SHARE
Tempat pengolahan alkohol.

“Hidup ini memang keras, apa salahnya ku jual miras? Anggur, vodka, Arak beras dijamin murni tanpa potas..”

Penggalan lirik tersebut merupakan lirik dari lagu yang berjudul ‘Sang Juragan’ dari Silampukau. Band folk balada asal Surabaya ini menggunakan sudut pandang penjual miras di lagu tersebut. Lagu ini sendiri terdapat di album Dosa, Kota, dan Kenangan yang dirilis pada 2015 silam. Dalam lagu ini, digambarkan bagaimana nasib menjadi seorang penjual miras, terutama penjual miras yang mungkin hanya berpetak 3×3 meter saja. Lagu ini menjadi sentilan yang cocok dari Silampukau untuk kebijakan pelarangan penjualan bir di mini market yang disahkan pada tahun yang sama oleh Menteri Perdagangan yang saat itu masih di jabat oleh Rachmat Gobel.

Dari pelarangan tersebut pemerintah hendak mempersempit ruang gerak peredaran minuman beralkohol (minol), untuk mengendalikan minol di lingkungan paling dekat pada anak-anak remaja. Namun sebuah laporan dari lembaga riset independen Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) mengatakan lain dari peraturan tersebut. Temuan CIPS dalam risetnya mengatakan bahwa dengan membatasi penjualan bir, beberapa penikmat alkohol justru beralih mengkonsumsi minuman alkohol yang lebih berbahaya dan tak teregulasi. Minuman itu dijajakan di berbagai pasar gelap, lalu dicampur bahan kimia lainnya atau yang lebih dikenal sebagai miras oplosan.

Peraturan yang dimaksudkan adalah peraturan Permendag Nomor 6 Tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol, minimarket dilarang menjual minol golongan A seperti bir. Untuk pengklasifikasiannya sendiri, minol dibagi menjadi tiga golongan: A (alkohol sampai 5%), B (alkohol 5-20%), dan C (alkohol 20-55%). Kemudian, akhir-akhir ini wacana untuk mengesahkan Rancangan Undang-undang Minuman Beralkohol (RUU Minol) kembali menguat menyusul banyaknya korban tewas di Jagakarsa, Depok, dan Cicalengka akibat menenggak miras oplosan.

“Miras oplosan itu banyaknya menggunakan alkohol jenis methanol, yang membedakan etanol dan methanol terletak pada harga. Jadi harga itulah yang mendorong orang-orang membuat minuman oplosan agar dapat untung banyak, namun itu keliru. Methanol itu terbuat dari hasil bumi dan itu hanya diperuntukan untuk bahan bakar jadi kalo diminum bisa membahayakan”, ujar Sabariono Ketua Paguyuban Pengrajin Ciu Bekonang.

Temuan lain berasal dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU DKI. Lakpesdam PWNU DKI melakukan penelitian kepada 327 responden dengan usia antara 12 hingga 21 tahun di Jakarta periode Februari hingga Maret 2017. Dalam laporannya, Lakpesdam menemukan bahwa 23 persen dari responden mengkonsumsi miras oplosan. Alasan yang melatarbelakanginya adalah karena miras oplosan mudah didapat dan harganya murah.

Terkait dengan RUU Minol, pemerintah mencoba untuk benar-benar menghilangkan budaya mengkonsumsi minuman keras bahkan yang terdapat pada sejumlah suku adat di Indonesia. Dalam draft RUU yang dikutip dari dpr.go.id, pada pasal 5 secara tegas melarang semua jenis minuman yang mengandung alkohol.

“Setiap orang dilarang memproduksi Minuman Beralkohol golongan A, golongan B, golongan C, Minuman Beralkohol tradisional, dan Minuman Beralkohol campuran atau racikan.”

Jika menelisik lebih jauh lagi mengenai budaya konsumsi miras di Indonesia, hal tersebut sudah tercatat pada abad ke-15. Berdasarkan laporan South China Morning Post (www.scmp.com) dalam sebuah laporan berjudul Indonesia’s Local Spirits: Alcohol History and Geography in the World Largest Muslim Nation, dikatakan bahwa perilaku minum minuman keras di Indonesia tercatat pada abad ke-15 berdasarkan buku Yingya Shenglan yang ditulisa oleh Ma Huan. Buku tersebut berisikan tentang perjalanan Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15 yang berlabuh di Pulau Jawa. Saat itu, ia melihat warga lokal yang sedang mabuk karena meminum air olahan yang didapat dari pohon aren.

Menurut Muhammad Shodri, Ketua Lakpesdam PWNU DKI – dilansir dari Tirto.id berjudul Dilema Larangan Minol dan Korban-korban Miras Oplosan, mengatakan bahwa wacana pembahasan RUU Minol di DPR, harus terlebih dahulu dikaji lebih jernih dengan melihat banyak aspek mulai dari budaya, ekonomi, hingga pariwisata, secara komprehensif. “Konsumsi minuman beralkohol dan mengkonsumsi hal-hal yang memabukkan dalam Islam memang hukumnya haram, namun hal itu seharusnya tidak lantas membuat negara menetapkan peraturan yang kemudian justru menimbulkan masalah baru”, lanjut Shodri yang dikutip dari Tirto.id.

Kembali kepada lagu Silampukau yang berjudul ‘Sang Juragan’, lirik penutup dari lagu tersebut berbunyi “Hidup ini tambah keras, semenjak naiknya harga miras. Anggur, vodka, arak beras, lebih hemat campur potas…” 

VIAAldino Prayoga & Julian Rinaldi
SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY