SHARE

‘Bad news is good news’ merupakan salah satu idiom yang cukup populer di dunia jurnalisme. Namun muncul pertanyaan, apakah selamanya mengekspos berita ‘bad news’ akan menimbulkan iklim yang baik bagi pemberitaan di media massa? Salah satu jenis ‘bad news’ yang memiliki nilai berita yang kuat adalah peristiwa bencana. Nilai-nilai semacam magnitude, luar biasa, human interest hingga aktualitas akan selalu dikejar untuk diberitakan.

Namun aktualitas juga menjadi salah satu permasalahan dalam pemberitaan bencana. Sifatnya yang tidak lekang oleh waktu membuat berbagai media massa berbondong-bondong memberitakannya secara masif. Ketika permasalahan seperti kronologis, jumlah korban hingga proses evakuasi telah diberitakan sementara kejadian masih aktual, media kemudian mengalihkan pemberitaannya pada keluarga korban.

Berita-berita seperti perasaan keluarga korban, firasat yang dirasakan hingga remeh-temeh lain yang mengekploitasi kesedihan. Hal ini kemudian menjadi dilematis. Dari segi pemberitaan, harus diakui berita semacam ini masih laris diminati masyarakat Indonesia yang gemar akan sesuatu yang dramatis. Adanya pasar pada akhirnya memungkinkan bagi media untuk menyebarkan berita-berita dramatis tersebut.

Namun di sisi lain, media justru menyebarkan kengerian, kesedihan hingga membangkitkan rasa traumatis. Padahal media punya kewajiban untuk menyebarkan rasa aman, membangkitkan optimisme hingga memberikan penyuluhan. Pemberitaan yang bersifat memberikan optimisme justru luput dari headline pada media-media di Indonesia.

Menurut Ahmad Arif, jurnalis Kompas cum penulis buku “Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme” mengatakan, media di Indonesia justru melewatkan hal-hal yang lebih substansial dan penting dalam konteks pemberitaan jurnalisme bencana.

“Seharusnya jurnalis tidak hanya memberitakan tentang kejadian bencana tersebut saja. Harus ada pemberitaan pra bencana seperti mitigasi hingga pasca bencana seperti proses pemulihan dan rekonstruksi rumah-rumah terdampak bencana,” ujarnya dalam kuliah umum Komodifikasi Bencana di Media Massa.

Lebih lanjut Arif menambahkan bahwa terdapat pendekatan-pendekatan tertentu yang bisa diterapkan dalam peliputan jurnalisme bencana. Dalam fase pra bencana misalnya, jurnalis bisa memberitakan soal literasi kebencanaan atau tentang mitigasi bencana. Hal ini berguna untuk menyiapkan mental dan meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana yang mungkin datang.

Sementara pada fase pasca bencana, pemberitaan bisa menyoroti soal bagaimana daerah terdampak bangkit dari bencana yang telah menimpanya. Seperti pemulihan dan optimisme dari para korban atau pembangunan kembali bangunan yang lebih tahan dari kemungkinan kerusakan di masa yang akan datang. Bahkan sangat mungkin untuk mendorong pembuat kebijakan menerbitkan peraturan-peraturan yang bisa mengurangi risiko dari dampak bencana di masa datang.

Media di Indonesia bisa berkaca pada media-media di Jepang dalam memberitakan terkait bencana. Media di Jepang tak pernah mengeksploitasi kesedihan dari para keluarga korban terdampak. Bahkan kerusakan yang terjadi pun jarang diberitakan secara masif. Media di sana lebih berfokus dalam menyebarkan semangat dan optimisme bangkit dari keterpurukan. Tak ada potret yang menampilkan mayat atau air mata.

Proses pemutusan rantai yang memblenggu ini memang bukan hal mudah. Baik masyarakat dan media mempunyai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun setidaknya mulai sekarang, media bisa berhenti dalam mengeksploitasi air mata dari para korban atau keluarga korban terdampak bencana.

Meski rating adalah tujuan akhir yang dikejar demi keberlangsungan media, bukan berati hal tersebut bisa menjadi pembenaran bagi media untuk mengeksploitasi perasaan para korban. Tugas media adalah menyebarkan informasi yang berguna tanpa harus menimbulkan duka dan menyakiti rasa kemanusiaan para pembacanya.

SOURCEHikma Dirgantara
SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY