempat.

***

Meski sudah diarahkan untuk memproduksi alkohol medis, nyatanya ciu Bekonang masih banyak diperjual-belikan. Beberapa pengrajin di Bekonang mengatakan begitu. Hal ini tidak terlepas dari peran paguyuban. Tidak jarang dalam mengolah ciu menjadi etanol, pengrajin dihadapkan pada masalah pembayaran berkala. Hal ini dirasa cukup memberatkan mengingat semakin menumpuknya kebutuhan penunjang hidup.

Meski paguyuban selalu mengingatkan agar pengrajin tidak menjual ciu, nyatanya regulasi harus dilanggar demi keberlangsungan hidup. Beberapa di antara pengrajin alkohol hanya memiliki satu profesi. Jika alkohol (etanol) belum mendapatkan pembeli dan di saat yang bersamaan ia memiliki calon pembeli ciu, apakah harus menolak orang yang ingin membeli ciu dan memikirkan lagi bagaimana mendapatkan uang?

VIAAldino Prayoga & Julian Rinaldi
SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY