SHARE
Tempat pengolahan alkohol.
Tempat pengolahan alkohol.

Aldino Prayoga & Julian Rinaldi

I drink champagne when I win, to celebrate. And I drink champagne when I lose, to console myself,”

kata pemimpin perang dan penakluk Eropa asal Perancis, Napoleon Bonaparte. Ia satu dari sedikit tokoh militer yang termasyhur. Ia memimpin pasukan Perancis dalam perang besar yang umum disebut Perang Perancis Raya yang berlangsung pada 1792-1815. Kutipan di atas mengindikasikan bahwa Napoleon selalu meminum sampanye kala memenangkan sebuah perang. Pun meminumnya sebagai pelipur lara kala ia kalah perang.

Jauh sebelum Napoleon Bonaparte lahir, peradaban manusia sudah mengenal ragam macam minuman beralkohol. Minuman tersebut didapat dari hasil fermentasi bermacam bahan makanan yang mengandung gula. Di China, keberadaan minuman beralkohol dapat ditelusuri dengan membaca dokumen sejarahnya di setiap masa kejayaan sebuah dinasti. Pelbagai sumber mengatakan keberadaan minuman beralkohol di China sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Bahkan pada tahun 7000 sebelum masehi. Mereka meyakini pada masa itu sudah ditemukannya cara membuat minuman beralkohol.

“China sudah mengenal fermentasi minuman dari nira dan dari padi,” kata Nurseto, antropolog Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Padjadjaran (Unpad).

Dari China, jauh ke arah Barat adalah Mesir. Di sana, fermentasi minuman diperkirakan sudah ada sejak mereka mampu menanam dan bertani. Pertanian sudah dilakukan pada zaman prasejarah. Terhitung sejak fase batu muda atau neolitikum yang diperkirakan terjadi sekitar 10 ribu tahun lalu. Diketahui peradaban kuno di Mesir adalah satu dari yang tertua di dunia.

“Mulai dari Mesir bisa menanam agrikultur. Sebenarnya ketidaksengajaan. Ketika mereka memasak bubur gandum dan didiamkan semalaman karena tidak habis. Besoknya dimakan, ternyata rasanya berubah dan mereka merasakan sensasi yang lain dengan itu (memabukan),” tutur Nurseto saat ditemui di perpustakaan Prodi Antropologi Fisip Unpad.

Dari Mesir kembali ke arah timur. Sebelah barat daya China, terdapat India. Di sana fermentasi minuman sudah ada sejak 3500-2500 tahun sebelum masehi. Mereka menggunakan nira dan padi. Barulah kemudian bangsa-bangsa di Eropa menggunakan apel dan buah-buahan lainnya sebagai bahan baku fermentasi.

Fermentasi minuman yang kelak menjadi minuman beralkohol tidak bisa lepas dari sejarah panjang peradaban manusia dalam mengolah bahan pangan. Keduanya berjalan beriringan dan berdampingan. Nurseto menjelaskan, di seluruh dunia, di tiap penjurunya, hanya terdapat tiga struktur makanan (termasuk minuman): dimakan mentah, dimasak (rebus atau bakar), dan fermentasi.

***

Perkembangan teknik pengolahan minuman beralkohol dalam sebuah peradaban berbanding lurus dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika di masa lampau minuman beralkohol didapat dari proses fermentasi, maka pada abad ke-15, metode distilasi mulai banyak digunakan. Tidak jelas siapa yang menemukan metode ini, yang pasti orang yang pertama menulis soal bagaimana cara mendistilasi alkohol adalah Albertus Magnus yang hidup pada 1200-1280. Metode ini dapat memisahkan dua atau lebih cairan yang memiliki titik didih berbeda. Sehingga alkohol dapat dipisahkan dengan air dan menghasilkan kadar alkohol yang lebih besar ketimbang sebelumnya.

Pada abad ke-15, proses distilasi banyak dilakukan oleh tabib-tabib dan juga ilmuan dalam penelitian atau risetnya soal alkohol dan cairan. Pada abad selanjutnya, proses distilasi banyak digunakan untuk keperluan medis dan juga minuman. Tergantung berapa kandungan alkohol yang dibutuhkan.

Puncaknya, pada abad ke-17, the triangle trade atau yang dalam bahasa Indonesia berarti perdagangan segitiga, rum – minuman beralkohol yang didistilasi dari tebu –  asal Britania yang telah terdestilasi menjadi salah satu komoditas yang paling penting bagi kegiatan ekonomi pada masa itu.  (dirangkum dari laporan National Geographic berjudul The World in a Glass: Six Drinks That Changed History). Rum asal Irlandia, Britania yang pada abad ke-17 menjadi komoditas penting dalam kegiatan ekonomi lintas negara itu menjadi wiski – minuman alkohol berkadar tinggi – berlisensi pertama dan masih beroperasi hingga kini.

Memasuki abad ke-18, pemerintah Inggris menggalakan untuk produksi gin – minuman keras dari ekstak biji-bijian – yang didistilasi. Tujuannya adalah agar mereka dapat menarik pajak dari setiap produsen dan meningkatkan pendapatannya dari sektor pajak. Di masa-masa setelahnya, metode distilasi banyak digunakan sampai sekarang. Jenis minuman beralkohol di seluruh dunia seperti vodka, rum, gin, wiski, dan tequila dibuat dengan metode distilasi.

***

“Indonesia, suku-suku bangsa kecil seperti di Dayak dan Papua, mereka punya minuman (beralkohol) tradisional. Di Dayak Ngaju mereka punya minuman bernama ‘bram’ atau ‘baram’ yang terbuat dari nira atau pohon lontar,” ujar Nurseto.

Tidak cuma di Kalimantan, minuman beralkohol tradisional tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Perbedaannya terletak pada bahan baku serta cara pengolahaan dan kedudukannya dalam masyarakat. Di tanah Batak, Sumatera Utara, terdapat minuman beralkohol bernama tuak. Minuman beralkohol ini dapat dicari di lapo – rumah makan khas Batak – meski tidak semua menghadirkan tuak dalam daftar menunya. Tuak berbahan dasar nira aren dan kadar alkoholnya sekitar 8 persen.

Dari tuak yang ada di barat Indonesia ke ujung timur Indonesia, Papua. Di sana terdapat minuman beralkohol bernama swansrai. Terbuat dari bakal buah kelapa yang diambil airnya lalu disajikan di dalam batok kelapa yang dibagi dua. Swansrai berkadar alkohol sekitar 30 persen dan memiliki rasa yang kuat. Masyarakat di Papua biasa menjamu tamu kehormatan dengan minuman memabukan ini.

Di Sulawesi Selatan terdapat ballo dan di Pulau Jawa, Banyumas dan Sukoharjo ada ciu. Nyatanya minuman beralkohol tumbuh subur di Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dengan angka 209,1 juta jiwa – dilansir dari Tirto.id berdasarkan riset Paw Research. Eksistensinya sudah ada sejak lama. Jauh sebelum masuknya Islam ke Indonesia. Hal itu terpotret di dalam relief Candi Borobudur yang merupakan peninggalan dari abad ke-9.

Potret Indonesia sebagai bangsa penenggak arak – disadur dari tulisan Alfred yang terbit di majalah Playboy edisi Juni 2006 dengan judul “Generasi Penenggak Arak” – tertulis dalam Yingya Shenglan yang dicatat oleh Ma Huan. Buku itu berisikan tentang perjalanan Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15. Diceritakan, ketika kapal Cheng Ho berlabuh di Pulau Jawa, ia melihat warga lokal yang sedang mabuk karena meminum air olahan yang didapat dari pohon aren, berdasarkan laporan South China Morning Post (www.scmp.com) dalam sebuah laporan berjudul Indonesia’s Local Spirits: Alcohol History and Geography in the World Largest Muslim Nation.

Tulisan 2 :

Ciu: Riwayatmu Kini

Tulisan 3

Jangan Keras-Keras Larang Miras!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY